[FF] Belle in the 21st Century [Chapter 11] – My Beauty

belle-11-yoonwon-love

Belle in the 21st Century – My Beauty

kkezzgw storyline

Main Cast: SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: more than 12~

belle-cast-yoonwon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: General

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm Wattpad

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

Birunya Pantai Waikiki terlukis cantik di kaca jendela sebuah kamar President Suit di Hilton Hawaiian Village Resort. Pria itu masih termenung sendirian membiarkan angin sejuk menerpa wajahnya di balkon kamar mewah itu. Matanya masih sibuk menerawang pemandangan di depannya dengan seksama sebelum kembali masuk dan meninggalkan kamar itu segera. Kini ia pergi menuju restoran mewah di hotel itu untuk menemui Tuan Jung Yunho, calon kolega kerjanya—yang sempat ia batalkan—dalam proyek pembangunan kasino di Jepang.

Kali ini ia harus berhasil meraih hati Jung Yunho demi reward yang ia dapatkan saat kakinya menginjak dataran Seoul.

“Kau milikku, Im Yoona.” Janjinya dalam hati sambil tersenyum yakin.

Sudah ada Tuan Choi dan Tuan Jung serta dua pemilik perusahaan besar lainnya disana ketika ia sampai. Siwon mengernyit heran menyadari suasana aneh diantara keduanya sehingga ia memilih berdeham dan barulah mereka sadar keberadaannya. Tuan Jung langsung melempar senyum seramah mungkin sedangkan Tuan Choi hanya menatap putranya datar. Siwon bergerak tak peduli dan duduk di seberang ayahnya.

“Siwon-ssi, urimaneyo.” Sapa Tuan Jung hangat.

Siwon membungkuk hormat lalu melempar senyum formal. “Ye, Tuan Jung.”

Jung Yunho menegakkan duduknya lalu menatap anak dan ayah itu bergantian dengan tatapan jenaka. “Aku merasa tersanjung mendapat telepon dari Jaekyo Group dua hari yang lalu dan mengatakkan kedua orang terpenting di perusahaan ini ingin bertemu denganku. Ada hal baik apa yang kalian ingin diskusikan?”

Ne, kedatangan kami kesini ingin membahas tentang proyek kasino di Jepang yang saat itu sempat kami….tunda.” kata Siwon sedikit ragu menyebutkan permasalahan mereka.

“Tunda?” sontak Tuan Jung langsung tertawa keras penuh ejekkan, “Seingatku anda sendiri yang mengkonfirmasi pembatalan proyek ini, Siwon-ssi.”

Siwon berusaha bersabar dengan melempar senyum pahit. “Tapi setelah kami selidiki lebih lanjut, proyek kasino di Jepang ini akan membuahkan hasil yang melimpah, keuntungan akan semakin meninggi terutama dalam lima tahun berikutnya,” Siwon mulai mengeluarkan beberapa kertas proposal yang sudah ia perbaharui dengan berbagai materi baru yang dapat menarik minat Jung Yunho dan dua pemilik perusahaan lainnya untuk kembali bekerja sama. “Menurut para ahli Jepang adalah salah satu dari pasar permainan yang belum terjamah di dunia. Dengan jarak kedekatan Jepang-China, hal ini dapat membangkitkan US$15 miliar per tahun dari kasino. Karena itulah Jepang berpotensi menjadi tujuan berjudi terbesar kedua setelah Macau dan Las Vegas. Belum lagi Jepang akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020, akan banyak turis yang datang dan perekonomian negara pasti berkembang pesat pada saat itu, dan…..”

Siwon terus menjelaskan sejelas dan se-detail dalam presentasinya. Keempat orang yang ada disana menyimak dengan baik, sesekali melempar argumen maupun pertanyaan atau kemungkinan – kemungkinan buruk yang ada, namun Choi Siwon mampu membuktikan kepada mereka semua akan kemampuan berlobinya yang melebihi ekspektasi siapapun.

Wajah keempatnya tampak puas dengan presentasi Siwon yang sangat meyakinkan. Mereka berdiskusi sebentar sebelum membubuhi tanda tangan pada kertas persetujuan lalu berjabat tangan.

“Kau hebat, hanya 1 dari 1000 orang yang dapat memutar keputusanku dalam dunia bisnis dan kau adalah salah satunya.” Puji Tuan Jung pada Siwon yang hanya ditanggapi dengan senyum formal, “Saya hanya melakukan yang terbaik,” ujarnya rendah diri.

Tuan Jung mengangguk puas lalu membalas jabatan tangan Siwon ketika pria itu akan pamit pergi dari ruangan meeting. Namun Tuan Choi memilih diam di samping Tuan Jung ketika mereka semua sudah pergi.

“Kuharap kau tidak lupa dengan perjanjian kita,” desis Tuan Jung pelan. Terdengar pelan namun tajam menusuk pendengaran Tuan Choi. “Aku tahu.” Balas Tuan Choi sinis sebelum mengikuti jejak ketiganya dengan langkah berat.

Jung Yunho menyeringai penuh kemenangan melihat kertas perjanjian yang sebelumnya ia tanda tangani, ia tersenyum bangga melihat tanda tangan Siwon yang terukir di kertas.

“Kau tidak tahu apa yang sebenarnya kau lakukan, Choi Siwon,” tandasnya licik diiringi tawa penuh kemenangan.

Tuan Jung mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang berdering diatas meja. Pria berusia kepala lima itu tersenyum senang melihat nama yang terpampang disana. Ia dengan semangat mengangkatnya seraya tersenyum sumringah.

Yeoboseyo,”

“Appa~~!”

Tuan Jung tersenyum sayang. “Annyeong my little girl, kau pasti merindukan appa,”

**

Hamparan pasir putih yang kini menjadi landasannya berdiri membuat Siwon merasa nyaman. Setelah pertemuannya dengan Jung Yunho serta dua kolega proyek kasino lainnya dan mendapatkan hasil yang ia inginkan, pria itu memutuskan bersenang – senang sedikit dengan menikmati indahnya Pantai Waikiki. Ia lupa kapan terakhir kalinya ia pergi berlibur.

Dengan kacamata hitam yang bertengger di matanya serta kondisi tubuhnya yang basah dan shirtless, tubuh atletis dengan warna kulit tan itu ia istirahatkan diatas lounge chair plastik yang ada di sepanjang pantai. Siwon bertingkah cuek walaupun ia sadar banyak mata wanita yang menatap penuh minat kearahnya, bahkan ada beberapa yang sengaja lewat tepat di depan atau di sampingnya berkali – kali hanya untuk menarik perhatiannya—gadis berbikini dengan tubuh bak gitar Spanyol bertebaran di sekitar pantai.

Jika sebelumnya Siwon akan mendatangi mereka dan mungkin menarik salah satunya—atau bahkan beberapa dari mereka—ke kamarnya dan bersenang – senang, sekarang Siwon merasa hambar dan tak berminat melakukannya. Karena kini hanya ada satu wanita yang memenuhi pikirannya…bahkan saat wanita itu tidak ada disini, hanya dia yang menjadi tiik keinginannya.

Siwon mendesah pelan, “Seandainya kau disini, Yoona-ya,” gumamnya pelan.

Ya, Siwon sangat menyayangkan absennya Yoona dalam perjalanan bisnis kali ini. Mungkin saat tiba di hotel ia akan menelpon istrinya itu, walaupun besok subuh ia akan pulang, namun sepertinya rasa rindunya mengalahkan segala kemungkinan.

Karena bosan, ia pun memilih berjalan – jalan disekitar pantai menikmati terpaan angin laut. Namun ketika ia berniat kembali ke hotel, sebuah bracelet berwarna biru dengan motif lumba – luba dan bintang laut menarik perhatiannya. Entah sihir apa yang membawa Siwon hingga kini ia berdiri di depan meja penjual bracelet itu.

Penjual bracelet itu adalah seorang wanita tua dengan pakaian lusuhnya tersenyum ramah kearah Siwon. “Apa ada yang kau inginkan, anak muda?”

Siwon menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum canggung. Entah mengapa bracelet itu mengingatkannya pada Yoona. “Hmm…boleh aku melihat bracelet yang ini?”

Wanita itu tersenyum gembira melihat pilihan Siwon, dengan semangat ia memberikan dua pasang bracelet itu ke tangan Siwon yang tampak kikuk.

Gelang ini melambangkan keabadian cinta. Jika kau memberikan gelang ini untuk seseorang yang ditakdirkan bersama denganmu, maka ia tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Klise dan orisinal. Namun Siwon justru tersenyum lalu memberikan uang pada wantia itu. Sepanjang perjalanan ke hotel tak sabar bertemu dan memberikan bracelet ini pada Yoona.

**

Yoona masih sibuk memeriksa dan membuat laporan – laporan yang sampai di tangannya. Kepergian General Manager dan CEO Jaekyo Group membuat dirinya harus bekerja keras menggantikan kealpaan posisi mereka bersama asisten Tuan Choi. Beberapa meeting harus ditunda serta laporan yang harus di tanda tangani mereka bertebaran di meja kerjanya.

Gadis itu mendesah lelah. Hanya dua hari dan rasanya seperti dua tahun atau bahkan dua abad. Ototnya terasa pegal ketika ia bangkit dari duduknya, ia membereskan semuanya ketika sudah waktunya jam pulang. Yoona tersenyum lega jika mengingat hari Minggu ini ia akhrinya libur. Pekerjaannya yang menumpuk membuat Yoona dan asisten Tuan Choi harus bekerja lembur hingga mengharuskan keduanya mendekam di kantor di hari Sabtu.

“Hati – hati di jalan, agassi.”

“Selamat malam juga, ahjussi,” balas Yoona ramah pada satpam di lobby kantor. Ia pun segera masuk ke mobil yang sudah disiapkan Siwon untuk mengantar jemput dirinya selama tidak ada di Korea.

Keheningan di dalam mobil pun berlanjut pada penthouse keduanya yang terkesan senyap ketika Yoona masuk. Gadis itu memutuskan untuk menyalakan TV untuk meramaikan suasana lalu berjalan kearah dapur. Tubuhnya terlalu lelah untuk memasak sehingga ia memutuskan untuk memakan dua bungkus ramyeon sekaligus. Ia membawa mangkuk itu menuju hamparan karpet bulu yang berada di dekat jendela raksaksa, dimana kota Seoul tampak cantik di tengah gemerlapnya bintang.

Yoona memakan ramyeon sambil memainkan laptopnya. Penasaran, gadis itu mengetik nama Siwon di kolom pencarian dan munculah ribuan artikel mengenai Choi Siwon, Jaekyo Group, dan…namanya? Ia tidak menyangka dirinya cukup populer di kalangan para netizen. Yoona mengklik beberapa link dan beberapa gambar yang mereka ambil di pernikahannya terpampang di layar laptop, begitupun dengan foto di year book sekolahnya dan data – data dirinya. Yoona juga membaca beberapa komentar yang tertulis disana.

[+102,666, -1,071] xoloveisolzek: “Woah daebak, Cinderella di masa depan!”

—-JoiceLiu: “Menurutku lebih mirip dengan Beauty and the Beast.”

—-1004taeng: “Kau tidak mungkin mengatakan Choi Siwon sejelek beast, ‘kan? @JoiceLiu”

—- KyuWonAIZEK: “Jika Im Yoona adalah Belle, mungkin Choi Siwon lebih cocok digambarkan sebagai pangeran tampan dengan sikap sejelek Beast @Joiceliu @1004taeng”

[+88,349, -811] Swifties91: “Dia terlihat cantik dan polos, sepertinya semua playboy akan jatuh cinta pada tipikal wanita sepertinya kkk~”

[+81,076, -771] DmawSweeties: “Semoga pernikahan mereka abadi, apapun yang terjadi aku mendukung keduanya! Nice choice, Siwon-ssi.”

[+77,408, -725]  Vousmevoyez: “Ia sangat cantik!”

[+72,677, -712] SuJu7jjang: “Apa ia cantik natural? Maksudku, bagaimana mungkin dia memiliki wajah yang serupa dengan member SNSD?”

Yoona hanya tersenyum malu membaca komentar – komentar para netizen tentangnya. Ia pun kembali ke halaman pencarian untuk mencari berita lainnya. Gadis itu membaca sekilas biodata Siwon, ia sesekali tersenyum melihat foto masa kecil Siwon bertebaran disana.

Mangkuk ramyeon itu sudah kosong, namun petualangan Yoona di dunia maya belum berakhir hingga teleponnya berdering. Gadis itu nyaris melompat kegirangan mendengarnya dan langsung meraih ponsel itu. Namun ia kembali menelan pil pahit ketika melihat nama yang terpampang di layar bukanlah nama yang sejak tadi ia tunggu – tunggu.

“Memangnya apa yang kau harapkan Yoona? Siwon meneleponmu karena ia rindu padamu atau menanyakan kabarmu disini? Bermimpilah!” batin Yoona mengumpat sendiri sebelum menangkat teleponnya.

“Yeoboseyo…”

“YOONA-YA! NA BOGOSHIPPO! Bagaimana kabar Nyonya Muda Choi ini?”

Yoona mendengus pelan, “Sangat-sangat-sangat baik.” Jawabnya sarkratis.

“Sepertinya mood-mu sedang buruk, memang ada masalah apa lagi dengan suamimu, huh?”

Tanpa diminta Yoona langsung menceritakan semua keluh kesahnya pada Yuri yang dengan sabar mendengarkannya. Gadis itu menceritakannya dengan menggebu – gebu hingga Yuri tertawa nyaring karenanya. “Astaga, Im Yoona. Akui saja kalau kau merindukan suamimu itu,”

“Aku tidak merindukannya!” balas Yoona terlalu cepat, hingga ia sendiri ragu.

Yuri mengerling nakal mendengarnya. “Keureyo? Lalu kenapa kau terdengar begitu lesu saat mengangkat telepon?”

“Itu…” Yoona hendak membantah namun ia tidak menemukan kata yang tepat dan akhirnya memutuskan untuk menyerah pada Yuri yang semakin tertawa menang di seberang sana, “Sudah puas menertawaiku?” tanya Yoona jengkel.

“Okay, okay, mianhae, tapi kalian benar – benar lucu. Siapapun yang mendengar ceritamu pasti akan berpendapat yang sama denganku,”

“Hanya karena ia ingin melakukannya denganku bukan berarti ia jatuh cinta padaku, Kwon Yuri.”

“Sebenarnya apa yang membuatmu meragukan perasaannya padamu?”

“Entahlah,” Yoona mendesah lelah, “Aku tidak bisa memprediksi apapun tentangnya. Siapa yang tahu ia ingin melakukannya padaku demi menunjukkan kehebatannya dapat menakhlukkan semua wanita?”

“Im Yoona, sepertinya kau sedikit salah paham,” kali ini suara Yuri terdengar begitu serius, “Jika ia tidak mencintaimu, sudah sejak lama ia menuntut hal itu padamu. Maksudku, kau pasti sadar betapa hebatnya suamimu dalam urusan wanita. Tapi apa selama ini ia menuntut atau memaksamu melakukannya? Tidak, ia mencari waktu yang tepat dan perjanjian yang kau buat itu jelas menjadi jembatannya untuk meraih apa yang ia inginkan selama ini.”

“Kenapa dia tidak meminta wanita lain saja? Bukankah dia memiliki banyak misstress?” tandas Yoona pelan namun langsung ia sesali detik berikutnya.

“Apa kau rela membayangkan suamimu melakukannya dengan wanita lain?”

Kalimat Yuri langsung menampar Yoona keras. Benar, apa ia rela membayangkan wanita lain melayani suaminya sendiri? Kalau ia tidak rela, mengapa rasanya ada yang salah jika ia yang melakukannya?

“Apa menurutmu dia berhasil memenangkan ‘pertarungan’ kami?” tanya Yoona.

“Tipikal pria seperti suamimu akan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan Jika ia memang harus memindahkan gunung hanya untuk mendapatkan mata air, ia pasti akan melakukannya.”

Mau tidak mau Yoona harus setuju dengan pendapat Yuri, hal itu semakin membuatnya khawatir. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

Yuri menyeringai licik dengan berbagai ide nakal di pikirannya. “Sepertinya aku tahu apa yang harus kau lakukan untuk menyambut suamimu,”

**

Yoona melongo tak percaya dengan apa yang kini berada di depannya, gadis itu melirik Yuri seolah meminta penjelasan lebih mengenai rencananya ini. “Mengapa kau mengajakku kesini?”

Yuri mengibaskan tangannya di udara seraya melempar senyum jahil. “Aigoo, jangan seperti itu. Tentunya kau tahu apa yang akan kita lakukan disini. Kajja!

Yak Kwon Yuri—“

Terlambat, Yuri sudah menarik Yoona masuk ke dalam toko serba pink dengan berbagai jenis lingerie yang dipajang pada mannequin – mannequin disana. Lambang ‘VS’ berwarna emas serta beberapa model terkenal seperti Candice Swanepoel dan Adirana Lima terpampang disana – sini. Tak perlu dipertanyakan lagi toko Victoria’s Secret menjadi salah satu destinasi paling menarik bagi para wanita.

“Ada yang bisa saya bantu, agassi?” tanya pelayan toko dengan ramah.

Yuri menunjuk Yoona lalu mendorongnya kearah pelayan toko. “Tolong bantu nona ini mencari lingerie yang terkesan tertutup namun membuat adrenalin siapapun terpancing saat melihatnya.”

Yoona menatap Yuri garang sedangkan sahabatnya itu hanya mengedipkan mata menggoda. Pelayan itu mengajak Yoona melihat – lihat berbagai jenis lingerie yang ada, sesekali ia menjelaskan secara detail setiap lingerie yang Yoona tanyakan sampai mata Yoona terpaku pada sebuah lingerie. Lingerie itu berwarna hitam dengan bahan nylon import yang melapisi keseluruhan lingerie hingga membuat  pemakainya merasa diterawang dari sisi manapun.

“Sepertinya yang ini cocok denganku,” kata Yoona lalu menyerahkan lingerie itu pada pelayan toko, “Pilihan yang sangat bagus, Nyonya.” Sanjungnya tulus lalu mengajak Yoona ke kasir.

Nice job, Im Yoona!” Yuri tersenyum puas melihat pilihan Yoona, “Aku tidak tahu kau punya keahlian khusus dalam memilih lingerie,”

Yoona menatap kantung belanja Yuri dengan tatapan horor. “Untuk apa kau membeli lingerie?”

“Astaga Im Yoona, kau tidak berpikir aku sepertimu yang hobinya hanya membaca buku ‘kan? Aku penggemar lingerie!”

Setelah sebelumnya berkutat di toko lingerie, kini Yuri menarik Yoona ke sebuah spa yang terkenal akan kemampuannya menyulap upik abu menjadi seorang putri. Yoona kembali menatap Yuri penuh pertanyaan yang hanya ditanggapi dengan lirikan lebih-baik-kau-diam-saja-dan-ikuti-aku sebelum ditarik masuk ke dalam spa.

“Selamat datang! Ada yang bisa kami bantu?”

Yuri mengambil buku yang berisi tentang treatment dan semua hal yang berhubungan dengan spa di tempat itu. Sesekali ia mengamati Yoona lalu kembali membaca buku itu.

“Baiklah. Paket ‘Honey Rose’ untuk nona ini, sedangkan saya paket ‘Blue Bells’.” Putus Yuri sebelum keduanya dibawa menuju ruang ganti.

“Hei, kenapa paket kita berbeda?” tanya Yoona heran.

Yuri menyeringai tipis lalu mendekatikan kepalanya kearah telinga Yoona. “Karena kebutuhan kita berbeda, Im Yoona.” Bisiknya jahil. Sontak hal itu membuat Yoona bersemu merah dan memilih diam tak berkomentar.

Rupanya paket yang Yuri pilihkan untuk Yoona merupakan paket terlengkap di tempat spa ini. Pertama Yoona mengganti pakaiannya dengan jubah khas spa, lalu ia digiring kesebuah ruangan yang terdapat dua buah kursi pijat. Treatment pertama yang ia dapatkan adalah pemijatan untuk merilekskan tubuh kakunya. Aroma vanilla yang bercampur dengan lemon membuat rasa penat dan tegang dalam diri Yoona hilang, ia merasa damai dan nyaman. Setelah itu tubuhnya dibaluri cairan body wrap lalu dibungkus dengan kain khusus.

Kini mereka melakukan treatment facial pada wajah Yoona, wajahnya diberi pijatan sebelum dibaluri cairan masker yang terasa dingin ketika bertemu dengan kulitnya. Setelah itu Yoona mendapatkan perawatan Ratus, yaitu treatment untuk merawat kewanitaannya yang secara khusus diambil dari Indonesia. Setelah itu Yoona melakukan waxing dan terakhir dari paket ini adalah manicure dan pedicure.

Setelah empat jam berkutat di dalam, akhirnya Yoona keluar dengan kondisi tubuh yang terasa segar, bersih, wangi, dan menggairahkan. Yuri—yang sudah selesai lebih dulu—menghampiri Yoona dan langsung bisa menangkap sinyal positif dari wajah sumringah Yoona.

“Kau tampak lebih berseri dari biasanya,” gumam Yuri tersenyum puas, “aku rasa suamimu akan sangat menikmati perubahanmu ini” goda Yuri.

**

Siwon tampak menyunggingkan senyum lebarnya ketika langit sore Seoul kembali menyapanya setelah selama tiga hari dua malam ia menghabiskan waktunya di Hawaii. Biasanya ia akan menikmati perjalanan bisnis terlebih destinasinya adalah ‘surga dunia’ seperti Hawaii, namun kali ini satu – satunya hal yang ingin ia lakukan hanyalah menghabiskan waktunya di penthouse-nya untuk beristirahat—atau bersantai—atau mungkin sekadar makan malam bersama—atau…

DAMN!

Siwon menggelengkan kepalanya. Ia pasti hanya terlalu rindu dengan kehangatan kamarnya—atau suara teriakkan seorang wanita yang selama ini selalu mewarnai paginya—atau hanya senyuman manis seorang wanita saat ia memasak—atau…

“Aku benar – benar sudah gila,” gumam Siwon seraya tersenyum kecil.

Siwon langsung masuk ke dalam mobil yang menunggunya sejak tadi. Mengingat Tuan Choi—entah karena alasan apa—memilih stay lebih lama di Hawaii, ia bisa langsung pulang tanpa harus menunjukkan tata krama dengan membiarkan ayahnya naik mobil duluan. Selama dalam perjalanan pun Siwon tak berhenti memikirkan skenario untuk berperang dengan istrinya. Bahkan ia rindu pertengkaran mereka yang sepertinya sudah menjadi suatu hobi tersendiri baginya.

**


Belle in the 21st Century

on Wattpad

*click the picture for the story*

or CLICK HERE

Belle-Poster

Sinopsis? At the end of this FF!

Please read my book on Wattpad T^T

Kalian akan kuajak berkenalan dengan kota New York City, U.S.A, sedetail mungkin! Wkwkw believe me><

Happy Reading!<3

**

Yoona POV

“The reason it hurts so much to separate is because our souls are connected. Maybe they always have been and will be. Maybe we’ve lived a thousand lives before this one and in each of them we’ve found each other. And maybe each time, we’ve been forced apart for the same reasons. That means that this goodbye is both a goodbye for the past ten thousand years and a prelude to what will come.” 

Aku tercenung singkat setelah membaca untaian kalimat dari novel ‘The Choice’ milik Nicholas Spark. Aku hanya merasa quotes itu menyindir kisah cintaku sekarang, aku tidak mengerti kenapa tapi kalimat ini membuatku seakan ingin meneriaki pembuatnya.

Membaca novel di sudut rumah merupakan kegiatan rutinku setiap Minggu malam, malam ini secara khusus aku juga membuat Ricotta Strawberry Roast Sandwich dan segelas Caramel Macchiato untuk menemaniku bersantai ria, dan karpet berbulu yang berada di dekat jendela kaca ini kini menjadi tempat favoritku di penthouse mewah ini.

Setelah membaca kalimat itu, hanya Siwon-lah yang muncul di kepalaku—setelah aku berusaha keras melupakan—membuat pipiku merona sendiri. Aku pasti benar – benar gila beberapa jam yang lalu, karena kini lingerie itu sudah membalut tubuhku yang sengaja kulapis dengan piyama tidurku.

Entah aku harus merasa senang atau frustasi jika mengingat Siwon akan sampai di rumah sebentar lagi. Aku juga bingung harus mendoakan agar kerjasama itu berhasil atau gagal, karena pilihan apapun yang ada memiliki sisi positif dan negatif tersendiri. Kau benar – benar sudah gila, Im Yoona. Aku harus berusaha keras kembali memfokuskan diri pada tulisan – tulisan di novel itu dengan seksama namun bayangan Siwon tetap mendominasi pikiranku saat…

KLIK~

Tubuhku langsung menegang ketika mendengar suara pintu terbuka bersamaan dengan munculnya sosok pria itu. Pria yang ingin kubuang dari pikiranku namun justru semakin merangkak jauh memenuhi relung pikiranku. Kugigit bibir bawahku dengan gemas menahan desakan untuk tersenyum sambil terus berusaha membaca setiap kata berbahasa Inggris di tanganku tapi yang kupikirkan saat ini hanyalah mencari upaya untuk menghindari suamiku ini. Damn, bahkan wangi aftershave serta tatapan intensnya sudah menusukku dalam radius kurang dari 100 meter. Aku merasa bodoh karena bertingkah layaknya remaja perempuan seperti ini.

“Sepertinya istriku terlalu sibuk berpacaran dengan Travis Parker milik Nicholas Park hingga tidak menyadari suaminya akhirnya pulang,” tandas Siwon sinis.

Aku memutuskan untuk diam tak menanggapi karena jika aku bersumpah sepatah kata saja aku bersuara, siapapun bisa menebak saat ini aku sedang berusaha keras meredam perasaan gugup sialan ini. Siwon kini berjongkok tepat di depanku, mata elangnya tampak puas setelah mengamatiku selama satu menit.

“Ah sayang sekali, padahal aku berharap ada pelukkan dan ciuman hangat dari istriku tercinta atau setidaknya makan malam yang biasa ia siapkan untukku.”

Oh astaga, bagaimana aku bisa lupa menyiapkan makan malam untuknya? Aku menepuk keningku secara mental sebelum menurunkan novel ini hingga mata kami bertemu.

Siwon meraih piring berisi ricotta-ku, memotongnya kecil, lalu memasukannya ke dalam mulut. Sikap penuh intimidasinya tetap mendominasi sekalipun ia hanya mencicipi masakanku, aku serasa berada di depan juri Master Chef karenanya. “Hmm…ini cukup enak, tapi sepertinya kurang cocok di makan di malam hari. Filling-nya sedikit terlalu manis dan tingkat kematangan terkesan timpang di satu sisi, namun secara keseluruhan ini sempurna.”

What the hell? Apa ia benar – benar merasa kemampuan memasaknya melebihi juri Master Chef?

“K-kau ingin m-makan a-apa? A-aku akan me-memasakannya untukmu.”

Siwon tertawa kecil—walaupun menurutku lebih mirip tawa ejekkan. Aku mengernyit heran, apa ada yang salah dengan ucapanku?

Pria itu semakin mendekatkan wajah kami hingga aku dapat merasakan deru nafas hangatnya disepanjang leher dan telingaku. “Aku ingin sesuatu yang tidak pernah kudapatkan selama ini sebagai makan malamku,”

Uh-oh. Ini berbahaya…sepertinya aku tahu apa maksud sesuatu itu.

Aku hanya sanggup melempar tawa canggung mendengarnya. “A-apa maksudmu?”

“Aku yakin kau tidak senaif itu, Nona Im.”

“Apa maksud—“

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, bibirnya sudah menyentuh milikku dengan cepat. Bibirnya melumat bibirku dalam, kedua tangannya memegang wajahku untuk memudahkannya mengubah sudut ciuman. Pikiranku seolah ditutupi oleh kabut gairah terlebih indera penciumanku menangkap wangi aftershave dan aroma maskulinnya yang memabukkan. Aku hanya diam menikmati ciuman itu hingga Siwon sendiri yang melepas pagutan ini.

Deru nafas kami terasa hangat, tatapan mata memancarkan gairah terpendam. Aku langsung menutup mulut Siwon dengan telapak tanganku ketika pria ini mulai menurunkan kepalanya kearahku. “Apa yang kau lakukan?”

Siwon mendesis gemas sambil menurunkan tanganku dari wajahnya. “Aku ingin menciummu,”

Ketika ia kembali melancarkan aksinya, kugunakan tanganku yang lain untuk membungkamnya sambil menggeleng tegas. “Apa proyek itu berhasil kau dapatkan kembali?”

Alisnya terangkat sebelah menatapku tersinggung. “Kau meragukanku, Nona Im?”

Siwon menjauhkan wajahnya dariku lalu berjalan kearah coffee table di ruang tamu, mengeluarkan sebuah map merah berlogo ‘Jaekyo Group’ tanpa melepaskan pandangan kami. Aku menciut gugup di tempatku sekarang. Apa ia berhasil mendapatkan proyek itu kembali?

“Kau melamun lagi,” gumam Siwon geli sebelum menyerahkan map itu ke tanganku. Aku membaca setiap kata yang tertulis seiring dengan deguban jantungku yang semakin bertalu cepat terlebih setelah melihat empat buah tanda tangan yang tertera disana. Kugigit bibirku kebingungan.

Siwon berhasil mendapatkan proyek itu kembali. Lalu bagaimana nasibku selanjutnya?

Kuberanikan diri mendongak hanya untuk mendapati wajahnya tersenyum penuh kemenangan. “Aku berhasil mendapatkannya, Im Yoona.”

Aku mengangguk canggung. “A-ah y-ya…chuchukae!”

Siwon tersenyum miring dan wajahnya kembali mendekat kearahku. “Bukan itu cara mengucapkan selamat pada suamimu.”

“La-lalu aku harus apa?”

“Ini yang harus kau lakukan,” katanya sebelum mengklaim bibirku kembali. Kenikmatan itu kembali membanjiri seluruh tubuhku yang menegang. Ini tidak benar, seharusnya aku tidak membiarkannya melakukan ini namun mata hitam serta kemampuannya bercinta dengan mulutku sanggup membungkam akal sehatku.

Ketika Siwon melepaskan ciuman kami, aku bisa merasakkan bibirku membengkak dan terasa basah akibat ulahnya. Pria itu menempelkan kening kami seraya mengatur nafasnya yang memberat. Detik berikutnya ia menatapku dengan kabut gairah yang menutupi matanya.

Kiss me, Im Yoona…” gumamnya dalam seolah memohon padaku.

Setelah berdebat batin lama, perlahan aku mengangkat tanganku dan menaruhnya pada wajah Siwon. Ia tersenyum miring merasakan tanganku yang bergetar di wajahnya. Kutatap wajahnya sekali lagi sebelum mendekatkan wajahku kearahnya, memejamkan mata dan menahan nafas ketika bibir kami kembali bertemu. Aku memagut kecil bibir tebalnya dengan malu – malu lalu melumatnya kecil.

“Shit,” Siwon mengerang frustasi dan langsung mengambil alih ciuman kami. Aku mendesah pelan ketika Siwon memeluk pinggangku hingga tubuh kami bersentuhan tanpa jarak sedikit pun, membuat suhu panas disekitar kami seolah meningkat. Ia tanpa henti menyerbu bibirku, menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menciumku semakin dalam membuat kepalaku terasa pening. Tanpa kusadari, tanganku sudah melingkar di leher dan bahunya, sedangkan tangan Siwon memeluk pinggang dan punggungku mesra.

“Do you want to take it inside?” tanya Siwon sambil mengecupi leherku dengan lembut, membuat darahku berdesir halus dari arus listrik yang tampak berjalan di antara kami.

Aku berhenti dan menatapnya dalam. Aku sudah siap, aku tahu itu, tapi tetap saja dapat tidak menghentikan semua pikiranku. Aku menelan bulat-bulat segala kebimbanganku ketika membalas tatapan penuh harapannya. “Ya,”

Tanpa mengatakan apapun, Siwon menggendong tubuhku ke dalam pelukan hangatnya dan membawaku naik menuju kamarnya. Hatiku berdebar kencang sampai kurasa Siwon dapat mendengarnya, bagaimanapun ini pertama kalinya bagiku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, bagaimana kelanjutan dari hubungan kita seolah ditentukan malam ini.

“Jangan terlalu banyak berpikir,” aku mendengarnya tertawa lembut menyadari kegugupanku, “Nikmati saja apa yang akan terjadi, okay?”

Siwon kembali menciumku dengan penuh semangat. Tubuh kami seakan mencair dan menjadi satu. Ciumannya selalu adiktif dengan kemampuan yang membuatku selalu berteriak menginginkan lebih. Kemampuannya melumpuhkan akal sehat wanita memang harus diakui, aku bahkan tidak menyadari kini aku sudah berbaring di tempat tidurnya dengan ia berada diatas tubuhku dan aku menikmati bagaimana tubuh kami bersentuhan. Otot perut dan dadanya yang keras serta bahunya yang tegap mempesona membuatku menahan nafas saat memperhatikan kesempurnaan ini tepat berada di depanku.

Kami kembali bertatapan intens dalam jarak seintim ini. Ia mengusap pipi dan keningku lembut seraya tersenyum lembut. “Alasan lain aku ingin melakukan ini karena…aku ingin memulai semuanya dari awal bersama denganmu, Yoona.”

Kupu – kupu seolah berterbangan di perutku mendengar ungkapan Siwon yang terdengar begitu lembut dan tulus. Aku memejamkan mata menikmati desiran halus ini lagi ketika Siwon mengecupi kening, mata, hidung, pipi, dan bibirku secara bergantian dengan senyuman mematikan yang selalu melumpuhkanku. God, siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan pria seperti ini?

“Mari kita lupakan masa lalu kita dan memulai awal yang baru sebagai pasangan suami-istri yang sesungguhnya,”

Bisakah kita melakukannya? Aku bertanya pada diriku sendiri diam-diam. Hatiku dengan senang hati ingin menyetujui ini semua untuk memulai awal yang baru bersama pria yang kucintai namun logikaku menolak. Bagaimanapun aku tidak bisa menjanjikan apapun padanya, karena sebesar apapun keinginanku untuk selalu bersamanya, aku tidak akan pernah bisa mengorbankan ayahku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada keluargaku maupun diriku sendiri.

“Bisakah kita melakukannya, Choi Yoona?”

Aku menatap matanya dalam dan membuang nafas kasar. “A-aku ti-tidak tahu….aku masih ragu—“

“Ssst…” Siwon meletakkan telunjuknya di bibirku sambil menatapku penuh kelembutan, hal yang tak pernah kulihat sebelumnya. “Aku tahu kau masih meragukanku, terlebih dengan masa laluku yang tidak patut dilihat. Tapi aku sudah berubah. Semenjak menikah denganmu, aku lupa caranya pergi ke club malam atau bersenang – senang dengan para wanita jalang diluar sana, aku mulai merasakan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan selama ini hanya dengan melihat wajahmu saat aku pulang, atau hanya dengan mencicipi masakanmu, atau mendengar omelanku padamu yang biasanya tak pernah kutanggapi.”

Hatiku terasa dipenuhi ribuan cahaya kunang – kunang yang berpendar penuh kehangatan mendengar ungkapan hatinya. Aku tahu ia tidak berbohong, matanya mengatakan hal itu dengan jelas. Aku merona malu ketika ia menyelipkan anak rambutku ke daun telingaku, pria ini benar – benar berbahaya.

“Kau berbeda dari wanita lainnya,” katanya lagi sambil mencium pipiku penuh sayang, “Aku tahu dengan menikahiku bukan berarti kau akan bahagia selamanya, tapi aku yakin aku akan berusaha keras membuatmu lupa bagaimana caranya menangis…”

Oppa—“

“Aku tidak pernah menyesal mengenalmu dan menjadikanmu istriku. Takdir apapun yang sudah membawa kita bersama adalah takdir terindah yang pernah kurasakan selama ini. So, maukah kau memulai awal yang baru bersamaku, Choi Yoona?”

Kali ini aku tidak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah kutahan di pelupuk mata. Aku mengusap pipinya lalu mencium bibirnya lembut. “Yes…”

Kebahagiaan di matanya akan selalu kukenang selamanya, senyum lebarnya akan selalu mengingatkanku bagaimana hari ini bahkan pernah terjadi.

“This is our first day to forever.” Desisnya dengan suara serak penuh gairah dan langsung menciumku dengan kelembutan yang menghanyutkan. Malam itu aku memasuki dunia baru yang untuk pertama kalinya kumasuki bersama pria yang kucintai, ditemani dengan langit malam bertabur bintang serta lembutnya sinar rembulan, angin musim gugur, dan suamiku yang membuat duniaku terasa meleleh dalam kehangatan.

**

 

A/N: There’s something IMPORTANT I have to tell you, readers-nim! Please check my note below ‘To Be Continue’🙂 Thank you<3

**

Tuan Choi duduk diam menunggu di sebuah ruangan meeting di hotel tempatnya menginap. Ia bukanlah tipikal pria yang bersedia menunggu lama, namun kali ini ia terpaksa harus menekan harga dirinya sedalam mungkin. Sudah satu jam ia berada disini, namun tidak ada siapapun yang muncul. Beberapa kali ia menghubungi orang itu namun hanya suara operator menjengkelkan yang terdengar.

“Cukup! Aku tidak bisa menunggu mereka lebih lama lagi!” tandasnya marah lalu bangkit dari duduknya tepat ketika pintu ruangan terbuka dan munculah sosok Tuan Jung dengan beberapa bodyguard di belakangnya.

“Maaf untuk keterlambatannya, Choi Kiho,” kata Tuan Jung membuka perbincangan mereka, “ada kesalahan teknis yang harus aku perbaiki sebelum datang kesini.”

“Kau sudah menahanku di Hawaii sehari, sekarang katakan apa maumu?”

Tawa Jung Yunho menggelegar mengisi keheningan ruangan. Matanya menatap sinis sebelum kembali membuka mulutnya. “Ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu sejak dulu,”

Choi Kiho hanya diam menatap tanpa minat kearah Jung Yunho. Tak lama kemudian, pintu ruangan kembali terbuka dan munculah seseorang yang langsung membuat mata Tuan Choi melotot lebar – lebar. Ia mengerjap berkali – kali namun orang itu tidak pergi dari hadapannya, lututnya terasa lemas hingga ia langsung terduduk kembali di kursinya membiarkan tongkatnya jatuh. Tuan Choi menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya, kepalanya terasa pening dan yang ingin ia lakukan hanya pulang dan beristirahat. Batinnya seakan diberi kejutan yang sangat mengejutkan hingga dirinya yang sudah tua ini sudah tak dapat menanggung hal – hal semacam ini.

“Annyeong haseyo, Tuan Choi! Aku sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu!”

“K-kau….b-bagaimana bi-bi-bisa?!”

TO BE CONTINUE

Yuhuuuu gimana Chapter 11-nya? Aku suka ketawa aja kalo ada readers yang nanyain kapan mereka akur? Nah sekarang mereka udah akur tuh, gimana? Udah cukup ‘akur’ belum? Wkwk semoga authornya berhasil membangun suasana romantis walopun authornya sendiri gak pernah digituin //iri//><

Gini ya readers, aku tahu kalian ini baca FF-ku karena suatu couple yg kalian suka, tapi aku juga mohon respect dari kalian. Jujur aku sakit hati pas bikin buku di Wattpad malah dikatain ‘bagusan yg ceritanya cast A dan B’. Kalo kalian nulis susah payah tapi dikatain kayak gitu gmn sih rasanya? Aku minta kita sama2 menghargai aja deh ya, cita-citaku itu jadi penulis, aku gak mungkin selamanya nulis FF, suatu saat aku harus nulis buku dengan karakter fiksi yang lebih universal. Aku juga ngambil latar New York karena supaya readers mengenal kota yg /mungkin/ belum kita datengin secara langsung, aku gak pernah main – main dalam membuat cerita. Semua yang tertulis disini…kalian bisa cari di Google, karena aku mau readers-ku juga bisa belajar dari karyaku. Makanya kalian juga harus lebih membuka diri untuk menerima sesuatu yang baru.

Aku gak maksa kalian buat baca ceritaku yg di Wattpad, yg bersedia baca sih aku bener2 berterimakasih—karena yg di Wattpad bener2 kurombak jalan cerita di bagian awal, tapi bagi yang gak minat baca setidaknya menghargai keputusanku ini. Toh FF dengan cast couple yg kalian suka tetep kulanjut kok^^

Anyway, here’s my story! Hope you enjoy it! Maaf ya kalo authornya baper, tapi jujur aku orangnya itu gak basa- basi, kalo gak suka langsung marah dan gak mendem, tapi kalo kita bisa saling respect, we can be friend, dear!<3

See you on the next chapter, bye~!<3

357 responses to “[FF] Belle in the 21st Century [Chapter 11] – My Beauty

  1. Akhirnya mrka ngelakuin itu jga… Seneng bgt rasanya.,, apalgi kata2 yg siwon ucapin bwt yoona.,, bner2 menyentuh bgt…. Hufft.,,apa sih yg direncanain Tn.Jung dan Tn.Choi..?? Bnar2 mencurigakan

    Like

  2. yuhuuu yeyy fanficc yg ku tunggu nantinyaa ada kelanjutannyaa😊😊 thank youu authorr mau nge lanjutin ini ff yg uda lumutan tp dikenang di hati ahaha ditunggu yaa chap12

    Like

  3. Akhirny siwon ngku juga low suka ma yoona…
    Cie mp ni ye.. setelh berpa bln menikh bru mp…. semogs gax ada msalah yg bikin mereka pisah deh..

    Like

  4. Akhirnyaaa ,,, akurr jugaa auwwwwwooooo , ternyata abang siwon bener2 so swiit bingiitt ,,wanita mana yg ga bakal meleleh,,
    Semoga kebahagiaan ini selamanya bwt yoonwon yaaa ,,,
    Wonppa Yoong ya jjang😄🏃💃🙏🙏

    Like

Give me your LOVE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s