[FF] Belle in the 21st Century (Chapter 9) – Mokpo in Love

belle-9-yoonwon

Belle in the 21st Century – Mokpo in Love

kkezzgw storyline

Main Cast: SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: more than 12~

belle-cast-yoonwon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: General

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm Wattpad

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

Choi Siwon terus merengut kesal sejak tadi, wajahnya semakin keruh bak sungai yang telah terkontaminasi limbah pabrik. Pria itu melirik sinis kearah wanita yang menyebabkan bokongnya harus berada di bus ini sekarang, dan sialnya bahkan ia tak dapat melawan. Ia juga tidak tahu akan dibawa kemana dirinya ini. Wajahnya Anak – anak kecil yang berada di dekatnya menatapanya aneh seolah–olah ia adalah makhluk gunung yang baru saja masuk ke dalam bus tersebut.

Sedangkan Yoona pun melakukan hal yang sama. Sejak tadi ia berusaha keras untuk menahan tawanya yang siap meledak kapanpun setiap melihat wajah tampan Siwon terlihat berlipat – lipat karena kesal, dan perasaan menyesal yang kemarin malam sempat ia rasakan seketika menguap begitu melihat Siwon kini lebih berhati – hati terhadapnya. Terbukti, pria itu tidak banyak protes saat Yoona menariknya menuju halte dan masuk ke dalam bus. Yoona meraih jaket cokelatnya, menutupi wajahnya dengan jaket itu lalu tertidur.

Siwon berdecak sinis melihatnya. “Sial, dia benar – benar tahu cara menyiksaku!” umpat Siwon kesal, mengambil earphone-nya lalu mulai mendengarkan lagu-lagu favoritnya sambil menatap keluar jendela, menyaksikan pergerakan bus itu menuju tempat yang masih menjadi misteri tersendiri untuknya.

Akhirnya, perjalanan yang memakan waktu lebih dari empat jam itu dihabiskan keduanya dengan saling mengunci mulut, menjaga keheningan, menikmati privasi masing – masing, dan saling melirik sinis.

**

“MOKPO?”

Yoona mengangguk acuh mendengar teriakan histeris Siwon, kini keduanya sudah turun dari bus sambil menenteng barang masing – masing. Aroma laut bercampur bau khas rumput begitu menusuk indera penciuman keduanya. Gadis itu tersenyum seraya merentangkan tangannya ke udara, menikmati sentuhan angin yang berhembus meniup surai hitamnya dan membelai halus wajah cantiknya dengan udara sejuk khas pedesaan. Ia benar – benar merindukan kampung halamannya ini.

Siwon menelan salivanya susah payah melihat pemandangan itu. Ia merasakan darahnya berdesir halus melihat Yoona begitu tenang dan bahagia bisa menginjakkan kakiknya disini lagi. Pria itu mendapati perasaan berdebar yang aneh saat memandangi sang istri sekarang.

“Kau menculikku ke Mokpo?” tandas Siwon sinis, berusaha menghalau debaran jantungnya yang bertalu cepat.

Yoona mengerling jengkel kearah Siwon yang masih menatapnya penuh kedengkian, “Anggap saja ini balasan dariku”

Mwoya, memang apa yang kulakukan, huh? Seharusnya aku yang membalasmu karena telah menghajarku semalam, aku!” debat Siwon tidak terima.

Keduanya masih saling berdebat lewat tatapan mata sebelum Yoona kembali membuka mulutnya, “Kau ingat sebelum kita menikah kau memasukanku ke Korean Princess Institute? Saat itu aku bersumpah akan membalasmu dengan ‘cara yang sama’, dan sekarang adalah waktu yang tepat. Terimalah balasan dariku, Choi Siwon!”

Siwon tertawa sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dada seolah perkataan Yoona bukanlah sesuatu yang patut dibesar-besarkan. “Jangan merasa menang dulu, Im Yoona. Aku bisa pulang sendiri detik ini juga kalau kau lupa!” kata Siwon melempar tatapan garangnya.

Namun bukannya merasa kalah, Yoona justru tertawa lepas sebelum memandang Siwon dengan tatapan mengejek. “Kau yakin, Siwon-ya?” dengan santainya Yoona merogoh tas tangannya dan mengeluarkan dua buah benda yang sukses membuat Siwon terbelalak dan menganga tak percaya.

Siwon tampak shock, bahkan jari telunjuknya terangkat menunjuk-nunjuk Yoona penuh kedengkian, “Neo jinjja…sejak kapan mereka bisa berada di tanganmu—“

Yoona tersenyum penuh kemenangan lalu memasukan kembali dompet dan handphone Siwon yang diambilnya dari saku celana Siwon tanpa pria itu sadari, tentu saja teknik ninja yang melakukan segala hal tanpa meninggalkan jejak setitik pun gadis itu kuasai juga.

“Jika kau ingin dompet dan ponselmu kembali, Siwon-ssi,” kata Yoona untuk mengawali semua penyiksaan Siwon, “Jadilah anak yang baik dengan mengikuti perintahku selama beberapa hari ini, arasseo?”  olok Yoona dengan seringai licik sebelum gadis itu mengangkat koper – kopernya dan berjalan mendahului Siwon yang masih tergagap tak tahu harus berbuat apa.

Bahkan Siwon belum menurunkan telunjuknya sama sekali, ia masih tidak menyangka seorang Im Yoona akan menindasnya sekejam ini. Ia ingin melawan, namun mengingat perlakuan Yoona padanya mampu membuat Siwon tak dapat berkutik dan harus memikirkan masak-masak jika ingin menentang gadis itu. “Geu yeoja jinjja—AHHHH AKU BISA GILA!” teriak Siwon sambil menjabak anak rambutnya yang tak berdosa.

Sedangkan Yoona tertawa puas mendengar teriakan putus asa Siwon tanpa menghentikan langkahnya ataupun berbalik badan, gadis itu tetap berjalan lurus tanap berniat mengajak Siwon ikut bersamanya, karena ia yakin pria itu pasti akan mengikutinya cepat atau lambat mengingat ia tidak akan bisa pulang.

Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki pun terdengar dari belakang dan Yoona pun kini dapat mendesah lega mengetahui siapa pemilik langkah kaki itu.

**

Siwon mengamati hanok yang terlihat sudah cukup tua namun tetap terlihat asri ini. Debu maupun sarang laba-laba sudah mulai bersarang disekitar langit – langit hanok, kayu – kayu yang menjadi bahan dasar pembuatan rumah mulai terlihat rapuh, bahkan dibeberapa titik sudah lapuk termakan usia walaupun mereka tetap dapat menjaga kelembapan ruangan dengan baik. Bau rumput dan tanah tercium jelas mengingat tembok pengisi kerangka rumah ini terbuat dari bahan – bahan itu. Namun sejauh ini, hanok yang mereka tempati saat ini masih layak untuk dijadikan sebuah tempat tinggal.

Tempat tidur yang hanya terbuat dari kapuk itu terlihat lusuh dengan sepasang bantal dan guling dengan kondisi yang sama walaupun sudah terlapisi oleh seprai. Siwon memandang gusar kearahnya, belum lagi lemari kayu yang berada di pojok ruangan juga terlihat kotor dan sudah terlalu tua untuk ‘ditempati’ baju – bajunya. Dan disinilah Siwon, memandangi kamar berjendela satu itu dengan tatapan penuh keraguan dan kaku.

“Kuharap kau tidak mengeluarkan protes apapun setelah aku dengan berbaik hati memberikanmu ruangan saranbang seperti ini.”

Saranbang katamu?”

Yoona mendesis jengkel. “Ya! Jangan sia – siakan kebaikanku yang memberimu kamar utama hanok ini, seharusnya kau bersyukur aku membiarkanmu tidur di ruangan ayahku bukan gwangchae!”

Siwon memejamkan matanya seraya menghembuskan nafasnya kasar. Tanpa banyak protes, pria itu melangkahkan kakinya memasuki kamarnya selama beberapa hari ini dengan langkah berat setelah Yoona menghilang. Ia melempar barang – barangnya asal sebelum merebahkan diri diatas kasur itu seraya memejamkan matanya.

“Siapa yang menyuruhmu tidur?”

Suara khas wanita yang begitu ia kenali kini kembali berdengung menganggu ketenangannya. Yoona berdiri di depan pintu bersama dengan sapu ijuk dan sebuah pengki berwarna hitam, memandang Siwon yang tercengang di tempat seakan tahu apa maksud dari ini semua.

Belum sempat Siwon mengeluarkan suara, sapu itu terbang kearah Siwon dengan kecepatan diatas rata – rata. Dan sosok yang menjadi korban dari sapu itu hanya bisa menatap Yoona dengan mata memerah menahan amarah. “Sebenarnya apa maumu?” cerca Siwon tajam.

Namun Yoona masih dengan ekspresi datarnya menatap Siwon penuh sindiran. “Apa kau berharap aku akan membereskan rumah ini sedangkan kau dengan santainya berselancar di alam mimpi? Maldo andwae, cepat bantu aku bersihkan rumah!”

“MWORAGU?!”

**

Suara kicauan burung yang terdengar bersamaan dengan datangnya sinar matahari dari ufuk timur membuat Siwon yang tidur bertelanjang dada terpaksa harus membuka matanya menghadapi kenyataan bumi. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar tidurnya.

Matanya langsung disuguhkan dengan pemandangan sebuah meja kayu kecil yang kini sudah menjadi alas makanan – makanan khas Korea yang menggiurkan. Siwon mencari-cari sosok Yoona dan mendapati gadis itu sedang meramu masakan di sebuah bangku bertubuh rendah. Gadis itu terlihat sibuk meniupi dan sesekali memasukan kayu bakar pada tungku itu. Melihat jumlah tungku, beragam jenis makanan, serta keringat yang membanjiri tubuh istrinya, Siwon menebak gadis ini sudah terjaga sejak subuh dan pemikiran itu membuatnya cukup tersanjung.

Merasa sepasang mata mengamatinya, Yoona pun menoleh ke belakang dan mendapati Siwon sedang mengamati meja makan. Gadis itu tersenyum kecil. “Kau sudah bangun, wangjanim?”

Siwon berdecak sinis mendengar nada sarkasme Yoona. “Bau dan suara tungku itu membuatku terbangun.”

“Ck, bersyukurlah aku tidak membangunkanmu lalu menyuruhmu mencari makanan atau kayu bakar di hutan belakang sana.” Balas Yoona tak kalah sinis sebelum mengangkat sebuah panci besar dari atas tungku dan hendak membawanya ke meja makan.

Siwon mengabaikan ucapan Yoona dan memilih duduk di dekat meja makan, menunggu Yoona menyiapkan dan membawakan makanan untuknya seakan sudah menjadi kebiasaan baru yang menyenangkan bagi Siwon, walau ia enggan mengakuinya. Keduanya terlarut dalam aksi makan mereka yang diselimuti suasana hening dan kaku.

“Kau memasak banyak sekali, apa ini untuk persediaan sampai sore?” tanya Siwon seraya menyeruput sup ayam yang ada di mangkuknya.

“Tentu saja tidak. Aku hanya merasa mungkin kau butuh sedikit banyak energi hari ini.” Jawab Yoona santai.

Siwon mengernyitkan keningnya curiga. “Memang apa yang akan kita lakukan?” tanya Siwon ngeri, terlebih kini Yoona hanya menanggapinya dengan seringai tipis yang justru semakin membuat Siwon curiga sekaligus ngeri.

.

.

Keinginan untuk membuang Yoona ke sumur kini begitu mendominasi pikiran Siwon, tawa wanita itu seakan menjadi api yang semakin membakar jiwa dan raganya. Terlebih teriknya sinar matahari kini semakin membakar kulit putih Siwon yang terpaksa terbakar akibat titah sialan menyebalkan yang diberikan Yoona padanya.

Calon CEO dari Jaekyo Group yang merupakan salah satu perusahaan paling berpengaruh di Korea Selatan kini berdekam di kubangan lumpur sawah di desa ini. Hanya dengan kaus putih lusuh, topi jerami, beberapa penih padi, serta sebuah sabit yang berada di tangannya, Choi Siwon harus rela menjadi salah satu petani dadakan akibat ulah istrinya sendiri.

Berbeda dengan Siwon yang terus menggerutu, Yoona dengan wajah sumringah justru terlihat begitu semangat melakukannya, terbukti sesekali ia bersenandung ria atau bercakap dengan para petani lainnya sepertinya mereka memang sudah saling mengenal baik. Sungguh, Siwon benar-benar muak!

Ya, Choi Siwon! Mengapa kau kejam sekali pada tanaman – tamanan ini?” maki Yoona kesal sebelum merampas beberapa bibit dari tangan Siwon kearahnya dan melakukan itu sendiri.

Aigoo, sepertinya suamimu ini memang tidak terbiasa melakukan ini, Yoona-ah. Lebih baik ia beristirahat disana.” Kata seorang ahjussi yang juga bekerja di sawah ini.

Majayo, ia tampak lelah.” Jawab ahjumma lainnya.

Baru saja Siwon berniat menyetujuinya, namun Yoona sudah mendahuluinya dengan menolak. “Oh, animida, ahjussi. Suamiku justru sangat ingin melakukan ini karena penasaran, hanya saja ia masih belum terbiasa karena itu ia terlihat lelah.”

Siwon membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang Yoona katakan. “M-mwo?

“Ah, begitu rupanya.”

Ahjussi, ahjumma, kalian sepertinya harus beristirahat. Aigoo, bahkan wajahmu sudah pucat, ahjussi” ungkap Yoona yang hanya dijawab tawa singkat keduanya, “Tidak bisa, kalau aku beristirahat, lalu siapa yang akan mengerjakan ini semua?”

Yoona melirik kearah Siwon yang masih sibuk menggerutu, ide jahil pun terlintas dibenaknya. “Suamiku yang akan mengerjakan semuanya ahjussi, tenang saja.”

Mendengar itu, sontak Siwon langsung menoleh kearah Yoona dengan tatapan mengutuk, ia memberikan isyarat melalui matanya namun Yoona pura-pura tidak mengerti. “Kau pasti bersedia melakukannya ‘kan, yeobo?”

Siwon berniat memaki Yoona melalui matanya namun ahjumma dan ahjussi itu menoleh kearahnya dengan tatapan memohon. Oh astaga,  Siwon benar-benar sakit kepala dengan kelakuan istrinya ini.

“Im Yoona, neo—“

Yoona merebut semua bibit yang ada dalam genggaman pasangan suami istri lanjut usia itu lalu memberikannya pada Siwon. “Ah, that’s very kind of you, yeobo. Baiklah, ayo kita istirahat ahjumma, ahjussi.” Kata Yoona seraya menggandeng keduanya menjauhi Siwon yang hanya bisa tercengang di tempatnya berdiri saat ini.

Siwon mengeram dan meremas bibit-bibit padi itu menahan emosi. “IM YOONA!!!”

.

.

 “NEO MICHYEOSSEO?!”

Yoona tetap memasang wajah datar bahkan setelah Siwon meneriakinya dengan keras di tengah peternakan sapi milik seorang kakek tua. “Tidak. Atas dasar apa kau mempertanyakan kewarasanku?”

“K-kau menyuruhku membersihkan kotoran ternak?!” tanya Siwon dengan nada bergetar, terlihat pria ini benar-benar emosi sekarang.

“Memang, lalu apa masalahnya?”

“Kau benar-benar mencari masalah denganku, Im Yoona!”

Yoona melipat kedua tangannya yang dilaipisi sarung tangan karet di depan dada, tatapannya terlihat dingin dan menusuk kearah Siwon. “Bukankah sudah kukatakan padamu sebelumnya kalau ini adalah wujud balas dendamku padamu? Sekarang semua tergantung padamu sendiri, kalau kau tidak melakukannya…jangan berharap kau bisa mendapat makan malam dan masuk ke rumahku!”

Siwon baru saja akan membalas perkataan Yoona, namun suara khas anak-anak kecil menginterupsi perdebatan mereka. “Yoona eonnie!” pekik mereka serempak.

Yoona langsung merubah ekspresi wajahnya dan menghampiri seluruh anak – anak yang memanggil namanya. Yoona menggendong salah satu diantara mereka dengan senyum hangat. “Aigoo, uri Minji-ya, eonnie merindukanmu!”

Gadis kecil itu tersenyum manis dalam gendongan Yoona. “Aku ingin bermain bersama eonnie! Sudah lama sekali kita tidak bermain! Kita semua merindukan eonnie!

“Hmm…mianhae, sepertinya kita tidak bisa bermain hari ini. Eonnie harus membantu ayahmu bekerja—oh, bagaimana kalau Minji membantu eonnie memasukkan buah – buah dari kebun appa ke dalam kardus, eotte?”

Dengan antusias mereka semua  mengangguk lalu berteriak-teriak giran, Minji meronta dalam gendongannya. “Yeay! Ayo eonnie kita kesana, aku ingin melihat jeruk dan apel!”

Gadis itu berbalik dan mendapati Siwon masih menatapnya dengan ekspresi mengerikan khasnya. Namun gadis itu tidak peduli, pria seperti Choi Siwon harus diberi pelajaran. “Cepat urus ternak – ternak milik tuan Kang kalau kau tidak ingin tidur diluar malam ini.”

Eonnie, siapa ahjussi ini?”

“AHJUSSI?!”  pekik Siwon tidak terima

Yoona tertawa mendengar pekikkan histeris Siwon. Sambil menyeringai usil, Yoona berbisik kearah Minji dengan suara yang masih terdengar jelas bagi telinga Siwon. “Ahjussi ini adalah pengurus ternak appa yang baru, sayang!”

Jinjja? Wah, annyeong haseyo ahjussi!” sapa Minji riang sebelum berjalan kearah Siwon dengan langkah kecil diikuti dengan teman-temannya yang lain, “ahjussi, kau terlihat lebih tua kalau dilihat dari dekat.”

M-mworagu??

“Anak-anak, ayo beri ‘salam’ pada Siwon ahjussi seperti biasanya,” ujar Yoona melempar tatapan yang patut dicurigai Siwon.

Sebelum Siwon sempat melakukan tindak pencegahan, tangan – tangan kecil yang digerakan secara bersamaan mendorong Siwon membuat Siwon—yang memang berada pada posisi yang kurang menguntungkan—kehilangan keseimbangan dan terjatuh keatas rumput – rumput makanan para sapi.

Suara tawa anak kecil dan Yoona bersatu memenuhi kandang sapi itu. Yoona benar – benar bahagia melihat Siwon bersungut-sungut dalam tumpukan rumput itu, terlebih sapi – sapi disana mulai semakin mengerumuni pria malang itu. Siwon bersumpah ia dapat merasakan sesuatu yang kenyal, berwarna kecokelatan, dan memiliki bau tidak enak ada di sekujur kausnya ini.

“APA KALIAN INGIN MATI!!!”

Anak – anak itu semakin tertawa melihat kemarahan Siwon, namun meraka kini tertawa sambil berlari kegirangan kearah gudang penyimpanan buah yang sempat dibicarakan Yoona sebelumnya. Yoona berjongkok di depan Siwon, memasang wajah pura – pura prihatin sambil emnggelengkan kepalanya penuh empati. “Kasihan sekali suamiku ini.”

Siwon yang sudah tidak tahan langsung mengambil sejumput rumput dan melemparnya kearah Yoona. “Pergi kau! PERGI!”

Yoona mengangkat bahunya acuh sebelum bangkit berdiri dan memandang Siwon penuh ejekan. “Baiklah kalau begitu, selamat bekerja, Siwon-ya. Hwaiting!”

Siwon memandangi punggung Yoona yang berjalan meninggalkannya dengan mata berkilat penuh emosi dan perasaan itu hanya sanggup ia curahkan dengan menjambak rambutnya sendiri.

**

“Sebenarnya apa maumu!?”

Siwon menumpahkan emosinya tepat ketika mereka sampai di rumah sore harinya. Raut wajah Siwon terlihat siap menerkam Yoona kapan saja. “Aku hanya ingin kau merasakan penderitaan yang kualami saat kau memasukanku ke Korean Princess Institute itu.”

“Tapi setidaknya kau tidak tersiksa dibawah teriknya matahari dan mengerjakan semua pekerjaan yang melelahkan itu!”

“Kau bilang aku tidak tersiksa? Kau salah besar! Aku sangat tersiksa!” balas Yoona tidak terima dengan pandangan Siwon.

Siwon berdecak sinis mendengarnya, “Jadi kau ingin membalas dendam? Keurae, lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan padaku!” tanpa menunggu balasan Yoona, Siwon segera masuk ke dalam kamarnya dengan marah

Sedangkan Yoona sendiri hanya memandangi pintu kamar Siwon dengan perasaan bersalah. Sekalipun ia membiarkan Siwon bekerja seharian tanpa membiarkannya beristirahat, namun hati nurani Yoona tetaplah bekerja disaat – saat seperti ini. Terkadang Yoona menyumpah serapahi dirinya yang terlihat lemah dalam faktor ini.

Namun ia harus teringat akan janjinya pada Tuan Kim untuk mengubah tabiat buruk Siwon yang semakin menjadi – jadi setiap harinya. Setiap teringat akan hal itu, Yoona harus berusaha keras untuk memadamkan hati nurani dan perasaannya sendiri agar semuanya berjalan seperti seharusnya.

Dengan langkah gontai, Yoona masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya malam ini tidak akan ada makan malam untuk keduanya.

**

Esok harinya, Siwon dan Yoona berusaha melupakan kecanggungan diantara mereka yang terjadi karena semalam dan kembali bekerja di sawah milik seorang saudagar kaya di desa itu. Sama seperti sebelumnya, keduanya kembali berkubang di sawah dengan perasaan hati yang berbeda.

Di siang hari, mereka kembali bekerja di tempat tuan Kang dimana Yoona sibuk di dalam gudang penyimpanan buah sedangkan Yoona membantu pekerja lainnya membersihkan kandang ternak tuan Kang. Tidak seperti biasanya, Siwon tidak banyak berkomentar dan hanya mengerjakannya dengan tekun dan hal itu justru membuat Yoona semakin bertanya – tanya.

“Ada apa denganmu hari ini?”

Siwon menoleh sekilas, “Mwoga?

“Kau terlihat begitu penurut dan itu sungguh membuatku ngeri,” aku Yoona tanpa mengindahkan dengusan kesal Siwon. Saat ini keduanya tengah berjalan kaki pulang ke rumah Yoona yang terletak lumayan jauh dari tengah desa, karena itulah keduanya harus pulang lebih cepat dari pekerja lainnya. Kampung halaman Yoona ini terlihat begitu indah dan sejuk, berbeda jauh dengan ibukota Seoul yang tampak padat dan terkontamasi berbagai zat kimia yang bertebaran di udara.

“Aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan di depanmu. Walaupun kau sedang berusaha menyiksaku, aku berusaha keras untuk menikmati ini semua agar kau tahu kau salah dalam menilaiku!”

Kini Yoona yang mendengus jengkel namun ia tidak membalas apapun. Mereka meleati jalan setapak itu dengan keheningan yang menyelimuti keduanya, hanya hembusan angin dan suara jangkrik yang mengiringi perjalanan pulang mereka. Semua terlihat begitu damai sampai seorang anak laki-laki menghampiri keduanya dengan panik.

“Yoona noona, noona!”

“Hyun Gi-ya, waegurae?”

Sambil mengatur nafasnya yang tersenggal, anak itu membuka mulutnya. “Appa butuh bantuan orang untuk mencari ikan di laut. Salah seorang teman appa tidak bisa ikut hari ini karena anaknya sedang sakit. Bisakah noona dan hyung membantu kami?”

Yoona dan Siwon melirik satu sama lain mendengarnya seolah mencari jawaban dari mata masing – masing, sedangkan anak itu terus merengek memohon bantuan keduanya. Yoona menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak mungkin salah seorang dari mereka bisa membantu. “Hyun Gi-ya, keugo—“

“Dimana ayahmu sekarang?”

Yoona kaget mendengar pertanyaan Siwon. Gadis itu menatap Siwon dengan pandangan bertanya. “Choi Siwon—“

“Aku mungkin bisa membantunya, ayo kita kesana sekarang.”

.

.

Dan keduanya pun terpaksa harus menunda keinginan mereka untuk pulang ke rumah. Siwon dan Yoona menapaki pasir dibawah mereka seraya memandangi hamparan laut biru yang terpampang di depan mereka dengan mata berbinar. Tangan anak laki – laki menarik keduanya mendekati bibir pantai untuk menemui beberapa orang nelayan yang sedang sibuk memasukan perlengkapan memancing ke dalam perahu.

“Appa! Appa!”

Seorang pria berusia 40 tahun keatas menoleh sebelum tersenyum ramah menyambut kedatangan Siwon dan Yoona. “Kau Im Yoona bukan?” tanya tuan Song, ayah dari Hyun Gi, menyambut ramah kedatangan mereka, terlebih mengenali salah satu dari mereka.

Yoona tersenyum sopan. “Ne, ahjussi. Oh iya, kudengar anda mencari kami.”

Ekspresi ramah itu berubah menjadi sedikit redup mengingat tujuan pertemuan mereka kali ini. “Ah, keugo…begini, kudengar kau dan suamimu sedang berlibur disini dan denagn sukarela menjadi relawan para pemilik usaha. A-aku sebenarnya ingin memohon bantuan kalian untuk menggantikan salah satu nelayan kami. Musim dingin sebentar lagi datang dan kami membutuhkan banyak persediaan untuk dijual maupun disimpan, karena itu kekurangan satu orang saja dapat mengurangi kemampuan menangkap kami. Karena itu…bisakah kalian membantuku?” mendengarnya Yoona ingin sekali membantu namun terlihat sangat ragu dan Siwon dapat melihat hal itu.

Gadis ini…selalu diliputi rasa ingin membantu orang sekalipun itu membahayakan dirinya sendiri, batin Siwon bersuara.

“Baiklah ahjussi, aku akan membantumu malam ini.”

Sontak Yoona terbelalak kaget mendengarnya, ia memperhatikan Siwon yang terlihat yakin dan mendesah pelan. “Ya, jangan bercanda! Apa kau yakin kau bisa melakukannya?” tanya Yoona hati-hati.

Namun Siwon hanya membalasnya dengan suara datar. “Tentu saja, kau seharusnya tidak pernah meragukan seorang Choi Siwon.”

Perasaan khawatir yang sebelumnya muncul kini menghilang digantikan perasaan ingin membunuh suaminya. Dengan kesal, Yoona merengut jengkel dan mengalihkan pandangannya pada tuan Song yang masih mengharapkan mereka. “Bawa saja suamiku yang menyebalkan ini bersamamu, ahjussi.”

“Astaga, terima kasih Yoona-ah,” kata tuan Song mendesah lega sebelum mengajak Siwon menaiki perahu itu.

Yoona tidak beranjak dari tempatnya dan terus mengamati sang suami dari kejauhan. Mata mereka sempat bertemu selama beberapa detik sebelum Siwon menyeringai jahil dan mengalihkan pandangan mata mereka, perahu berwarna hijau itu mulai berlayar menuju ke tengah lautan diiringi dengan beristirahatnya matahari di ufuk barat.

Tapi Yoona merasakan sesuatu yang tidak enak terhadap Siwon, entah karena apa.

**

Sepertinya Yoona tahu perasaan tidak enak yang sebelumnya sempat ia rasakan karena apa.

Gadis itu sudah setengah tidur saat mendengar pintu rumahnya diketuk dengan kencang dan tergesa-gesa. Yoona pun nyaris pingsan di tempat begitu mendengar kabar tidak mengenakan yang baru saja ia dengar, tanpa pikir panjang gadis itu segera berlari bersama orang-orang yang menginformasikan kabar mengejutkan itu padanya.

Choi Siwon tenggelam bersama Hyun Gi di laut.

Sungguh, Yoona rasanya ingin merutuki dirinya sendiri. Banyak penyesalan yang ia rasakan saat ini? Mengapa saat itu ia tidak mencegah Siwon melakukannya? Mengapa saat itu ia tidak mengatakan hal apapun pada pria itu? Dan yang terpenting…mengapa Yoona sekejam ini membalas perbuatan Siwon beberapa bulan yang lalu, hingga menyebabkan pria itu kini dalam kondisi yang cukup kritis.

 

Adrenalin untuk menguatkan diri menemui Siwon semakin membuat larinya semakin cepat hingga tibalah ia bersama orang-orang yang memanggilnya di bibir pantai, mendapati perahu yang sebelumnya dinaiki Siwon sudah ada disana dengan beberapa nelayan sibuk mengangkat kedua tubuh itu.

Andwae….ANDWAE!” pekik Yoona histeris.

Perhatian mereka teralihkan begitu mendengar teriakan Yoona, langkah kaki gadis itu semakin berjalan mendekati mereka dengan wajah berderai air mata. Namun gadis itu dapat mendesah lega melihat sosok yang dikhawatirkannya sejak tadi sedang terduduk seraya meminum segelas anggur beras untuk mengatasi hipotermia yang mungkin saja dapat menyerangnya.

YA CHOI SIWON!”

Siwon menoleh, melempar senyum kecil seolah menenangkan Yoona yang terlihat kacau saat ini. “Hei, kau terlihat kacau, Nona Im.”

Yoona terisak tak terkendali dan langsung berlari ke dalam pelukan Siwon. Pria itu sempat terkejut selama beberapa detik sebelum tubuhnya kembali relaks dan membalas pelukan istrinya, menenangkan Yoona yang tampak terguncang karena berita mengejutkan itu.

Neo jinjja baboya…ba-bagaimana kau bisa…oh ya Tuhan…kau bisa mati!” cerca Yoona dengan perasaan beragam sambil memukuli dada Siwon pelan.

Choi Siwon hanya terkekeh lemah dan mengetatkan pelukan keduanya, pria itu memberikan instruksi pada nelayan lainnya—yang menatap mereka dengan tatapan menggoda sekaligus iri—pergi. Yoona masih terisak dan Siwon pun tersenyum kecil menyadari betapa khawatirnya Yoona padanya. “Berhentilah menangis, memang kau benar-benar khawatir padaku ya?”

“Tentu saja! Bagaimana jika kau tidak dapat diselamatkan lagi, huh? Kau benar – benar pria paling bodoh, menyebalkan, dan merepotkan di muka bumi!”

Siwon kembali tertawa mendengar Yoona memakinya sambil sesegukan di dadanya. Pria itu hanay mengusap punggung Yoona menenangkan. “Aku tidak mungkin mati karena masih banyak balasan yang harus kau terima karena membuatku terkurung di desa ini, Im Yoona.” Ujar Siwon bercanda namun Yoona tidak menampiknya karena gadis itu masih sibuk menangis.

Akhirnya, Siwon dan Yoona diantar oleh para nelayan ke rumah mereka. Siwon langsung tertidur begitu kepalanya bersentuhan dengan bantal, bersama Yoona yang memutuskan untuk menemani Siwon.

Dan untuk pertama kalinya, pasangan suami istri ini beristirahat di temapt tidur yang sama.

**

Bau sup ayam bercampur ginseng kini menyeruak masuk melalui indera penciuman Siwon. Pria itu ingin bangkit berdiri namun tertahan oleh rasa pening yang menderanya, tubuhnya terasa pegal dan memar di lengannya membuat aktivitasnya terbatasi.

“Kau sudah bangun?”

Siwon mendongak begitu suara wanita itu kembali terdengar. Yoona mengerjap penuh kelegaan sebelum berjalan masuk ke dalam kamar Siwon sambil membawa nampan berisi sup, mangkuk nasi, dan teh yang terlihat masih hangat.

Siwon mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Yoona penuh selidik. “Sejak kapan kau menjadi semanis ini padaku? Kau yakin tidak ada racun yang kau bubuhkan di dalam sup itu?”

Yoona mendengus kesal mendengarnya. Baiklah, Choi Siwon yang sinis, dingin, dan menyebalkan sepertinya sudah kembali, tidak peduli seberapa parah kecelakaan yang ia alami. Namun gadis itu memilih mengabaikan kalimat sarkasme itu lalu membuka tutup mangkuk dengan perlahan.

Mogobwa, aku sudah menambahkan ginseng agar tubuhmu hangat dan nyaman,” kata Yoona pelan sebelum merengut kesal melihat Siwon hanya diam memandangi sup ayam itu, “dan aku bersumpah tidak ada racun di dalamnya jadi makan sekarang!”

Siwon tertawa kecil lalu mengambil sendok menyeruput kuah sup yang terasa menyegarkan itu. Keheningan kembali menyelimuti keduanya dengan Siwon yang sedang menyantap sarapannya sedangkan Yoona yang memilih bungkam dan memperhatikan acara makan Choi Siwon.

“Apa aku setampan itu bahkan saat aku sedang makan?”

Yoona memasang ekspresi yang membuat Siwon tertawa bahagia saat melihatnya. Mungkin menggoda gadis ini akan menjadi kegiatan favoritnya untuk waktu yang lama.

“Ck, lebih baik kau makan makananmu! Geurandae, ke-kenapa kau dan Hyun Gi bisa tenggelam?”

Siwon berdekap kecil sebelum membuka suara. “Angin bertiup kencang saat kami mengangkat jaring yang penuh dengan ikan ke dalam perahu,” ujar Siwon mengawali ceritanya, “Hyun Gi berdiri di pinggir perahu dan aku tepat berada di belakangnya. Karena ikan yang kami angkat cukup berat, Hyun Gi membungkukkan badannya kearah laut dengan kaki tertumpu pada badan perahu. Karena itulah saat gelombang datang ia terjatuh dan tenggelam.”

Yoona meringis kecil mendengarnya, “Lalu kau menolongnya?”

Siwon mengangguk. “Saat itu hanya akulah yang benar – benar menyadari posisi anak itu, karena itulah tanpa berpikir panjang aku langsung terjun ke dalam air. Barulah mereka sadar bahwa aku dan Hyun Gi terombang – ambing di lautan saat aku berteriak meminta pertolongan.”

“Mereka langsung menolongmu, kan?”

“Niat mereka memang begitu, tapi alam berkehendak lain. Gelombang besar datang dari arah selatan sehingga kami terbawa gelombang beberapa meter dari posisi perahu itu, mereka harus berusaha keras untuk menghampiri kami.”

Yoona menghela nafas cemas. Sekalipun Siwon hanya menceritakan kronologi kemarin malam yang terasa seperti mimpi buruk, namun perasaan takut itu tetap menghantui Yoona sampai saat ini. Bagaimana jika Siwon tidak selamat dari kecelakaan itu? Apa yang harus ia katakan pada ayah mertuanya?

Menyadari perubahan ekspresi Yoona, Siwon tersenyum menenangkan dan meraih jemari tangan Yoona, mengelusnya pelan seolah tangan gadis itu adalah sesuatu yang sangat rapuh. “Tidak perlu memikirkan ini lagi, yang terpenting aku selamat dari insiden itu ‘kan?”

Siwon dan Yoona saling melempar senyum sebelum keduanya terlarut dalam pancaran mata masing – masing. Mata cokelat gelap milik Yoona sanggup menghipnotis Siwon, sedangkan mata hitam nan tajam milik Choi Siwon membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya dan darahnya berdesir lembut begitu menyadari tangan Siwon masih mengenggam miliknya. Suasana indah yang diterangi lembutnya pancaran sinar matahari itu terpaksa terhenti begitu keduanya mendengar suara pintu rumah mereka diketuk seseorang.

Sontak Siwon melepaskan genggaman tangannya. Yoona merona malu ditempatnya sedangkan Siwon menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari berdeham singkat. “Kurasa kita kedatangan tamu.”

Yoona membenarkan dengan canggung. “Sepertinya iya, aku akan membukakan pintu.” Pamitnya sebelum bangkit berdiri dan bergegas keluar dari kamar Siwon.

Siwon mengamati punggung yang berjalan menjauhinya dengan perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan lagi selama beberapa tahu belakangan. Pria itu mengerjap lalu menggelengkan kepalanya kencang seolah – olah apapaun yang ia pikirkan sebelumnya merupakan aib terbesar dalam hidupnya.

Mwoya, apa yang kau pikirkan Choi Siwon?!” desisnya membantah perasaan itu segera sebelum kembali menyantap makanannya.

Namun Siwon langsung trersedak kuah sup ayam itu begitu suara pekikan Yoona terdengar begitu kencang, sepertinya gadis itu terdengar sangat bahagia. Siwon mengernyit heran, siapa tamu itu?

**

Yoona tidak menyangka saat tangannya membuka pintu untuk tamu itu, ia merasakan perasaan bahagia yang tak bisa ia jelaskan dengan pasti. Matanya melebar sempurna melihat sosok itu tersenyum jenaka melihat ekspresi Yoona yang tercengang di depannya. “Lama tidak bertemu, putri kodok!”

“L-Lee Sungmin?!” tanya Yoona dengan nada tercekat dan Sungmin hanya tertawa sembari merentangkan tangannya menanti pelukkan Yoona. “Tentu saja, lalu siapa lagi? Kemarilah aku ingin memelukmu!”

“KYAAAAA LEE SUNGMIN!!!” Yoona langsung berlari ke dalam pelukkan Sungmin dengan wajah berseri – seri bahagia begitupun Sungmin yang kini semakin mengetatkan pelukkan mereka. Keduanya tertawa bahagia tanpa menyadari tatapan membunuh yang dilemparkan pria dibelakang mereka. Siwon mengepalkan tangannya marah melihat adegan tak terduga ini.

Ya! Apa yang kalian lakukan!?”

Sontak keduanya segera melepaskan pelukkan mereka, Yoona membulatkan matanya kaget melihat keberadaan Siwon di dekat mereka, namun ekspresi kaget itu berubah menjadi senyuman bahagia. Sungmin mengerjap bingung melihat Siwon sedangkan Siwon semakin mengeram marah. “Im Yoona, jelaskan apa yang terjadi disini!”

Yoona memejamkan matanya usil melihat kilat marah di mata Siwon. Namun gadis itu dengan santainya menggandeng Sungmin mendekati Siwon.

“Siwon-ya, kenalkan ini Sungmin,” kini Yoona beralih menatap Sungmin, “Sungmin-ah, ini Siwon.”

“Lee Sungmin,” sapa Sungmin mengulurkan tangannya pada Siwon santai, sementara Siwon sibuk memperhatikan penampilan Sungmin yang tampak rapi dan gagah. Dengan enggan Siwon membalas uluran tangan itu, “Choi Siwon.” Balasnya datar.

“Bagaimana kau bisa datang kesini?” tanya Yoona penasaran, tanpa mengindahkan tatapan marah Siwon.

“Aku mendapat jatah libur dari kantorku dan aku memutuskan untuk menemui orang tuaku, dan betapa senangnya aku begitu kemarin malam mereka memberitahu kalau kau juga sedang berlibur kesini. Bukankah itu kebetulan yang sangat menarik?”

“Tentu saja! Oh astaga, aku belum sempat mengunjungi orang tuamu, bagaimana kabar mereka?”

“Mereka terlihat baik dan bahagia, seperti biasanya.”

Siwon mendengus sebal melihat kedekatan Yoona dan Sungmin, terlebih pancaran mata mereka jelas menyiratkan bahwa mereka adalah dua pribadi yang sangat dekat. Dan mengingat pelukkan mereka sebelumnya…mari kita sepakat untuk tidak membahasnya.

“Kudengar kau membantu warga desa,”

Yoona mengangguk membenarkan. “Iya, aku bekerja di sawah dan membantu tuan Kang memasukkan buah – buahan yang akan dikirim ke kota. Mungkin kau bisa membantu,”

“Sepertinya itu ide bag—“

“Tidak!” potong Siwon seraya melingkarkan tangannya ke pundak Yoona posesif, seolah menyatakan Yoona adalah miliknya. “Im Yoona hanya akan pergi denganku.”

Yoona dan Sungmin sama – sama tertegun mendengar penuturan Siwon, terlebih kehangatan tubuh pria itu kini menjalar melalui lengannya yang semakin membuat Yoona sulit untuk menutupi kegugupan itu.

“Tidak! Hari ini kau harus istirahat dan jangan banyak bergerak!”

Mwo? Ya, kau bilang kita datang kesini untuk menyiksaku, tapi sekarang kau malah menyuruhku beristirahat? Kau aneh sekali!”

Sungmin tertawa keras mendengarnya sedangkan Yoona tercengang tak percaya dengan apa yang didengarnya, “Mworagu? Bukankah sebelumnya kau mengeluh padaku karena aku terus menyuruhmu bekerja? Kenapa sekarang kau terdengar seperti ingin kusiksa?”

Dalam hati Siwon menyumpah serapahi kebodohannya namun ia berusaha keras menjaga ekspresi mukanya tetap datar. “Aku rasa bekerja di sawah dan membersihkan kandang sialan itu menyenangkan.”

Kembali Sungmin tertawa keras dan Yoona menggeleng sambil menatap Siwon heran. “Kau benar – benar pria aneh. Sudahlah! Pokoknya kau tidak boleh kemana – mana hari ini, istirahat saja, arasseo! Kajja, Sungmin-ah,”

Ya Im Yoona—“

Perkataan Siwon terhenti di ujung tenggorakan saat sosok gadis itu sudah menghilang bersama pria bernama Sungmin itu. Mengepalkan tangannya marah, Siwon masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu. Ia tidak suka melihat kedekatan Yoona dengan pria itu, ia tidak suka membayangkan mereka akan menghabiskan waktu bersama seharian ini, dan ia tidak suka Yoona melihat tidak mempedulikannya lagi, terlebih terlibat kontak fisik dengan pria lain selain dirinya.

Tunggu, sebenarnya mengapa ia peduli dengan hal itu?

**

Seperti dugaan Siwon, Yoona menghabiskan waktu bersama Sungmin dengan canda tawa. Keduanya seakan terlempar ke masa lalu dimana mereka berlari di sepanjang sawah, menanam padi, memberi makan dan membersihkan kandang ternak, membantu memfermentasikan makanan, dan semua hal yang mereka lakukan bersama – sama.

Sampai malang menjelang, Yoona baru diantar Sungmin ke rumahnya, diikuti dengan Siwon yang mengintip dari balik jendela dan menguping diam-diam.

“Terimakasih sudah mengantarku,” ucap Yoona yang hanya dijawab kekehan kecil Lee Sungmin, “Ya, jangan bertingkah seolah kita orang asing, sangat menggelikan.” Kini Yoona-lah yang terkekeh.

“Lain kali kau harus berpakaian lebih desa jika ingin membantuku berkubang di sawah.”

“Ck, aku memang sengaja berpakaian rapi untuk menemui!” jawaban Sungmin kini membuat bola mata Siwon rasanya ingin keluar, sungguh ia ingin sekali memberi pelajaran pada pria ini.

“Ah molla, intinya kau harus mengganti gaya berpakaianmu disini. Oh ya, apa kau besok akan kesini lagi?”

Tidak, tidak, kau tidak boleh pergi bersamanya lagi, batin Siwon berharap.

Sungmin mengangguk, “Tentu saja! Aku akan datang pagi – pagi besok, tentunya jika aku sanggup bangun.”

Siwon mengumpat jengkel sedangkan Yoona tersenyum gembira. “Baiklah, sampai jumpa besok!” Yoona melambai mengantar kepergian Sungmin yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya sebelum masuk ke dalam rumah.

Kkamjjakiya!” Yoona nyaris melompat begitu melihat Siwon tiba – tiba berdiri di depannya tanpa aba – aba dengan mata menyipit seolah menangkap basah tersangka kejahatan.

“Kau baru pulang? Darimana saja kau?” tanya Siwon tanpa berminat menghapus nada sini dalam kalimatnya.

“Tentu saja bekerja seperti biasanya, memang apa lagi?” jawab gadis itu sekenanya lalu berjalan menuju dapur dan melewati Siwon begitu saja.

“Tapi saat bersamaku kau tidak selama ini.” Balas Siwon yang sudha mengikuti Yoona ke dapur.

“Itu sudah pasti. Sebelum mengantarku, kami sempat berkeliling desa dan ternyata dua hari kedepan akan diadakan festival menyambut musim panas.”

“Lalu kenapa kau tidak pernah mengajakku berkeliling desa dan malah memintanya menemanimu melakukan hal itu?!”

Yoona mengerutkan keningnya bingung melihat tingkah Siwon sejak tadi pagi. “Memang kenapa kalau aku mengajaknya?! Kau ini aneh sekali sejak pagi.” gerutu Yoona kesal.

Siwon membuang muka dari Yoona dengan rahang mengeras. “Kuharap kau tidak lupa kalau suamimu masih ada disini.” tanpa berkata apapun lagi, Siwon segera angkat kaki dari dapur disaksikan oleh Yoona yang tercengang mendengar perkataan itu.

Yoona menggelengkan kepalanya tak percaya. Choi Siwon benar – benar pria aneh yang semakin membuatnya merasa bersalah entah karena apa. Tidak ingin berlama – lama berkubang dalam kebingungannya, Yoona memutuskan untuk segera berkutat di dalam dapur, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

.

.

A/N: Tolong baca pengumuman yang saya tulis di A/N setelah chapter ini selesai, terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca lagi^^

.

.

Namun betapa kagetnya Yoona begitu ia masuk membawa makanan dan mendapati tubuh Siwon menggigil tak berdaya diatas tempat tidur, posisi tidur pria itu sudah menggulung seperti janin dalam kandungan dengan keringat bercucuran di sekitar pelipisnya.

“Siwon-ya, neo gwaenchana?”

Siwon langsung mendapati wajah Yoona begitu ia menoleh kearah belakang. Kepala pria itu pening dan ia sudah tidak sanggup melakukan apapun lagi. Yoona berjingkrak panik, “Astaga, tunggu sebentar aku akan mengambilkanmu obat.”

Siwon ingin membantah namun terlambat karena Yoona sudah melesat keluar kamar dengan kecepatan tinggi. Pria itu pun tidak sanggup membantah saat Yoona memaksanya duduk dan menelan obat.

Ya, ayo minum obatnya!” desak Yoona terus menerus.

Siwon menggeleng pelan. “Ti-tidak, aku tidak terbiasa meminum obat.”

Dengan kejengkelan tinggi, Yoona membuka mulut Siwon secara paksa dan memasukan obat itu, gadis itu juga memaksa Siwon menelannya dengan segelas air yang ia bawa. Dalam kondisi ini, Siwon hanya bisa mengutuk Yoona dalam hati tanpa perlawanan fisik berlebihan.

“Apa kau tidak meminum teh ginseng yang kusiapkan di dapur?”

Siwon menggeleng. “Aku tidur seharian penuh kemarin, satu – satunya alasan aku bangun semalam adalah karena mendengar suaramu dari luar.”

Yoona berusaha keras untuk tidak tersenyum mendengarnya, gadis itu segera mengalihkan pandagannya dengan pipi merona malu. Berusaha keras untuk memendam perasaan bahagia yang membuncah di dada, Yoona memilih membantu Siwon kembali ke posisinya semula. Namun ketika gadis itu akan beranjak pergi, jemari Siwon menahan pergerakan gadis itu dengan tegas. “Tetaplah disini,” ujar Siwon.

Yoona mengerjapkan matanya dengan gugup. “A-aku ha-harus membereskan—“

“Kumohon, malam ini saja…” desahnya dengan mata tertutup rapat, membiarkan Yoona memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan. Dengan penuh keraguan dan sambil menormalkan detak jantungnya, Yoona pun memutuskan untuk menemani Siwon. Ia menjaga pria itu semalaman.

Sepertinya ia tahu mengapa Siwon memohon padanya untuk menemaninya malam ini. Pria itu terus mengiggau memanggil ibunya serta nama seseorang yang Yoona tidak dapat tangkap dengan jelas. Gadis itu dengan tekun meletakkan handuk basah keatas kening Siwon, memijat pelipis pria itu agar tertidur lebih lelap lagi.

Dalam keheningan malam, Yoona mengamati wajah suaminya yang terlihat jauh lebih tampan dan damai saat pria itu tertidur. Gadis itu tersenyum kecil sebelum kegelapan mendatanginya, rasa kantuk itu tak dapat ia tahan lagi.

**

Sungmin menghembuskan nafasnya dengan berat saat jemarinya sebelum mengetuk pintu rumah Yoona. Sudah sekian lama ia tidak bertemu dengan gadis itu, Yoona tumbuh menjadi wanita yang cantik dan pribadi yang luar biasa menyenangkan, kehangatan yang dulu sempat menjadi alasannya bertahan melewati badai kehidupoan seolah kembali menyelimti perasaan pria itu.

“Sungmin-ah, wasseyo” sapa Yoona ramah dan membiarkan Sungmin masuk ke dalam rumahnya.

“Bagaimana penampilanku hari ini? Cukup berantakan untuk berkeliling desa?” Yoona hanya tertawa sambil mengangguk mengamati pakaian Sungmin yang tampak lebih sederhana sekarang. “Ya, sepertinya kau mendengarkan nasihatku dengan baik. Apa kau sudah makan?”

Perkataan Sungmin tersendat di ujung lidah begitu melihat Choi Siwon duduk di meja makan dengan mata menatapnya tajam, seolah pria itu dengan senang hati mengganti udang yang berada dalam kekangan sumpitnya menjadi kepalanya.

Sungmin berdeham canggung sebelu melempar senyum kaku. “Annyeong Siwon-ssi,” sapanya yang hanya dijawab anggukan kecil dari Siwon.

Melihat itu, Yoona hanya dapat menghembuskan nafasnya pasrah. “Apa kau mau makan, Sungmin-ah? Menu utama sarapan kali ini udang, bukankah kau suka udang?”

“Sepertinya dia sudah makan, benar ‘kan Sungmin-ssi?”

Nada bicara Siwon terkesan bersahabat, namun sorot matanya sudah siap membunuh siapapun yang berani menyalahkan pernyataannya, karena itu Sungmin memilih mengangguk. “Aku sudah makan.”

Yoona hanya mengangguk acuh sebelum mulai memberi titah pada Siwon—yang harus kembali beristirahat dirumah. “Setelah kau makan, jangan lupa bereskan meja makan ini. Lalu jangan lupa meminum obat penurun demam yang kuletakan di nakas kamarmu. Oh iya, obat itu diminum setelah makan jadi aku juga sudah menyiapkan bubur labu disana, jika kau ingin minum aku juga sudah menyiapkannya di dalam termos—“

Yoona terus mengoceh tanpa henti sembari mencuci perabot masak yang ia gunakan sementara kedua pria di ruang makan hanya saling melempar tatapan sinis, mengamati satu sama lain, berusaha menebak sebenarnya siapa mereka bagi seorang Im Yoona.

Yoona mengerutkan keningnya begitu ia melihat pemandangan aneh itu, gadis itu mengetuk meja berkali – kali sampai mereka berdua sadar dari ‘perang’ mereka. “Ya, kalian ini kenapa?”

Siwon membuang nafasnya kasar sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan hati dongkol, tanpa peduli raut wajah istrinya yang siap memarahinya karena ia tidak melakukan apa yang ia katakan sebelumnya. “Ya Choi Siwon, bukankah aku sudah bilang untuk membereskan meja makan ini! Ya neo—Aish, dasar pria aneh!”

Ketika Yoona sibuk membereskan meja makan sambil mendumal, Sungmin justru merenung diam di tempatnya berusaha membaca situasi hubungan diantara Yoona dan Siwon yang sebenarnya.

“Sebenarnya siapa pria itu, Yoona-ah?”

Pergerakan Yoona terhenti begitu saja, raut wajahnya berubah kaku dan sontak hal itu membuat Sungmin semakin penasaran. Pandangan pria itu menatap Yoona tegas, sedangkan yang ditatap hanya sanggup menghembuskan nafasnya pelan sebelum bersuara. “Dia suamiku.”

“MWORAGU?”

.

.

“Kenapa kau tidak bilang kalau dia suamimu?”

Yoona memberikan senyum penuh maaf kearah Sungmin yang terlihat gusar di tempatnya. Kini mereka sedang sibuk memfermentasikan kacang kedelai di gudang milik seorang saudagar kaya setelah berlelah – lelah ria di kubangan sawah beberapa jam yang lalu. Mereka terlalu sibuk menanam padi, sehingga Sungmin tidak sempat protes sebelumnya.

“Kupikir itu tidak penting.”

“Tidak penting katamu?!” Sungmin sungguh ingin meneriaki Yoona sekarang juga, namun melihat pekerja lainnya terlihat serius ia mengurungkan niatnya, “Kau tahu jika mata suamimu bisa digunakan untuk membunuh, kurasa saat ini aku tidak akan bisa berbicara denganmu lagi untuk selamanya,”

Yoona tertawa canggung mendengarnya. “Jangan salah paham, pernikahan kami…bukan pernikahan seperti yang kau bayangkan.”

Kepanikan di wajah Sungmin langsung surut digantikan kerutan di keningnya, ia menangkap apa maksud Yoona. “Aku tidak tahu masih ada aksi perjodohan di zaman modern seperti ini.”

“Sebenarnya—omo, kau tidak kenal Choi Siwon?”

Kini Sungmin semakin terlihat kebingungan, “Apa aku perlu mengenalnya? Aku tidak pernah melihatnya muncul di TV, dia bukan artis kan?”

“Oh aku lega ternyata tidak semua orang mengenalnya. Berita tentang pernikahan pewaris Jaekyo Group…kau pasti tahu, ‘kan?”

Sungmin mengangguk sambil melempar tatapan ‘tentu-saja-aku-tahu-apa-kau-gila’. “Tentu saja, kau pasti bercanda! Pernikahan itu menjadi topik hangat dimana – mana, terlebih Jaekyo Group adalah salah satu perusahaan paling berpengaruh di Ko—tunggu, jangan bilang dia… pewaris Jaekyo Group? Suamimu pewaris Jaekyo Group?”

Yoona langsung menutup mulut besar Sungmin dengan sebelah telapak tangannya, tak peduli jika bau fermentasi kacang kedelai yang menempel di tangannya sungguh membunuh. “Kecilkan suaramu!”

“Hei, kau sungguh hebat! Bagaimana kau bisa berakhir dengannya?”

“Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya padamu tapi tidak disini, tidak sekarang.”

Sungmin memperhatikan Yoona dengan intens sebelum membuka suara. “Kau mencintainya ‘kan?”

Pergerakan tangan Yoona langsung terhenti begitu saja, ia memilih menundukan wajahnya tanpa berminat untuk membalas tatapan Sungmin—walaupun hal itu justru semakin membenarkan perkataan Sungmin sebelumnya.

Pria itu tersenyum geli. “Kau mencintainya,” itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan, “semuanya terlihat dari gerak – gerikmu.”

Yoona tersenyum ragu. “Entahlah, tapi yang aku tahu aku sudah terjebak dalam one-sided love, itu saja.”

Keduanya pun kembali fokus pada pekerjaan mereka sebelum Sungmin tanpa sadar tersenyum penuh kemenangan saat otak encernya mendapat pencerahan, entah karena apa.

**

Yoona memutuskan untuk mencari kayu bakar sendirian karena ia tidak mau merepotkan Sungmin, sebenarnya salah satu hal yang akan ia lakukan pada Choi Siwon adalah mencari kayu bakar jika pria itu tidak sakit. Langit sudah hitam sepenuhnya begitu Yoona sampai di rumah dengan wajah letih. Gadis itu memilih duduk di daechong seraya meluruskan kakinya yang terasa sakit dan sedikit memar terkena semak berduri, sesekali ia meringis sakit saat menggerakan kakinya yang terasa kaku.

“Dari mana saja kau?”

Yoona terlonjak kaget dan reflek menoleh hanya untuk mendapati Siwon mengamatinya dengan ekspresi datar dari balik pintu. “Kupikir kau diterkam hewan buas atau semacamnya. Well, mungkin aku harus berterimakasih pada hewan itu suatu saat,”

Yoona mendengus singkat mendengarnya sebelum mengambil kayu – kayu itu dan membawanya masuk tanpa menoleh kearah Siwon sama sekali. Ia bergegas menuju dapur, meletakan kayu – kayu itu dan mulai memasak setelah mencuci tangannya. Berbeda dengan Yoona yang masih terlihat lusuh, Siwon sudah terlihat bersih dan segar, sepertinya demam yang selama dua hari mengikatnya kini sudah menghilang.

Senyuman tipis terulas di wajah tampannya jika teringat betapa lembutnya gadis itu merawatnya saat ia sakit, sangat berbeda dengan Im Yoona yang biasanya ia temui. “Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri mencari kayu bakar sendirian, kau bisa menyuruhku. Bukankah aku disini untuk dihukum?”

Yoona terkekeh pelan mendengarnya. “Aku tidak mungkin sekejam itu menyuruhmu pergi mencari kayu bakar sementara kau sedang berjuang untuk hidup.”

Ya! Aku tidak sekarat, aku hanya demam. Dan sepertinya aku sudah sembuh, aku siap menerima hukuman lainnya darimu, Nona Im.”

Yoona kembali terkekeh namun segera membantah perkataan suaminya. “Kau harus banyak istirahat, tubuhmu masih dalam fase penyembuhan, tidak boleh terlalu lelah. Tidak usah memaksakan diri, masih ada Sungmin yang membantuku.”

Rahang Siwon kembali mengeras mendengar nama pria itu. Ia heran mengapa kini nama ‘Lee Sungmin’ menjadi salah satu nama yang ia ingin hapus dari muka bumi, “Jangan berlebihan, aku bosan seharian menonton TV dengan layar yang sudah tak tertolong. Kau juga tidak perlu meminta bantuan Sungmin lagi, sudah ada aku.”

“Kau yakin ingin membantuku lagi?” tanya Yoona terdengar khawatir, namun melihat ekspresi tegas Siwon, gadis itu tahu pria ini serius. “Tentu saja, kenapa tidak? Lagipula aku rindu dengan Mul, Nam, dan Yeol.”

Mwoya? Siapa mereka?”

Siwon menyeringai penuh makna. “Ketua dari kawanan sapi, ayam, dan babi milik tuan Kang.”

Yoona langsung tertawa kencang mendengarnya. Wajahnya memerah, tangannya sibuk memegangi perutnya yang terasa  sakit mendengar lelucon konyol Siwon. Ia tidak tahu suaminya ini bisa sekonyol ini, “Baboya!

Mwol? Ah aku benar – benar merindukan mereka, apa mereka tidak sadar kalau aku terus memimpikan mereka selama aku sakit?”

Yoona mengatur pernafasannya setelah tertawa tanpa henti sebelum menendang bokong Siwon keluar dari dapur. “Pergi kau! Rasa kimbab ini bisa kacau karena aku sibuk tertawa!”

Dan untuk pertama kalinya, mereka menghabiskan malam bersama dengan canda dan tawa seraya memakan kimbab dengan mata fokus pada tayangan di depan mereka.

**

Siwon sepertinya benar – benar serius untuk memerangi Lee Sungmin.

Pagi ini, pria itu bangun lebih awal dengan ekspresi berseri – seri mengingat berbagai adegan, perdebatan, maupun canda tawa dirinya dengan Yoona. Ia tidak menyangka semalam kecocokannya dengan sang istri terbuka begitu saja.  Beberapa contohnya adalah mereka sama- sama hobi bermain basket,  penggemar film Fast&Furious, dan penggemar musik jazz.  Dilihat dari sisi manapun, Choi Siwon tidak menyangka Im Yoona memiliki ketertarikan yang sama dengannya dalam sisi apapun.

Kini keduanya menikmati sarapan dengan tenang sebelum sosok pria yang sungguh ingin Siwon hanguskan muncul dengan wajah menyebalkannya saat menyapa Siwon. “Annyeong Siwon-ssi.”

Siwon hanya mendengus jengkel sambil memakan makanannya semakin lahap dan cepat.

Mereka sampai di persawahan yang menjadi tempat mereka ‘bermain’ selama beberapa hari ini, semua orang yang melihat Siwon terlihat begitu lega dan mengucapkan terima kasih padanya telah menyelamatkan Hyun Gi beberapa hari yang lalu. Setelah beramah tamah, ketiganya kembali membantu para petani bekerja.

“Yoona-ah, bisa bantu aku mengangkat ini?” ujar seorang ahjumma yang tampak kesusahan membawa sekarung benih padi.

“Ne ahjumma!” dengan semangat Yoona menghampiri wanita itu dan menggantikannya mengangkat karung itu.

Sungmin segera menghampiri Yoona, berusaha menawarkan bantuan pada gadis itu. Siwon memanas begitu melihat bagaimana Sungmin sibuk menarik perhatian Yoona dengan berbagai cara. Pria itu tanpa berpikir panjang langsung menghampiri keduanya seraya melempar tatapan setajam silet pada Sungmin.

“Biar aku saja!” debat Siwon langsung merebut karung – karung itu.

Sungmin menghela nafasnya tak terima dan langsung merebut karung itu dari tangan Siwon. “Aku saja!”

Mata Siwon menatap  Sungmin tak percaya sebelum merebut karung itu lagi. “Aku saja!”

“Aku!” rebut Sungmin lagi.

“Aku!” desis Siwon dan merebut karung itu lagi.

Yoona memijat pelan pelipisnya yang berdenyut sakit karena ulah dua pria dewasa yang bertingkah bak bocah umur lima tahun di depannya ini. Dengan wajah memerah marah, Yoona berteriak. “SHIKORO! Kalian ini kenapa? Biar aku saja, pergi kalian dari hadapanku!”

Dan karung bibit itu berakhir di tangan Yoona yang berjalan kearah para petani yang menatap ketiganya bingung. Sedangkan Siwon dan Sungmin saling melempar tatapan membunuh lalu menyusul Yoona.

Ternyata aksi konyol keduanya tidak berhenti sampai disini saja, hal ini juga terjadi di peternakan tuan Kang. Karena mereka memang sejak kemarin mendapat tugas membersihkan kandang, Siwon dan Sungmin terpaksa berusaha bekerja sama  membersihkan kandang ternak tuan Kang.

Mereka berusaha saling mengabaikan di awal – awal bekerja namun hal itu berakhir ketika mereka sedang membersihkan jerami. Ketika Siwon menyapu kearah kanan, Sungmin menyapu kearah kiri, sehingga mereka bertemu di tengah – tengah kandang yang luas. Menyadari itu ujung sapu keduanya saling bertabrakan, mereka pun kembali melakukan peperangan konyol itu.

“Pergi kau! Aku akan menyapu kearah sana!” desis Siwon marah.

“Lalu menurutmu apa yang sedang kau lakukan? Lebih baik kau yang pergi, karena aku akan menyapu kearah sebaliknya!” balas Sungmin tak mau kalah.

“Ke kanan lebih baik.”

“Menurutku ke kiri.”

Mereka terus menusuk – nusuk ujung sapu mereka sebelum akhirnya mereka saling melempar semua jerami yang sebelumnya akan mereka sapu.

Yoona memutuskan untuk membantu Siwon dan Sungmin karena pekerja di bagian gudang hari ini sudah cukup padat. Namun betapa kagetnya Yoona begitu melihat pemandangan di depannya kini. Mulutnya tercengang tak berdaya dengan apa yang dilakukan dua pria dewasa itu.

Siwon dan Sungmin yang sebelumnya terlihat rapi dan tampan kini tampak menyedihkan dengan pakaian yang terkena lumpur bercampur makanan babi serta jerami yang menempel di sepanjang tubuh mereka. Tangan mereka masih aktif saling menyerang dengan jerami yang sepertinya sudah mereka campurkan dengan lumpur, mereka juga masih sibuk berjuang di dalam tumpukan jerami—tanpa menyadari ekspresi wajah Yoona yang tampak mengerikan dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.

YA CHOI SIWON, LEE SUNGMIN! NEO JUGGOSHIPHO, HUH!?”

.

.

“Besok kalian tidak usah membantuku lagi!”

Siwon dan Sungmin hanya saling melirik sinis sementara Yoona terus memarahi mereka di depan, “Tingkah kalian berdua tidak ada bedanya dengan anak – anak balita, kalian tahu? Aosh, aku benar-benar malu! Sebenarnya kalian ini kenapa? Bertingkah aneh sejak kemarin, kalian memang dua pria aneh dan menyebalkan!”

“Siwon-ssi yang melakukannya dulu, Yoona-ah!”

Mata Siwon terbelalak tak terima. “Mwo? Ya, kau yang mencari permasalahan denganku duluan, bung!”

“Apa kau bercanda? Jangan memutar balikkan fakta!”

“Apa kau ingin kulempari jerami lagi, hah?”

See, Siwon-ssi yang melakukannya pertama sejak awal.”

Neo—“

“DIAM!” pekik Yoona dengan mata melotot tajam kearah keduanya, sontak Siwon dan Sungmin segera menghentikan perdebatan mereka dan membuang wajah.

“Jadi sejak tadi aku memarahi kalian, kalian tetap bersikeras untuk saling menyalahkan satu sama lain? Astaga, aku benar-benar sakit kepala!” marah Yoona sambil memegangi pelipisnya lagi, “Lebih baik kalian diam sepanjang perjalanan, arasseo?! DIAM!”

Keheningan menyelimuti ketiganya hingga Yoona memutuskan untuk menatap sahabatnya lalu tersenyum kearah Sungmin. “Walaupun kau sangat menyebalkan hari ini, tapi terimakasih untuk bantuannya. Pulanglah, sudah ada Siwon yang akan bersamaku sampai di rumah.”

Siwon mengangkat dagunya keatas sambil melirik Sungmin dengan ekor matanya seolah berkata ‘aku-pemenangnya-bung-jadi-lebih-baik-kau-pergi-sekarang-atau-aku-akan-menendang-bokongmu’.

Sungmin yang menyadari tingkah Siwon hanya tersenyum dalam hati lalu memegang bahu Yoona—yang ternyata sangat mempengaruhi Choi Siwon. “Okay, aku mungkin tidak akan besok untuk membantumu. Tapi jangan lupa kalau kita akan ke festival yang sering kita datangi bersama.”

MWO? Festival apa? Sebaiknya kau jelaskan dengan sangat jelas, Sungmin-ssi.”

Menyadari kecemburuan dibalik pertanyaan Siwon, Sungmin menyeringai bangga dan memutuskan untuk membuat pria itu semakin kesal dengannya yang memilih bungkam. “Sampai jumpa besok Yoona-ah!”

Kaki kanan Siwon sudah bergerak maju ketika melihat Sungmin membawa Yoona masuk ke dalam pelukkan pria itu. Nafas Siwon memburu, hatinya terasa terbakar, tangannya terkepal keras melihat Yoona tampak santai dan menikmati pelukkan bermakna-lain-di-mata-Siwon itu.

Sungmin menyeringai penuh kemenangan kearah Siwon lalu pergi dari hadapan mereka. Yoona masih tersenyum kecil sebelum matanya bertemu dengan mata Siwon yang menatapnya nyalang. “Mwol?”

“Kenapa kau membiarkannya memelukmu!?”

“Kenapa tidak?”

Ya, Im Yoona—“

Yoona mengibaskan tangannya di udara tanpa menoleh kearah Siwon. “Sudahlah, aku harus memasak untuk makan malam kita, lebih baik sekarang kita bergegas pulang.”

**

Sesuai dengan apa yang ia katakan, Yoona melarang keras Siwon maupun Sungmin turut membantunya bekerja walaupun Siwon sudah memaksa gadis itu, well ini pertama kalinya Siwon kalah dalam hal bersikeras. Karena itulah, dengan kebosanan yang tak berujung Siwon mulai  mencari aktivitas yang membuat rasa bosan itu hilang dengan mengelilingi hanok yang menjadi tempat tinggal Yoona dulu. Hanok ini memang sudah tua, namun keindahan khas Korea tetap mendominasi setiap sudut ruangan rumah.

Siwon masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan rak buku besar yang dipenuhi buku – buku berbagai ukuran maupun topik di dalamnya. Pria itu baru saja ingin pergi namun ia mengurungkan niatnya begitu melihat foto keluarga Yoona menggantung diatas sebuah rak yang dipenuhi album – album foto. Karena penasaran, ia pun mendekati rak buku itu dan mengambil salah satu album foto berwarna merah darah.

Ekspresinya melembut dengan seulas senyum menghiasi wajah tampannya begitu melihat foto Yoona kecil adalah objek yang pertama kali matanya tangkap ketika membuka album foto itu. Siwon menyeringai tipis lalu memutuskan untuk mengambil dua album lainnya sebelum duduk di salah satu busa yang sudah lapuk disana.

Pada halaman – halaman awal, Siwon menjumpai banyak sekali foto Yoona saat gadis itu masih bayi. Semua foto disana tertata rapi, memotret setiap tumbuh kembang istrinya dengan begitu detail beserta tulisan kecil dibawah setiap foto.

“Langkah pertamaku, yeay~!”

“Appa, jangan rebut biscuitku!”

“Ayo kejar eonnie, Yoona-ah~!”

“’Ma! Ma!’ harusnya eomma, sayang kkk~”

Siwon tersenyum geli melihat pipi tembam Yoona dengan kulit kemerahan khas bayi, mata gadis itu sejak dulu membuat orang merasa jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Semakin jauh Siwon membuka halaman, Yoona semakin besar dan terlihat sangat lucu dan menggemaskan di usia balitanya.

“Aigoo…appa akan membelikanmu permen lagi, uljima~”

“Yoona selalu senang dikelilingi para kelinci kkk~”

“Eomma, mandikan aku lagi!”

“ Yoona kami sangat cantik di perayaan ulang tahunnya yang ke-3!”

“Kim-chi~!”

Hati Siwon terasa sejuk melihat album foto pertama, matanya kini menatap album kedua dan tanpa berpikir dua kali langsung membukanya. Kini Yoona muncul dalam balutan seragam sekolah, sepertinya gadis itu sudah masuk ke tingkat jenjang Sekolah Menengah Pertama. Beberapa foto remaja Yoona yang polos namun terlihat manis terpampang dimana – mana walaupun tidak ada lagi tulisan – tulisan yang menjelaskan suasana. Yoona beberapa kali mengambil gambar untuk dirinya sendiri, dengan pose – pose khas remaja bersama teman – temannya. Rambut gadis itu pendek dan berponi, membuat pipi tembamnya semakin menonjol namun hal itu membuat Siwon tertawa kecil, terlebih sebagai penutupan dirinya disuguhkan foto Yoona dengan seragam kotak – kotak merah hitam menggigit bunga dan tersenyum bahagia kearah kamera.

Kini darah Siwon berdesir lembut begitu sosok Yoona dalam balutan seragam Sekolah Menengah Atas mulai bermunculan. Gadis yang sebelumnya terlihat tembam dan sedikit gempal tumbuh menjadi gadis cantik dengan rambut lurus hitam melewati bahu, kulit putihnya terlihat bersinar lembut dibalik seragam kuning yang membalutnya. Gadis itu juga terlihat lebih segar dengan rambutnya yang kini tak berponi, Yoona cukup sering berpose dengan baju hanbok bersama teman – temannya. Siwon tidak menyangka Yoona bisa secantik ini, atau hanya karena ia memang tidak pernah memperhatikan gadis itu?

Rona bahagia di wajah Siwon meredup begitu melihat foto Yoona dan Sungmin yang terlihat sangat akrab dan bahagia terpampang disana.

“Aish jinjja, mengapa pria itu bahkan muncul disinI?” ujar Siwon jengkel dan langsung menutup album foto itu dengan paksa. Siwon pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.

**

Matahari sudah mulai beranjak pergi ketika Yoona dan Siwon berjalan ke balai desa untuk menghadiri festival yang diadakan di Muju, Provinsi Jeolla Utara. Karena Mokpo berada di Jeolla Selatan, warga desa—termasuk Yoona, Siwon, dan Sungmin—menyewa lima buah bus besar untuk mengangkut seluruh warga desa kesana. Mengingat perjalanan kesana cukup jauh, mereka harus berangkat dari sore agar sampai disana tepat waktu.

Yoona sejak tadi tidak bisa duduk diam, ia gelisah karena belum melihat Sungmin sejak tadi. “Siwon-ya, apa kau lihat Sungmin?”

Dengan acuh, Siwon hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli dan kembali menyibukkan diri dengan bacaan di depannya. Yoona mencibir kesal sebelum bersedekap tak tenang memikirkan sahabatnya itu. Namun naas, bahkan sampai bus itu berjalan meninggalkan desa, ia masih tidak melihat kehadiran Sungmin dimana – mana. Yoona berusaha berpikir positif dan memutuskan untuk tidur.

Rembulan sudah memancarkan sinar keperakannya begitu bus – bus itu sampai di tempat diadakannya Muju Firefly Festival, yaitu festival di mana kunang-kunang bersinar dengan cantiknya menghiasi kegelapan malam.

Yoona masih sibuk mencari – cari sosok Sungmin bahkan ketika semua penumpang bus sudah turun. Siwon mencibir, “Sepertinya ia tidak datang, sudahlah ayo kita menikmati festival ini.” Yoona mendesah kecewa sebelum akhirnya mengikuti Siwon yang sudah berjalan dulu.

Disepanjang jalan, banyak sekali pedagang yang menawarkan berbagai macam barang, penjual jajanan malam, photobooth hanbok, perform para artis yang sengaja diundang untuk mengisi acara, dan anak – anak kecil yang tampak memadati tempat bermain di taman yang disediakan disana, bahkan ada beberapa kendaraan seperti becak memenuhi area festival.

“Kau terlihat sangat gembira, Choi Siwon-ssi,” kata Yoona begitu mendapati wajah Siwon berseri – seri saat melihat sekelilingnya.

Siwon tertawa segan. “Aku tidak pernah pergi ke festival – festival seperti ini. Kukira acara –  acara seperti ini membosankan”

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

Well…karena aku akan pergi sendirian.” Jawab Siwon tanpa ragu.

Sejenak Yoona merasa kasihan pada Siwon, pria ini terlihat begitu kaku dan tak tersentuh, namun sebenarnya ia hanya kesepian karena kehilangan ibu yang sangat ia cintai. Yoona tersenyum lembut sebelum meraih jemari Siwon, ia akan membuat Siwon tersenyum malam ini. “Akan kutunjukkan cara bersenang – senang di sebuah festival, kajja!”

Yoona mengajak Siwon mencoba berbagai macam jajanan pinggir jalan khas Korea, seperti tteobokki, odeng, sundae, dan bbopki.

“Apa ini enak?”

Yoona mendengus pasrah mendengarnya, “Ya! Kau orang Korea tapi bertingkah seperti ini pada tteobokki? Yang benar saja, cepat makan!”

Siwon memejamkan mata menikmati enaknya kue beras itu sebelum mengambil makanan lainnya, kali ini ia mengamati odeng di tangannya. “Apa ini namanya? Oreng? Oneng? Onteng? Oteng—“

“Odeng, Choi Siwon! Kau akan rugi jika tidak memakannya.”

“Hmm…ini enak, oh dan ini…“ Siwon mengerutkan keningnya ragu melihat potongan usus, hati, dan jantung babi berwarna hitam yang dililit dalam lidi ini, “K-kau yakin ini enak? Bentuk dan warnanya membuatku sedikit—“

“Demi Tuhan, cepat dimakan!” balas Yoona kesal dan langsung menjejalkan kue beras pedas khas Korea itu ke dalam mulut Siwon dengan paksa.

“Untuk penutupnya, makan ini,” Yoona menyodorkan permen krispi rapuh yang terbuat oleh larutan gula dan baking soda, “ini bbopki, kau pasti tidak pernah memakannya ‘kan? Cobalah,”

Setelah itu, mereka menghabiskan waktu dengan memainkan beberapa permainan tradisional yang disediakan. Disana ada berbagai pilihan permainan seperti baduk, yut, tuho, dan ddakji. Namun mereka memutuskan bermain tuho—permainan tradisional Korea melempar anak panah atau tongkat ke dalam sebuah tempayan dari jarak jauh.

Siwon dongkol melihat Yoona yang terus menerus meledeknya karena tidak pernah berhasil melawannya. Tujuh dari sepuluh tongkat ditangan Yoona sudah masuk ke dalam tempayan, sedangkan miliknya sejak tadi tidak pernah berhasil. “Ya, Im Yoona! Kau pasti berbuat curang, bermainlah dengan jujur!”

Ya, bilang saja kau tidak bisa melakukannya dan takut melawanku, dasar otak udang!”

Keu yeoja jinjja! Kau menantangku? Ara, ayo kita mulai dari awal dan lihat siapa pemenangnya!”

Yoona mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri. “Keurae, mari kita buktikan siapa yang terbaik!”

Selesai bermain tuho—yang tentu saja dimenangkan oleh Yoona—mereka kini sibuk mengambil gambar disekitar lampion – lampion dengan berbagai bentuk unik, mereka juga mengambil foto dengan hanbok bersama – sama sebelum Yoona menyadari sudah waktunya acara puncak dari Muju Firefly Festival, yaitu munculnya kunang – kunang diatas jembatan.

“Sepertinya acara puncak akan segera dimulai, kalau begitu kita harus membeli jipangyi!”

“Apa itu?”

“Astaga, kau bahkan tidak tahu jipangyi ice cream?”

Dan keduanya pun membeli jipangyi ice cream, atau es krim yang terdapat dalam sebuah roti kering berbentuk tongkat yang berlubang. Siwon terlihat takjub dengan apa yang ia makan ini.

Jembatan yang selalu digunakan untuk memperlihatkan kunang – kunang itu sudah dipadati pengunjung ketika mereka sampai. Tepat saat lampu diseluruh area festival dimatikan, suasana mendadak riuh karena ribuan kunang – kunang yang dinanti mulai bermunculan, menerangi kegelapan malam dengan cahaya kekuningannya yang terlihat begitu cantik. Suara flazz kamera semakin terdengar dengan jelas saat mengabadikan moment indah ini, begitupun Yoona dan Siwon. Mereka mengabadikan kebersamaan mereka dengan senyum lebar.

“Cantik sekali,” desah Siwon penuh kekaguman.

“Selalu, festival ini adalah salah satu festival terbaik yang Korea miliki.”

“Apa kau sering kesini?”

“Aku sudah terlalu sering ke festival ini, tapi ini pertama kalinya aku pergi bersama suamiku.”

Siwon bisa merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar perkataan Yoona. Dengan wajah kaku, Siwon menoleh kearah Yoona yang ternyata sudah menatapnya dengan senyum kecil. Hal itu semakin membuat Siwon bergerak gugup dan pria itu memilih berdeham singkat untuk mengatasinya.

Sedangkan Yoona memilih diam sambil tersenyum miris. Ia menyesal sudah mengatakan kalimat yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan, bagaimanapun hubungan mereka selama beberapa hari ini berjalan baik…dan Yoona ingin menikmatinya sebisa mungkin, tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Karena saat mereka kembali ke Seoul, semua akan kembali seperti semula, seperti seharusnya.

Kini mereka tiba di penghujung festival, yaitu pelepasan lampion – lampion yang sudah diberi penerangan ke langit. Setiap pasangan maupun keluarga akan mendapat satu buah lampion dan spidol untuk menuliskan harapan yang ingin dicapainya.

“Kau dulu saja yang menulis harapanmu,” kata Siwon menyerahkan spidol di tangannya ke tangan Yoona.

“Oh baiklah, berarti kau yang akan membentuk lampion ini.” Jawab Yoona lalu mulai menulis harapan yang selalu menggantung di kepalanya akhir – akhir ini. Gadis itu memukul kepala Siwon cepat begitu pria itu mengintip, “YA! Jangan mengintip punyaku, babo!”

“Ish, bisakah kau berhenti mengeluarkan kekuatan badakmu itu?!”

Kini giliran Yoona yang mendapat omelan dari Siwon ketika gadis itu berusaha mengintip harapan suaminya, Siwon menekan kepala Yoona jauh – jauh sambil berusaha menutupi lampion berisi harapannya. “Jangan mengintip, yeoja aneh!”

“Dasar pelit!”

Setelah itu, Yoona dan Siwon bersama seluruh pengunjung yang telah selesai memegang masing – masing sisi dari lampion itu. Keduanya terlihat santai namun mereka terus berharap bahwa harapan yang mereka tulis benar – benar terkabul.

“Baiklah, para pengunjung sekalian! Sekarang, mari kita lepaskan lampion – lampion itu bersama harapan kita,” Siwon dan Yoona saling menatap dengan senyuman, “hana, dul, set!”

Tepat di hitungan ketiga, ribuan lampion berwarna merah, kuning, dan oranye mengudara di langit malam Jeolla, menerbangkan harapan dan impian mereka ke langit dengan senyum merekah di wajah mereka. Yoona dan Siwon memandang langit bertabur lampion dengan penuh kekaguman, mereka juga berharap harapan mereka akan dikabulkan.

Siwon mengalihkan pandangannya kearah Yoona yang terlihat begitu bahagia dan masih sibuk menikmati acara. Namun ia melihat jemari Yoona sibuk memeluk dirinya sendiri, menghalau angin malam yang sanggup membekukan siapapun. Entah ada dorongan apa,  namun Siwon mendekatkan diri kearah Yoona, melepaskan kancing jaket kulitnya lalu memeluk Yoona dari belakang.

Tubuh Yoona menegang dalam pelukkan hangat Siwon, lidahnya terasa kelu, kupu – kupu di perutnya seakan berterbangan dengan bebas membuat kulit wajahnya kembali merona malu. “S-Siwon-ssi, a-apa yang kau lakukan?”

“Aku tahu kau kedinginan tapi masih ingin menikmati ini semua, karena itulah aku membantumu.”

“A-aku…gomawo,” gumam Yoona dalam hembusan nafasnya, Siwon hanya tersenyum penuh kasih dan meletakan kepalanya diatas kepala Yoona dengan mata terpejam, ia tidak tahu posisi seperti ini dapat membuat hatinya terasa damai.

“Yoona-ah?”

“Ya?” Yoona langsung mengumpat dalam hati, kecepatannya menjawab seakan menunjukkan ia memang menunggu Siwon bicara padanya sejak tadi.

“Terimakasih…sudah menunjukkan dunia yang tak pernah kutemui.”

“E-eo?”

Siwon tanpa sadar mengetatkan pelukannya dengan wajah berseri – seri. “Aku tidak pernah merasa selepas ini sepanjang beberapa tahun terakhir, menikmati dunia di sekelilingku, aku sudah lama tidak merasakannya. Karena itu, aku harus berterimakasih padamu.”

Yoona hanya menunduk malu tanpa mengucapkan apa – apa. Keduanya menikmati festival itu yang ditutup oleh penampilan kembang api di antara lampion – lampion yang berterbangan cantik di angkasa.

**

Malam itu keduanya tidak bisa tidur. Kejadian yang sebelumnya mereka alami berputar seperti potongan film secara terus menerus. Akhirnya, Yoona melangkah masuk ke ruangan baca, berhubung malam ini adalah malam terakhir ia ada di desa ini. Yoona menyeringai melihat tumpukan album foto yang lupa Siwon letakkan sebelumnya lalu membereskan semuanya.

Yoona pun memberanikan diri untuk mengambil album lainnya yang berisi foto keluarganya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya yang terasa berat melihat betapa bahagianya keluarganya dulu, dimana masih ada ibunya yang selalu menghangatkan suasana. Kini, semua kenangan itu terasa begitu mencekiknya dan Yoona pun tidak tahan untuk tidak menangis. Ia berusaha keras untuk mengikhlaskan kepergian sang ibu namun dadanya seakan semakin tertusuk penuh kepedihan.

“Ya, neo waegurae?”

Yoona terlonjak kaget ketika Siwon sudah berdiri di depannya dengan wajah khawatir, “Kenapa kau menangis?”

Yoona hanya menggeleng namun pandangan matanya menuju kearah fotonya dan sang ibu yang sedang tersenyum manis di sawah. Seolah mengerti, Siwon pun menarik Yoona keluar dan membawanya ke ruangan madang di hanok itu. Siwon memeluk tubuh Yoona dengan erat, mengelus punggung dan rambut gadis itu dengan lembut seraya mengucapkan kalimat – kalimat untuk menenangkan.

Mianhae, tangisanku pasti membuatmu terbangun” sesal Yoona begitu tangisnya sudah reda.

“Tidak juga, aku memang tidak bisa tidur malam ini. Memikirkan besok kita akan kembali ke rumah membuatku senang sekaligus sedih,”

Yoona terkekeh pelan mendengarnya tanpa berkomentar. Sejenak keheningan kembali menyelimutinya sampai Siwon membuka suara. “Aku tahu bagaimana rasanya merindukan sosok yang kau cintai, aku pun sangat merindukan ibuku.”

“Kau sudah mendapatkan sosok ibu pengganti, Siwon-ya.”

“Tidak,” Siwon mendesis dengan penuh penekanan, “Dia bukan ibuku, dan tidak akan pernah menjadi ibuku.”

Yoona terdiam melihat ekspresi terluka yang terpancar jelas di wajah Siwon, ia menahan keinginan membelai wajah tampan itu. “Kenapa kau sangat membenci ibu tirimu? Kurasa dia adalah ibu yang baik.”

“Kau tidak mengerti. Wanita itu dan ayahku…mereka tidak pantas disebut manusia lagi setelah apa yang mereka lakukan pada kami, aku membenci keduanya.”

Yoona kembali tercengang mendengar nada suara Siwon yang dengan jelas mengatakan ia begitu membenci Tuan dan Nyonya Choi, dan aura dingin itu pun tak terelakan lagi. Melihat itu, Yoona tahu mereka harus segera mengganti topik, “Tapi walaupun ibuku sudah tiada, aku mendapat sosok ibu dari Sungmin eomma, beliau selalu memperlakukanku dengan baik.”

Siwon berdecak sinis. “Ck, bisakah kau tidak membahas pria itu dengan wajah berbinar? Aku muak melihat wajah jelekmu itu!”

Yoona menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu mendelik marah kearah Siwon. “Siapa yang kau bilang jelek, huh?!”

Neo! Kau adalah wanita terjelek di muka bumi ini!” ungkap Siwon sambil menjulurkan lidahnya keluar penuh ejekkan.

Dengan kesal, Yoona melempar bantal – bantal yang ada di sekitar mereka kearah Siwon yang hanya tertawa mendapat serangan itu. “Kau memang menyebalkan! Sungmin saja selalu memujiku walaupun kami sudah berakhir!”

Yoona mengerjap sadar dengan apa yang ia katakan, reflek kedua tangannya segera menutup multunya rapat – rapat sementara Siwon masih berusaha mencerna kalimat Yoona dengan baik. “Chakkaman, kalian sudah berakhir? Apa kalian pernah…”

Yoona membuang mukanya untuk menghindari tatapan penuh menyelidik Siwon. “Katakan padaku, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Sungmin?”

 

Yoona mengerling kearah Siwon dengan ragu, namun sepertinya tidak ada gunanya menutupi semuanya. “Dia…mantan kekasihku.”

 

MWO? D-dia…mantan kekasihmu?”

Yoona mengangguk dengan enggan tanpa memandang wajah Siwon, di suatu titik ia merasa bersalah menyembunyikan hal ini dari suaminya.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang ini, huh?”

“Kurasa ini bukanlah hal yang penting, memiliki mantan pacar bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.”

“Tapi setidaknya kau bisa menjaga sikap jika berdekatan dengannya! Bagaimana mungkin kau berpelukkan dan melakukan hal-hal berdua dengan mantan pacarmu saat suamimu ada di depanmu!?”

Yoona mengerjap heran, ada apa dengan pria ini? “Neo waegurae? Aku tidak mengerti kenapa kau begitu marah karena masalah yang bahkan tak pernah kupermasalahkan jika kau pelakunya!”

“Maksudmu?”

“Memang kau pernah menceritakan mantan pacar maupun ‘wanitamu’ padaku? Tidak ‘kan? Lalu kenapa kau marah aku tidak menceritakan tentang Sungmin? Aish, dasar pria aneh! Molla, lebih baik aku tidur saja.”

Sambil menggerutu dengan wajah kesal, Yoona bangkit berdiri dan langsung berjalan menuju kamarnya tanpa mengindahkan Siwon yang meneriaki namanya sejak tadi. “Ya…ya..YA! IM YOONA!”

Keu yeoja jinjja…apa aku salah marah karena dai tidak menceritakan apapun padaku? Aish…”

Namun ketika Siwon akan masuk ke kamarnya, ia mendengar ketukan pintu rumahnya. Dengan jengkel sekaligus mengantuk, Siwon pun memutuskan untuk membuka pintu rumah mereka. Namun ia kaget melihat sosok yang membuatnya sangat cemburu—walau ia tidak mau mengakuinya—berdiri tepat di depannya dengan senyum hangat miliknya.

“Mau apa kau kesini? Apa kau tidak tahu ini waktunya untuk tidur?”

Sungmin kembali memasang senyum tak berdosanya, “Aku ingin bicara dengan—“

“Istriku sudah tidur, lebih baik kau pergi!”

Sungmin segera menahan pintu yang akan ditutup Siwon sambil menatap Siwon dengan serius, sontak hal itu membuat Siwon semakin emosi. “Neo mwoya? Lepaskan tanganmu!”

“Tujuanku kesini bukan bertemu dengannya, tapi bertemu denganmu.”

Siwon menghela nafas sebelum membuka pintu rumah itu dengan lebar, dagunya terangkat menerima ‘tantangan’ itu. Keduanya pun keluar dari rumah dan memutuskan untuk membicarakan apapun yang ingi dikatakan Sungmin.

**

Kepulangan Yoona dan Siwon diakhiri dengan kesedihan dari para penduduk desa, mereka berbondong – bondong membawakan keduanya berbagai macam hasil kebun atau laut mereka, terutama tuan Kang dan tuan Song yang sangat berterimakasih pada mereka. Alhasil, rencana mereka pulang di pagi hari pun mundur hingga sore hari.

“SUNGMIN-AH!”

Yoona langsung berlari memeluk Sungmin setelah sejak kemarin ia terus mencari keberadaan sahabatnya ini. “Kenapa kau tidak datang ke festival itu?”

“Tidak, aku membiarkan seseorang menghabiskan waktu dengan pasangannya.”

Mendengar itu, sontak Yoona merona malu dan Sungmin hanya tertawa melihatnya. “Mwoya…”

Sungmin menatap wajah cantik Yoona sekilas sebelum mebawa gadis itu kembali tenggelam dalam pelukkannya, ia membelai kepala Yoona lembut. “Kabari aku jika sudah sampai di Seoul,”

“Eo? Kau tidak pulang sekarang?”

“Tidak, aku masih disini sekitar dua hari lagi.”

Arraseo, sepertinya aku harus segera pergi karena…hmm…Siwon—“

Sungmin menggeleng tegas. “Tidak, dia tidak akan marah kau tenang saja. Kami sudah berdamai.”

Yoona mengangkat sebelah alisnya dengan bingung lalu menatap Siwon yang justru melempar senyum ramah kearah Sungmin. Astaga, sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Kemarin mereka bertengkar, sekarang mereka terlihat sangat bersahabat. Pria.

Siwon memutuskan untuk naik ke bus lebih dulu dan membiarkan Yoona dan Sungmin berbincang sedikit lebih lama lagi. Yoona dan Sungmin kembali berpelukkan, namun ketika Yoona baru mencapai pintu bus, Sungmin kembali menarik tangan gadis itu. “Sungmin—“

“Kau harus bahagia bersamanya, arasseo?”

Pupil mata Yoona bergerak mencari jawaban dari pancaran mata Sungmin yang menyiratkan ketulusan itu, entah apa maksud dari ucapan sahabatnya ini, namun Yoona memilih untuk tersenyum dan merangkul bahunya sayang. “Tentu saja, aku…pasti bahagia.” Jawab Yoona dengan nada tercekat—tanpa menyadari Sungmin menyadarinya.

.

.

A/N: Disarankan untuk memutar lagu Love Song – Sungjae BTOB (Who Are You: School 2015 OST) karena scene ini ada karena lagu ini^^

Sepanjang perjalanan Yoona memusatkan perhatiannya pada pemandangan alam yang terlukis indah dibalik kaca jendela bus ini. Gadis itu merasa senang bisa kembali ke kampung halamannya, setidaknya tinggal disana selama lima hari membuatnya terkenang masa lalu dimana hanya kenangan indah saja yang tergambar. Dan mengingat jika ia mengenangnya bersama Siwon membuat hatinya berdesir penuh kebahagiaan, entah karena apa.

“Kau terlihat sedih sekali meninggalkan tempat ini.”

Yoona menoleh kearah Siwon yang ternyata sudah memandanginya. “Begitulah, terlalu banyak kenangan indah di rumah itu.”

“Apa kenangan kita selama lima hari disana termasuk dalam kenangan indah itu?”

Sontak Yoona terbelalak gugup mendengarnya, begitupun dengan Siwon yang mengerjap tak menyangka ia akan mengatakan kalimat ambigu itu. Keheningan bercampur makna menenangkan jantung yang berdetak lebih cepat kini kembali menyelimuti aura diantara keduanya sebelum Yoona kembali membuka suara. “T-tentu saja…b-bagaimana pun hanya kau satu-satunya orang yang kutarik secara resmi ke rumahku.”

“Woah, jadi bahkan aku mengalahkan mantan pacarmu jika berurusan dengan kenangan di dalam rumah itu, keuji?”

“Ya, kau benar.” Ujarnya seraya tertawa kecil.

Hati Siwon menghangat mendengarnya, sekali lagi gadis itu membuatnya merasakan perasaan bangga dan gembira dengan alasan yang tidak masuk akal. Mendengar dirinya dan Yoona memiliki kenangan yang tidak pernah Yoona alami dengan pria lain membuatnya seakan memenangkan piala berskala International. Ia tidak mau menerka apa maksud dari perasaan ini, namun ia tahu… apapun alasan gadis itu membawanya kesini, kenangan yang ia dapatkan di tempat ini bersama Im Yoona adalah kenangan yang akan ia kenang yang tak akan pernah ia lupakan.

Pria itu meletakkan kepalanya pada salah satu bahu Yoona yang sontak membuat tubuh gadis itu mendadak menegang. Debaran jantung Yoona berdebar kencang dan hatinya berdesir mengirimkan getaran-getaran kecil ke sekujur tubuhnya, menimbulkan kehangatan yang menyenangkan membanjiri seluruh tubuhnya.

“Ah, akhirnya aku mendapat sandaran empuk,”

Dengan gugup Yoona berusaha menyingkirkan kepala Siwon, “Y-ya n-neo m-mwohae? Menyingkirlah!”

Namun begitu Yoona berhasil menyingkirkannya, Siwon justru kembali ke pelabuhan pundak Yoona dan tangannya kini berhasil memeluk pinggang Yoona dengan manja. “Aku ingin tidur.”

“La-lalu mengapa kau tidur di bahuku!?”

“Hmm…” pria itu bergumam pelan saat matanya perlahan mulai menutup. “Bahumu terasa hangat, membuatku merasa nyaman.”

Serambi-serambi kecil dalam hati Yoona kini di terangi oleh cahaya pelangi yang begitu indah. Kupu – kupu berterbangan di dalam perutnya ketika rambut halusnya sesekali menggesek lekukkan leher jenjangnya. Siwon tersenyum kecil sebelum kembali menggumamkan kalimat yang membuat Yoona semakin berdebar. “Aku tidak tahu ternyata tidur dalam posisi seperti ini rasanya  sangat menyenangkan.”

Yoona tidak dapat mencegah dirinya sendiri untuk tidak memikirkan perkataan Hyukjae dua bulan lalu,

“Saat pria itu jatuh cinta, kau tidak akan pernah menduga tingkah manis apa yang akan kau dapat darinya.”

Mata Yoona langsung membulat pebuh penolakkan. Tidak! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Im Yoona? Kau…tidak mungkin berpikir kalau Siwon mulai mencintaimu ‘kan? Aigoo, jangan membuat dirimu semakin merana karena harapan itu, batin Yoona menyuarakan pemikirannya sambil menatap Siwon yang kini sudah tertidur lelap disampingnya.

Tapi mengapa sikap Siwon perlahan semakin berubah padanya? Apa ia sudah berubah menjadi pribadi yang dulu?

Sementara Yoona sibuk memikirkan pergulatan batinnya, Siwon diam-diam tersenyum tipis dan mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya. Ia tidak akan membiarkan pria lain merasakan kehangatan tubuh ini, tidak akan.

.

.

A/N: Tolong baca pengumuman yang saya tulis di A/N setelah chapter ini selesai, terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca lagi^^

.

.

Namun siapa sangka kebahagiaan yang dialami keduanya harus berakhir saat mereka tiba di Seoul?

Namun siapa sangka kebahagiaan yang dialami keduanya harus berakhir saat mereka tiba di rumah?

Dengan kondisi tubuh letih, Siwon benar – benar tidak menyangka Yoona mengangkat telepon dari Sunny. Sedangkan Yoona memilih bungkam, berusaha keras untuk melupakan fakta bahwa Siwon memang tidak mencintainya. Ia hanya terlalu berharap pada pria itu. Ia seharusnya sadar dirinya sangat tidak pantas dicintai oleh pria yang menjadi idaman banyak wanita seperti Choi Siwon.

“Siwon-ah, kau kemana saja selama ini? Aku terus menghubungi ponselmu tapi ponselmu selalu mati.” tanya Sunny.

“Aku pergi dengan istriku dan ponselku…hmm…rusak, ya rusak.” dustanya.

“Oh geurae? Tapi mengapa—“

“Aku lelah Sunny, bisakah kita membicarakannya besok saja?”

Hajiman—“

Tanpa menunggu balasan Sunny, Siwon segera menutup teleponnya. Ia tercenung selama beberapa detik sambil mengamati pintu kamar Yoona yang sudah tertutup rapat, entah kenapa ia merasa bersalah dengan istrinya. Ia ingat ekspresi tercengang Yoona ketika melihat Sunny memeluknya. Sungguh, ia bahkan tidak mengerti mengapa Sunny bisa disini.

Siwon berjalan ke kamarnya sambil mengingat semua perkataan Sungmin kemarin malam, yang dengan jelas mengingatkannya untuk menjaga Yoona.

 

Flashback

 “Sejujurnya, aku melakukan semua itu hanya untuk melihat reaksimu.”

Kening Siwon mengerut samar. “Apa maksudmu?”

Sungmin membuang nafasnya sambil memandangi bintang – bintang yang bersinar diatas sana. “Aku hanya ingin tahu apa kau tertarik dengan Yoona atau tidak setelah gadis itu menceritakan bagaimana kalian bisa terikat dalam sebuah pernikahan. Dan melihat sikapmu padaku, aku bisa bernafas lega.”

“Kenapa kau bisa bernafas lega?”

“Karena setidaknya suaminya…walaupun terlihat membencinya, namun jauh di dalam lubuk hatinya mulai menerima kehadiran Yoona.”

Siwon terbelalak mendengarnya, bagaimana mungkin Sungmin bisa menarik kesimpulan tentang perasaannya pada seorang gadis? “Kau tidak mengenalku,” desis Siwon.

Sungmin hanya terkekeh kecil mendengarnya. “Aku memang tidak mengenalmu, tapi aku masih seorang pria, Choi Siwon-ssi. Dan sebagai seorang pria, aku tahu apa yang seorang pria rasakan terhadap suatu kondisi, misalkan jatuh cinta.”

“A-aku tidak jatuh cinta dengannya.” Tandas Siwon skeptis.

“Well, kalau begitu aku akan kembali menjadikannya milikku.”

Siwon tersenyum sinis. “Wae? Kau ingin mengenang kisah cinta lamamu dengannya?”

“Wow, aku terkejut sekali kau tahu tentang hubungan masa laluku dengannya, Siwon-ssi.”

“Tapi tidak…sekarang ia sudah resmi menjadi istriku, tidak ada pria yang boleh mendekatinya lagi.”

 “Kau tipikal pria yang posesif dan Yoona keras kepala, kalian memang menarik.”

Kini Siwon tidak mengelak melainkan memilih diam dan ikut menatap langit malam. Keheningan yang sempat terjadi selama beberapa detik dipecahkan oleh suara bass Siwon. “Aku tidak bisa menyimpulkan apapun sekarang, tapi…aku akan berusaha membuatnya bahagia, selama ini aku selalu menyusahkan hidupnya dengan semua sikap menyebalkanku. Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya aku ingin kembali seperti dulu…hanya karena kehadirannya.”

Sungmin tersenyum penuh arti. “Kau sudah menyukainya, jangan mengelak lagi.”

“Sudah kubilang aku belum bisa menyimpulkan apapun”

“Baiklah, tapi aku mohon satu hal padamu, Siwon-ssi. Tolong buat Yoona tersenyum setiap harinya, selama ini hidupnya dililit oleh segala beban berat yang membuatnya tak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Jika kau mengenalnya lebih jauh, kau akan menemui pribadi Suzu yang sebenarnya. Bisakah kau berjanji sesama pria padaku untuk menjaga perasaannya?”

“Tentu, kau bisa memegang janji sesama pria ini.”

End of Flashback

Siwon hanya menatap langit – langitnya dengan hati resah. Bahkan belum sampai 24 jam ia sudah melanggar janjinya sendiri, ia sudah melukai Yoona lagi untuk kesekian kalinya. Namun tekadnya saat ini hanya satu…ia akan berusaha membuat Yoona bahagia bersamanya, sama seperti gadis itu membuatnya merasa nyaman hanya berdekatan dengannya. Ia akan menepati janjinya pada Sungmin sebagai sesama pria—yang memiliki perasaan khusus pada Im Yoona.

Pria itu sudah setegah tidur ketika ponselnya kembali berbunyi. Siwon mengeram marah ketika melihat siapapun-orang-yang-meneleponnya dengan tidak sopan menelepon di waktu seganjil ini.

“NUGUYA!?”

“Bujangnim…mianhamnida, saya—“

“OH WAE? Apa kau tahu sekarang jam berapa huh?!”

“Joesonghamnida bujangnim, ta-tapi saya harus segera memberitahu anda tentang ini.”

“Cepat beritahu!”

“Se-sekretaris anda mengundurkan diri secara mendadak tanpa meninggalkan dokumen apapun.”

“MWO? Lalu bagaimana dengan Rapat Umum Pemegang Saham lusa?! A-apa kau sudah mendapat penggantinya?”

“I-itulah alasan saya menghubungi anda sejak beberapa hari yang lalu bujangnim, kami belum mendapat penggantinya…”

Siwon menghela nafasnya kasar lalu memijat pelipisnya sekilas, ia benar – benar tidak tahu apapun dengan perkembangan info kantornya mengingat selama lima hari ponselnya ditahan oleh Yoona, dan berita mengejutkan ini datang di pagi buta seperti sekarang.

Namun beberapa detik setelahnya Siwon tersenyum ketika mendapat sebuah ide yang sangat cemerlang, ia yakin ini jalan terbaik untuknya.

“Kalian tidak perlu khawatir, sepertinya…aku sudah menemukan calon pengganti sementara sekretarisku.”

“Ye, bujangnim? Secepat itu?”

-To Be Continue –

A/N: Mohon dibaca secara keseluruhan.

FF ini bakal aku jadiin cerita di wattpad loh temen, dan tentunya nama cast-nya aku ubah supaya yang non-kpopers pun bisa baca^^ aku rencananya mau bikin versi bahasa inggrisnya,m ohon dukungannya. Yang punya wattpad bisa add aku @kkezzgw. Dan bagi yang mau bertanya soal FF ini bisa hubungi author via ask.fm ya^^

*click the picture*

Such a long chapter, isn’t it? Kkk~ okay jadi gini nih ya, sebenernya ini FF tuh idenya lancar TAPI sialnya draft FF ini tuh ilang semua, padahal draft itu udah kubikin sampe chapter 16 T___T jadi mau gak mau aku harus mengingat2 dulu apa yang udah kutulis disan dan beginilah jadinya;;; semoga kalian suka deh. Dan soal chapter ini kalo emg kepanjangan sorry bgt ya, sebenernya author pengen dibelah 2 tapi kayaknya kurang sesuai dan terlalu mengulur alur jadi bertele-tele banget.  Jadi beginilah jadinya, itung2 panjang hadiah dan permintaan maaf author karena lama bgt keluarnya ya kan?

Scene yg di bus itu terinspirasi dari adegan City Hunter episode 4>< aduh jadi throwback MinMin /galau/ dan untuk suasananya bisa kebangun dalam imajinasi karena lagunya kang Gong Taekwang>< huhuhu #TeamTaebi /plak

Nah, sekarang si Sungmin udah nongol nih, apa masih ada karakter yang belum nongol? WKWKWK ada beberapa yang sadar dan mempertanyakan kapan dia muncul? Ayo tebak siapa>< dia nongolnya masih agak sedikit kurang lebih/? Lama nih, mohon bersabar, karena konflik belum dimulai /alah/

Untuk next chapter berhubung lagi liburan panjang author usahain bisa upload 2 – 3 chapter ya>< makanya doain buku draft author ketemu ya semuanya, kalo buku itu ketemu mah bablas agine hajar terus lol! Ini juga nih penghambat FF WFMH semakin ketunda, karena buku draft itu memuat semua FF-ku T___T

SERIUS BENERAN DEH DOAIN BUKU DRAFT AUTHOR KETEMU WUHAAA AUTHOR GALAU BANGET SUER T_____T KARENA ITU MOHON DOANYA JANGAN MENDESAK TERUS, AUTHORNYA GALAU NIH HIKS T_____T

Oh, Selamat menjalankan ibadah Puasa bagi yang merayakan ya, walaupun aku gak merayakan, tapi mohon maaf sebesar – besarnya kalo ada salah^^ maaf kalo ada kata2 yg gak enak, aku itu orangnya galak dan jutek, kalo kalian baik aku jg baik, tpi kalo kalian aneh2 aku tuh bawaannya bete, jadi intinya mohon maaf aja ya^^

Oke, kayaknya author yang satu ini udah terlalu bawel ye-_- okelah, see you next time! :* bye-bye readersku, terimakasih sudah menyempatkan baca FF abal ini muah!

367 responses to “[FF] Belle in the 21st Century (Chapter 9) – Mokpo in Love

  1. senengnya ada moment romantisnya yoonwon..
    kirain sungmin jadi penghalang yoonwon
    tpi sungmin yg bantu siwon sadar akan prsaannya ke yoong..
    suka bgt deh klo siwon cemburu gitu..
    apalagi yg nyebut nama2 sapi ayam babi
    akhirnya siwon bisa brtingkah aneh juga😀
    tpi waktu tiba di seoul ikut panas juga ada wanita penggodanya..
    cepet putusin sunnynya ya..
    jgn aneh2 lagi kan udah cintanya sma yoona..

    Like

  2. Setelah datangnya Sung min, wonpa mulai nunjukin rasa gak sukanya tuch. Dia cemburu Yoona deket2 sma cowok lain apalagi sahabat+mantannya sendiri. Gak sabar ngelihat moment yoonwon yg lain lagi.
    Semangat ya kezia..^^

    Like

  3. Sumpah, kaya nonton film..
    suka banget ceritanya, makin seru…
    Siwon oppa sama yoona oeni emang the best dehh…

    Like

  4. Part ini bikin seneng banget deh banyak banget momen yoonwon nya hwhehehhhe suka bangetttt 😄😄😄😄 ya aku doain semoga draft nya ketemu ya heheheheh …terus kira” siapa ya yg bakalan jadi skertarisnya siwon hm apa mungkin yoona ??? Next thor ceritanya seru keren banget deh pokonya 😊😄👍👍👍

    Like

  5. Best m0ment buat yo0nwon thor, ceritanya benar2 menarik ke2nya telah merasakan perasaan masing2 meski yo0na masih ragu

    Like

  6. Bagus bgt crita’a part ini,
    Liat moment romantis yoonwon…
    Dan buat author smg sgr ketemu ya draft”a
    Penasaran bgt crita lanjutnya

    Like

  7. haha bagus thor akhirnya ada kecenburuan tak tertahan di hati siwon, yoona jg ga peka kmarahan siwon sih.
    Tpi akhirnya sungmin baik juga mempersatukan mereka.🙂 salut deh.

    Like

  8. awwww ada moment romantisnya yoonwon..
    tapi kayaknya siwon oppa ga suka yah sama sungmin?atau jangan jangan cemburu haha.. tapi sekertarisnya siapa nih? mungkin yoona hehe

    Like

  9. Kyaaa. Siwon cemburu nihhh. Dengan kehadiran sungmin di hadapan yoona😀
    Seneng deh ama moment romantisnnya yoonwon . Walaupun dengan ada debat dan keras kepala yoona😀

    Keren. Keren.keren . Abeeesss thoor😀😀😀

    Like

  10. Ah mereka so sweet bgt berharap setrlah di seoul mereka tetep kayak gitu gak berantem” lagi.. n makin menyadari perasaan masing”..

    Like

  11. Ah suka banget sama chapter ini, part yoonwonya romantis lucu ada berantem2nya. seneng siwon cemburu sama yoona. Tapi author typonya msih ada heheh. Next chapter yah. Fighting keep writing.

    Like

  12. romantis bangetttt….. dri semua part,, paling suka sama part ini… kya,,, siwon cemburu sama sungmin… ngga terpikir klw sungmin itu mantan pcarnya yoona… kkkkkkk

    Like

Give me your LOVE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s