[FF] Belle in the 21st Century (Chapter 8) – Beauty’s Hidden Ability

belle-yoona-1

Belle in the 21st Century – Beauty’s Hidden Ability

kkezzgw storyline

Main Cast: SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: more than 12~

belle-cast-yoonwon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: General

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 27 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

“You never know how strong you are…until being strong is the only choice you have.”

Yoona menatap pantulan dirinya di cermin kamarnya dengan seksama sebelum mendengus pelan. Entah ia harus merasa sedih atau mengutuki kebodohannya ketika mendapati matanya terlihat sembab dengan kantung mata menghitam. Ia merasa kesal tapi bingung harus melampiaskannya pada siapa, toh pria itu tidak pernah memaksanya menangisinya, bukan?

Oh tolong jangan bahas tentang alasan Yoona menangis semalaman kemarin malam, itu hanya membuatnya semakin merana dan ingin bunuh diri.

Diliriknya jam dinding berwarna ungu yang berada dekat jendela, masih pukul enam pagi dan Yoona yakin pria itu belum bangun—karena seingatnya kemarin suaminya baru pulang pukul satu malam—entah apa yang dilakukan pria itu, dan Yoona menolak untuk memikirkannya.

Kini semangat juang Yoona berkobar sejak pertama kali matanya terbuka pagi ini. Jika kemarin Siwon dengan mudahnya melarikan diri dari sarapan, kini Yoona bertekad untuk melakukan segala cara agar setidaknya ada sesuatu yang masuk ke dalam sistem pencernaan Choi Siwon.

Ia berjanji akan membentengi dirinya setinggi mungkin dan akan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Gadis itu mulai mengeluarkan amplop putih pemberian Kyuhyun kemarin sore, dengan telaten ia memperhatikan setiap detail yang tertulis disana, membaca dengan kesadaran yang sejujurnya masih menipis akibat kurang tidur.

“’……Selain teksturnya yang lembut dengan rasanya yang manis, pisang mengandung karbohidrat yang cukup yang membuat perut dalam keadaan kenyang yang lebih lama. Disamping itu, buah ini mengandung potassium yang berperan menurunkan tekanan darah secara alami.’ Sepertinya hari ini aku harus membuat jus pisang” desah Yoona senang setelah menemukan menu termudah untuk sarapan kali ini.

Yoona menepuk tangannya menyemangati diri, “Baiklah, untuk hari ini sepertinya jus pisang!”

Yoona berlari kecil keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan pelan, tidak membutuhkan waktu lama untuk kakinya menginjak lantai kayu dapur yang didominasi warna biru muda itu.

“Pisang…pisang…pisang…ah ini dia!” Yoona mengambil beberapa buah pisang yang berada di sebuah ruangan besar bersuhu cukup rendah, membuat tubuh kedinginannya seakan dirajami es batu. Seperti yang ia katakan sebelumnya, dapur ini lebih terlihat seperti tempat acara memasak. Setelah itu, ia menuju ruangan penyimpanan perlengkapan masak mengambil blender, setelah itu kakinya berjalan kearah kulkas dan mengambil susu cair serta ice cream vanilla.

Yoona meletakan semuanya diatas meja dapur dan mulai mencampurkan semuanya ke dalam blender. Suara bising blender mulai memecah keheningan penthouse mewah ini. Tak lama Yoona menuangkan jus pisang itu ke dalam gelas kaca yang membuat gadis itu ingin sekali tertawa. Gadis itu membersihkan dapur sebelum meletakan jus pisang itu ke dalam kulkas dan naik ke kamarnya untuk bersiap – siap mengingat hari ini jadwalnya kuliah pagi.

*

Siwon merapikan jas dan dasinya sebelum melangkah keluar kamar. Pria itu melirik sekilas pintu kamar Yoona yang tepat di samping kamarnya masih tertutup rapat. Sebersit rasa bersalah tiba – tiba menyelimuti hatinya. Kejadian semalam…sungguh ia tidak bermaksud sama sekali untuk membawa Sunny ke penthouse ini, namun Sunny memaksa dan sempat merajuk saat Siwon menolaknya. Terlebih apapun yang dilihat Yoona di dalam lift sungguh membuat mulutnya terasa gatal untuk meminta maaf, namun ia terlalu gengsi dan merasa ini semua tidak ada urusannya dengan Yoona.

Ekspresi dingin Siwon sedikit berubah ketika melihat Yoona sedang duduk di mini bar penthouse ini, wilayah kekuasaan Siwon.

Gadis itu terlihat cantik bahkan hanya dengan kaus putih polos yang dipadukan dengan celana jeans  hitam, tak ada polesan make up sama sekali dan Siwon yakin gadis itu terbiasa pergi kemanapun tanpa make up. Sepertinya Yoona belum benar – benar menyadari kehadiran dirinya karena gadis itu masih sibuk mengetuk – ngetukan jarinya diatas meja sambil memandangi jendela raksaksa penthouse mereka. Siwon membuang pandangannya dari Yoona dan mulai berjalan lurus kearah pintu.

“Siwon-ssi!”

Siwon reflek menghentikan langkahnya seiring dengan derap langkah kaki yang mendekatinya.

“Tunggu sebentar!”

Siwon membuang nafasnya kasar melihat Yoona kini berdiri di depan pintu, menghalangi niatnya untuk segera angkat kaki dari tempat ini. “Menyingkirlah, aku ingin berangkat kerja.” ujar Siwon datar.

Yoona mengangguk setuju, “Tentu saja kau harus bekerja, aku tahu itu.”

“Lalu apa yang kau lakukan saat ini, huh? Menghalangi seseorang yang berniat pergi bekerja?”

Aniyo, justru aku ingin membantu seorang work-aholic man yang selalu lupa waktu makan dan beristirahat saat sedang bekerja”

 

Siwon masih mengernyitkan dahinya tak mengerti sebelum mata tajamnya menangkap objek yang membuatnya tercengang. Pria itu langsung menatap Yoona dengan pandangan berang, menuduh, tak terima, dan bersiap memakinya, terlebih melihat ekspresi gadis itu yang seakan bersorak gembira karena sepertinya apapun yang ada dalam pikirannya berhasil terlaksana.

“K-kau apakan gelas crystal-ku itu?” desis Siwon sarat akan emosi.

Yoona berusaha keras untuk tidak tertawa puas, ekor matanya melirik sekilas gelas crystal yang sedang ia pegang kini. Oh tentu saja gadis itu masih ingat dengan jelas rekaan kejadian dimana Siwon mengingatkannya untuk tidak menyentuh wine dan gelas crystal-nya. Dan Otak cerdasnya terpikirkan untuk menggunakan sesuatu yang dapat membuat Choi Siwon bertekuk lutut.

Waeyo? Apa yang salah?”

“Sudah kubilang untuk tidak menyentuh wine dan gelas crystal-ku!”

“Apa yang kupegang ini adalah wine? Ini jus pisang, Siwon-ssi.”

Pandangan Siwon semakin menggelap yang menandakan emosinya mulai tak terkendali, menunjuk – nunjuk jus buah yang ada dalam gelas crystal miliknya, “Buang cairan sialan itu dan berikan gelasnya padaku!”

Yoona menggeleng, “Jika kau ingin gelasmu kembali, maka minumlah jus pisang ini!”

Siwon terbelalak, ia menatap Yoona dengan pandangan tak percaya, “Apa kau bercanda?”

“Apa wajahku saat ini mengatakan hal itu?” jawab Yoona tenang.

“Satu hal yang harus kau ketahui, Nona Im, aku tidak minum jus. Dan warnanya kuning!” pekik Siwon setengah histeris.

Yoona menatap Siwon dengan geli, “Apa kau pikir pisang berubah warna menjadi merah atau hijau atau bahkan biru? Sampai kapanpun pisang akan tetap berwarna kuning!”

“Ya, dan itu sangat tidak pria!”

“Oh ya, sangat jika itu berurusan dengan jus pisang!”

Siwon mengepalkan kedua tangannya kesal. Oh astaga sebenarnya apa lagi yang sedang gadis ini lakukan padanya? Meminum jus? Ia ingat dengan jelas hal itu terjadi terakhir kalinya saat ibunya memaksanya meminum jus jeruk, dan itu kenangan manis sekaligus pahit yang terjadi 14 tahun yang lalu.

Dan kini, Im Yoona dengan polosnya melakukan hal yang sama dengan mendiang ibunya. Entah ia harus kesal atau terharu karena hal ini.

“Aku tidak akan meminumnya. BUANG!” bentak Siwon sambil menekan setiap kata yang ia ucapkan.

Namun tidak seperti dulu, kini Yoona benar – benar menepati  janjinya sendiri untuk jauh lebih kuat dan tegar menghadapi seorang Choi Siwon. Kini keduanya saling menatap layaknya musuh yang bertemu di medan perang, mata Yoona terbuka lebar dengan dagu terangkat sedangkan Siwon menajamkan pandangannya dengan nafas memburu.

“Aku juga tidak akan membuangnya. MINUM!” debat Yoona jengkel, membalikan perkataan Siwon.

“Kau pikir aku sudi meminumnya? Siapa yang tahu kau mencampurkan racun tikus atau semacamnya di dalamnya?”

“Ide bagus, mungkin aku akan melakukannya suatu saat tapi tidak hari ini, jadi minum atau aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal!”

Siwon berdecak sinis, “Aku tidak takut, Yoona-ssi

Kali ini Yoona yang tersenyum miring sambil menatap Siwon dengan tatapan penuh ejekan, “Kau yakin, Siwon-ssi?”

Siwon yang tadinya terlihat tak peduli kini terbelalak di tempat melihat apa yang Yoona lakukan saat ini. Pria itu mengerjap berkali – kali, pupil matanya bergerak bergantian menatap Yoona dan gelas crystal itu dengan panik.

Bayangkan saja, gelas crystal seharga $500 atau setara dengan ₩6 juta ditangan gadis itu sudah bersiap mendarat mulus di dalam tempat sampah. Yoona sudah merentangkan tangannya jauh – jauh dan memegang gelas itu asal – asalan, seolah meledek Siwon.

“JANGAN LAKUKAN ITU!”

Yoona mengendikan bahunya acuh tak acuh, “Jika kau tidak meminumnya dalam hitungan ketiga, lebih baik siapkan saja kata – kata terakhirmu untuk gelas ini!”

Siwon dapat merasakan kepanikan yang memalukan muncul dalam dirinya kali ini, ia menatap Yoona dengan marah sekaligus memohon, “Yoona—“

“Satu.” gadis itu mulai menghitung.

‘Oh sialan! Dia tidak main-main dengan perkataannya,’ suara hati kecil Siwon memaki dirinya sendiri seakan memperingatinya.

“Dua.”

Demi Tuhan itu hanya sebuah gelas dan kau tidak mungkin rela tunduk padanya karena hal sekecil dan sekonyol itu, bukan? Yang benar saja kau Choi Siwon!

“Ti–”

Tanpa berpikir dua kali, Siwon langsung berjalan kearah gadis itu dengan langkah lebar, meraih gelas yang ada dalam genggaman Yoona dan menenggak jus pisang itu hingga tandas. Sedangkan Yoona yang melihat itu semua kini hanya terdiam bangga melihat ia dapat menemukan salah satu titik kelemahan Siwon dengan begitu mudah.

Wine dan segala antek-anteknya.

Yoona tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Siwon yang tampak menikmati jus pisang buatannya walaupun berusaha keras untuk menjaga ekspresinya agar tidak terlihat. Dalam hati Yoona mengibaskan rambutnya bangga, sejak dulu kemampuannya meramu masakan memang tidak perlu diragukan—setidaknya dessert.

“Bagaimana, enak?”

Siwon langsung melirik Yoona dengan tatapan jengkel. Tanpa berkata apapun, Siwon pergi meninggalkan apartement tanpa menoleh kearah Yoona barang sedikitpun, seakan menunjukkan ia marah besar pada gadis itu.

Sedangkan Yoona langsung menghempaskan punggungnya pada pintu, mengatur deru nafasnya yang terasa memburu menahan debaran jantungnya yang tidak terkendali. Sejujurnya ia sangat gugup dan takut untuk melakukannya, namun ia bertekad akan melakukan tugasnya sebaik mungkin.

Yoona mengulum senyum tipis sambil memandangi pintu penthouse mereka yang sudah tertutup rapat, “Welcome to hell, Choi Siwon! Kau akan tahu siapa aku sebenarnya,”

**

“Kau terlihat pucat dan lelah. Apa kau sakit?”

Yoona reflek memegang kedua pipinya mendengar komentar Yuri, matanya melirik sekilas kearah Yuri yang masih memperhatikannya dengan seksama seakan mencari sesuatu yang salah di wajahnya.

Yoona tertawa pelan sambil mengibaskan tangannya di udara, “Hanya perasaanmu saja”

Yuri mengernyitkan keningnya tak setuju, masih sibuk memperhatikan Yoona yang kini sibuk menata kue – kue baru saja dibuat oleh para pattisier di dapur. “Kau juga lebih pendiam hari ini. Apa kau sedang ada masalah?”

Yoona tersenyum tipis sambil menggeleng, “Tidak,”

Yuri merengut kesal, “Lalu kau kenapa aneh sekali hari ini? Apa ini ada hubungannya dengan suamimu?”

Pergerakan Yoona terhenti. Matanya menerawang jauh kearah para pelanggan yang sedang menikmati kue sambil bersantai dengan gadget mereka melalui kaca cake display ini. Yuri mendesah pelan lalu menjadikan kedua tangannya sebagai penopang bobot tubuhnya, “See, sepertinya kau memang ada masalah dengannya. Ceritakanlah, jangan membiasakan menyimpan bangkai di pikiranmu!”

Kali ini Yoona yang mendesah, gadis itu mengikuti jejak sahabatnya, “Entahlah, aku tidak tahu harus memulainya darimana. Masalah kami memang sedikit…rumit.”

“Memang apa masalahnya?”

“Kau tahu kan bagaimana sikap pria itu pada semua orang?” Yuri memiringkan kepalanya sejenak sebelum mengangguk setuju, “Dan bayangkan saja, bagaimana caranya aku harus mengubahnya menjadi pria normal seperti yang lainnya? Bukankah itu tantangan yang berat?” desah Yoona putus asa.

“Sebaiknya kau ceritakan padaku bagaimana sikapnya padamu selama ini.”

“Astaga, kau akan merana jika menjadi diriku.”

Yuri tertawa kecil, “Well, aku ingin tahu se-merana apa diriku itu”

“Dia benar – benar memperlakukanku seperti seseorang yang tidak ada. Beberapa hari yang lalu bahkan ia mengacuhkanku yang sudah bersusah payah membuatkannya sarapan, aku juga melihatnya bercumbu dengan wanita lain tepat di depan mataku. Sungguh, aku ingin menyerah saja, aku benar – benar tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mengubahnya”

Yuri menepuk bahu Yoona pelan, “Hei, jangan semudah itu menyerah! Ini baru beberapa minggu kau menyandang gelar sebagai Nyonya Choi. Dalam jangka waktu se-singkat itu, kau memang tidak dapat berharap lebih padanya, apalagi mengubah sifat dan sikap seseorang yang sudah mendarah daging seperti itu, kau hanya harus lebih bersahabar. Oh ya, apa kau sudah bertanya – tanya tentang Siwon pada sahabat – sahabat tampannya itu?”

Yoona terkekeh geli mendengarnya. Kejadian saat di pesta pernikahannya kembali terlintas begitu saja dimana Yuri tidak berhenti histeris dan merona dengan sendirinya melihat ketampanan sahabat – sahabat Siwon.  Ia menyebut mereka F4 versi dunia nyata—tampan, kaya, pintar, dan tentunya memiliki karisma tersendiri.

“Apa kau percaya jika aku bilang mereka sendiri yang membantuku?”

Jinjjayo? Wah, daebak! Tidak hanya tampan, mereka juga baik hati. Lalu apa saja yang mereka katakan?”

“Banyak dan berbeda – beda. Ada yang memberitahuku tentang jadwal kerja, kebiasaannya, bahkan tentang daftar makanan sehat yang harus dikonsumsinya serta laporan kesehatan pria itu. Tapi ada satu yang membuatku sedikit tergerak”

Ucapan Yoona yang menggantung itu sukses membuat mata Yuri menyipit penasaran dan langsung mendekatkan wajah keduanya, “MwoMwoga?”

Raut wajah Yoona sedikit sendu dibanding sebelumnya, ia menatap Yuri enggan. “Sebenarnya Siwon yang sekarang bukanlah Siwon yang sesungguhnya, semuanya terjadi karena ia kehilangan dua orang yang paling ia cintai.” Jawabnya dengan nada tercekat, entah karena alasan apa.

Nugu?

“Ibu dan…mantan kekasihnya”

Yuri mengerjap sekilas lalu kembali memandangi sahabatnya yang kini menerawang jauh dengan ekspresi terluka dan kecewa. Butuh beberapa saat untuknya menyadari bahwa ada hal baru yang muncul di hati Yoona; cinta, sahabatnya jelas jatuh cinta pada sosok yang sedang dibicarakannya saat ini.

“Kau menyukainya”

Yoona langsung menoleh dengan ekspresi memberontak dan tidak terima, “Mwo?”

“Kau menyukainya, Im Yoona. Semuanya sudah terbaca di wajahmu”

“A-aku tidak—“

Yes you are! Kalau kau tidak menyukainya, kau tidak akan merasa gagal dan semerana ini karena tidak dapat mengubah Choi Siwon seperti semula”

Yoona sudah membuka mulutnya untuk membantah, namun ia tak dapat menemukan kosakata yang baik sehingga ia memilih bungkam dan menoleh kearah lain, menghindari tatapan menyelidik Yuri.

Yuri mengulum senyum tipis lalu merangkul bahu sahabatnya erat, seolah menghantarkan perasaan hangat dan nyaman yang dibutuhkan Yoona saat ini, “Kau tahu, kurasa satu – satunya hal yang dapat kau lakukan untuk mengubahnya adalah mengetuk pintu hatinya untuk membiarkanmu masuk ke dalamnya, karena jika ia tidak membuka pintu hatinya, sampai kapanpun kau hanya dianggap sebagai tamu ataupun orang asing yang tak ia kenal.”

Yoona menggeleng, “Tidak mungkin, hal itu tidak boleh terjadi.”

Yuri mengernyitkan keningnya bingung, “Waeyo? Bukankah memang seharusnya begitu?”

“Aku…sejujurnya aku tidak mau melibatkan perasaan dalam hal ini.”

Mwoya? Apa maksudmu Yoona-ah? Dengar, itu cara termudah dan ‘terindah’ yang seharusnya kau terima saat ini.”

“Tapi aku tidak mau melakukannya. Biarkan aku melakukan dengan caraku sendiri dan jika memang tidak berhasil…aku akan menerima saranmu”

Yuri mengeluarkan seringai penuh ejekan lalu membalas jabatan tangan Yoona, “Okay, aku terima tantanganmu. Deal?”

“Deal!”

**

 

Yoona menggerutu kesal di ruang makan pagi ini, ia benar – benar jengkel karena hari ini Choi Siwon berhasil ‘lolos’ dari sarapannya. Kemarin malam gadis itu bertekad untuk menyelesaikan skripsinya dan alhasil ia bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkan sarapan untuk suaminya ataupun berangkat kuliah.

Dengan setengah hati, Yoona terpaksa harus menyilang tanggal hari ini di kalender yang diberikan Kyuhyun beberapa minggu yang lalu. Gadis itu menghembuskan nafasnya singkat lalu menopang kepalanya pada tangannya, memandang jauh kearah jendela – jendela kaca yang melukiskan indahnya ibukota Seoul dibawah hangatnya mentari pagi, “Bagaimanapun pria es itu belum sarapan dan aku yakin ia tidak akan tertarik untuk melakukan itu tanpa paksaan.  Lalu aku harus apa?” ujarnya setengah merana.

Diliriknya perlengkapan memasak yang sebelumnya ia pakai untuk membuat sarapannya sendiri, beralih kearah kulkas dan beberapa kotak makan yang berada di dekatnya. Tiba – tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya. Gadis itu tersenyum penuh arti sebelum ia bangkit berdiri dan mulai bersiap untuk mengolah berbagai bahan masakan yang baru saja ia keluarkan. Gadis itu memanaskan air lalu berlari naik ke kamarnya untuk mengambil resep daftar makanan – makanan sehat yang juga diberikan Kyuhyun waktu itu.

Yoona mengangguk riang sebagai pembuka aksinya memasak masakan sehat seperti yang tertulis disana, dan ia pun tidak mengerti mengapa ia begitu bersemangat melakukannya.

**

Tidak ada hal yang dapat membuat Yoona merasa idiot dan kaku seperti sekarang selain kejadian yang ia saksikan tepat di depan matanya sendiri. Euforia yang sudah menyertai setiap langkah Yoona menuju gedung pencakar langit kebangaan milik Jaekyo Group seakan runtuh tepat ketika kakinya memasuki ruangan General Manager yang lebih tepatnya adalah ruangan kerja suaminya sendiri.

Mata gadis itu mengerjap tanpa melepaskan pandangannya kearah subjek yang menjadi poros pandangan kedua iris matanya. Keduanya masih belum menyadari kehadiran Yoona, begitupun dengan Yoona yang ingin rasanya meneriaki langit dan bumi untuk membuat terowongan waktu yang dapat mengantarnya keluar dari ruangan Siwon detik ini juga.

Omo—“

Pagutan bibir keduanya terlepas sepihak ketika sang wanita menyadari keberadaan Yoona yang menatapnya sinis dengan pandangan setajam belati. Tak perlu berpikir keras bagi seorang Siwon untuk mengetahui siapa gerangan yang menghentikan aktifitasnya, pria itu mendesah kecil sebelum membalas tatapan Yoona.

“Seharusnya kau bisa lebih menjaga sikap dengan tidak mengotori ruanganmu dengan hal – hal laknat seperti tadi, Siwon-ssi.” Ujar Yoona sakratis.

Sunny—gadis yang Yoona lihat untuk ketiga kalinya—merengut cuek sembari membenarkan letak pakaiannya yang sudah terekspos bebas, sedangkan Siwon hanya terdiam dengan rahang mengeras mendengar kalimat sakratis Yoona.

“Dan untuk apa kau datang ke ruanganku yang kotor ini, Nona Im?”

Yoona menghampiri Siwon dengan wajah datar, mengambil kotak makanan dan meletakannya di atas coffee table di hadapan Siwon dan Sunny. Keduanya mengeluarkan ekspresi berbeda dengan kehadiran kotak makanan itu.

“Aku membuatkanmu bekal berhubung tadi pagi kau tidak sarapan”

Suara tawa tiba – tiba menggelitik gendang telinga Siwon dan Yoona. Siwon memejamkan matanya malu sedangkan Yoona hanya menatap sinis kearah Sunny yang berusaha keras untuk menghentikan aksi tertawanya.

“Astaga oppa, aku tidak tahu kalau kau masih diperlakukan seperti bocah ingusan yang lupa dibawakan bekal ke sekolah.”

Siwon menatap Yoona marah sekaligus malu yang dibalas dengan tatapan tak kalah sengit dari gadis itu. “Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan saat ini, huh?”

Suara mencekam Siwon sukses membuat Sunny menghentikan tawanya dan Yoona mengerjap kaget. Namun ia tidak akan menyerah, Yoona menegapkan tubuhnya dan balas menatap Siwon, “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan”

Tawa sinis keluar dari mulut Siwon, “Berhentilah mencampuri urusanku!”

Yoona terlonjak di tempatnya. Kini ia tidak berani berkata apapun lagi melihat kemarahan suaminya, begitupun dengan Sunny yang beringsut takut. Siwon bangkit berdiri, berjalan perlahan mendekati Yoona yang kini memasang mode siaga, gerakan mundur teratur dilakukan oleh Yoona saat Siwon semakin mengintimidasinya dengan tatapan khas milik pria es itu.

“Aku tidak butuh perhatianmu,” Yoona mengerjap takut melihat pandangan menggelap Siwon padanya, “dan aku juga tidak butuh segala hal yang harus kau lakukan sebagai istriku, karena seharusnya kau sadar pernikahan ini tidak lebih dari aib terbesar yang pernah kuterima sepanjang hidupku, termasuk keberadaan dan statusmu sebagai pendamping hidupku! Kenapa kau menikah denganku—ani, mengapa kau harus muncul dalam kehidupanku? KENAPA!?”

Tidak hanya Yoona yang tercengang dan membeku mendengar kalimat menyayat hati Siwon, namun Sunny yang sejak tadi berusaha mengalihkan perhatiannya dari pertengkaran ‘suami-istri’ di depannya pun bahkan menganga lebar.

Buliran air mata tanpa permisi mulai menggenangi pelupuk mata Yoona, membuat Siwon terkesiap dan sedikit tak percaya. Yoona dapat merasakan tubuhnya terasa lemas dan pikirannya melayang selama beberapa detik sebelum kesadarannya mulai terkumpul ketika ia menyadari air mata itu. Cepat – cepat Yoona menghapusnya, tangannya yang bebas meremas ujung kausnya tanpa berminat menatap Siwon kembali, karena sama saja ia membuat luka yang ada semakin menganga lebar.

Tanpa banyak berkata apapun, Yoona mengangguk kecil lalu tertawa pedih, “Geurae, sepertinya memang begitu. Seharusnya aku menyadarinya. Baiklah, aku akan melakukannya. Mulai besok aku akan berhenti melakukan hal yang tidak perlu seperti ini. Aku permisi.” putus Yoona sebelum benar – benar angkat kaki dari ruangan Siwon ini, setidaknya aura menyegarkan kembali menjadi atmosfernya mengingat ia tidak perlu melihat suaminya lagi.

Sedangkan Siwon justru tak sanggup menggerakan tubuhnya pasca kepergian Yoona. Ia merasa terganggu melihat air mata Yoona entah karena alasan apa, dan ia pun menyesali apapun yang ia katakan sebelumnya, bahkan kehadiran Sunny yang selalu membuatnya senang kini menjadi salah satu batu sandungan untuk perasaan menenangkan yang berusaha memasuki relung hatinya. Alhasil Siwon hanya menatap hampa kearah pintu ruangannya yang sudah tertutup sejak beberapa menit yang lalu.

Dan tanpa mereka sadari, benang merah yang mengikat mereka terasa semakin mencekik keduanya dengan sebuah rantai mematikan yang tak akan pernah hilang.

**

Pantulan sinar matahari membalut aliran air Sungai  Han dengan begitu cantik, pembiasan langit sore itu menandakan sang raja siang bersiap untuk mengucapkan salam perpisahan manis pada seluruh masyarakat di dunia untuk mengawali tidur panjangnya dan digantikan oleh sang ratu yang bersiap memancarkan sinar selembut bulu pada bumi. Angin musim gugur berhembus, membuat surai rambut Yoona berterbangan dan pergerakan tangan Yoona untuk menghalau udara dingin yang terasa semakin menusuk seiring berjalannya jarum jam.

Setelah kejadian di kantor Siwon, Yoona memutuskan bersantai di pinggir Sungai Han, tempat dimana ia selalu bisa menghalau perasaan gundah maupun terpuruk yang sering ia alami setiap mengalami masalah. Gadis itu hanya duduk di rerumputan terdekat dengan sisi sungai ditemani dengan segelas teh hangat yang dijual di sepanjang taman Sungai Han.

“Aku tidak butuh perhatianmu dan aku juga tidak butuh segala hal yang harus kau lakukan sebagai istriku, karena seharusnya kau sadar pernikahan ini tidak lebih dari aib terbesar yang pernah kuterima sepanjang hidupku, termasuk keberadaan dan statusmu sebagai pendamping hidupku!”

“Kenapa kau menikah denganku—ani, mengapa kau harus muncul dalam kehidupanku?”

Pil pahit itu terasa kembali mengisi tenggorokan Yoona sehingga gadis itu harus kembali merasakan rasa pedih akibat luka yang dibuat oleh Siwon beberapa jam yang lalu setiap mengingat kalimat Siwon. Gadis itu memejamkan matanya secara perlahan, berusaha melupakan Siwon dan keinginan untuk menyerah mengubah sikap Siwon datang begitu saja.

Namun detik berikutnya ia sadar kesalahan apa yang saat ini sedang ia pikirkan. Tidak, ia tidak boleh menyerah. Nyawa ayahnya berada dalam genggaman tangannya sendiri, entah apa yang akan terjadi pada ayah dan keluarganya jika Yoona berani keluar dari ‘permainan’ ini. Yoona menghembuskan nafasnya kasar sambil menenggak air teh itu kembali tanpa menyadari seorang pria yang kini sedang menatapinya penasaran.

 

“Yoona-ssi?”

Gadis itu menoleh begitu mendengar suara familiar memanggil namanya, detik berikutnya ia mendapati kehadiran seorang pria berwajah tampan yang kini tersenyum kearahnya penuh kelegaan, “Donghae-ssi?”

Lee Donghae tersenyum ramah kearahnya, “Wah ternyata ini benar – benar kau. Aku kira aku salah melihat orang. Boleh aku duduk disampingmu?”

Yoona mengangguk. Entah mengapa diantara semua teman Siwon, ia selalu menyukai Donghae. Selain pria inilah yang pertama kali bertemu dengannya diantara tiga teman Siwon yang lain, ada aura menyenangkan dan easy-going yang memancar dari dalam diri Donghae sehingga membuat Yoona nyaman dan perasaan canggung pun tidak pernah menyelimuti keduanya.

Dnghae duduk disamping Yoona dengan santai lalu meletakan buku gambar berukuran F4 yang ada di tangannya beserta satu set pensil warna merk terkenal disampingnya.

“Kau menggambar apa?” tanya Yoona dengan nada kagum yang tak ditutup – tutupi melihat coretan tangan Donghae yang terlihat begitu indah dan cantik.

Donghae tersenyum lalu mengelus kertas itu pelan, “Begitulah, tuntutan profesi dan hobi yang saling berkesinambungan.” desahnya bangga.

“Oh?” Yoona mengerjap, “Kau seorang arsitek?” tebaknya.

Donghae memiringkan kepalanya ke kanan mempertimbangkan jawabannya, “Entahlah, sepertinya tidak bisa dibilang seorang arsitek, aku pemimpin Jung Corp dan Dongwook Industries, aku jarang sekali turun ke lapangan langsung jika menangani sebuah proyek. Terkadang aku harus berpuas diri melihat hasil kerja para arsitek kantorku yang menangani sebagian proyek – proyek.”

Yoona mengangguk paham lalu kembali memusatkan perhatiannya pada riak air sungai di depannya. Keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa menit, seakan mereka terlalu terhipnotis dengan fenomena alam yang selalu terjadi setia dua belas jam sekali itu.

“Apa kau ada masalah?”

Sontak pertanyaan Donghae membuat fokus Yoona beralih pada wajah tampan itu—yang kini sedang menatap ke depan tanpa berniat membalas tatapan Yoona. Yoona bungkam dan memilih mengalihkan pandangannya dari Donghae.

Donghae tersenyum tipis, “Sepertinya memang iya,” Donghae lalu menepuk bahu Yoona lembut, “Ceritakanlah padaku. Mungkin kita baru beberapa bulan saling mengenal, tapi kau sudah kuanggap sebagai adik perempuanku sendiri.”

Yoona tertawa pelan lalu menggeleng kecil, “Bukan hal besar, aku hanya sedang…sensitif.” jawab Yoona asal, mengabaikan iris mata Donghae yang menatapnya tak percaya.

Donghae mengangkat bahunya acuh tak acuh, “Aku tidak tahu apa yang menjadi masalahmu saat ini sehingga wajahmu terlihat begitu sendu dan merana seperti ini—walaupun sebenarnya aku bisa menebaknya dengan mudah.”

Kini Yoona yang memandangan Donghae meminta penjelasan dan kedua mata mereka pun saling bertatapan. Yoona memutuskan kontak itu dengan desahan kuat serta dorongan untuk memejamkan mata serta menunduk adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

 

Donghae mengabaikan isakan tangis Yoona yang mulai menggema di gendang telinganya. Ia tidak berniat untuk menenangkan Yoona seperti layaknya pria pada umumnya, ia hanya berusaha mengerti posisi Yoona yang saat ini sangat ingin menangis namun tak dapat ia ungkapkan secara gamblang. Bahkan baru beberapa bulan mengenal gadis ini, Donghae tahu satu karakter Yoona yang tidak disukainya sejak awal; memendam segalanya seorang diri.

“A-aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” ujar Yoona menggantung.

“Tanyakanlah.”

“Apa kau akan mempertahankan seseorang yang kau cintai meskipun kau tahu perasaanmu ini terlarang dan bahkan…orang yang kau cintai itu sangat membencimu?”

Donghae terbelalak mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka Yoona akan menanyakan hal ini padanya. Jujur saja, ia bingung dengan apa yang harus ia ucapkan, ia tidak mau gadis itu semakin kacau disini.

“Sejujurnya aku tidak tahu harus menjawab apa,” ujarnya pelan, “namun untuk jawaban pertanyaanmu, aku akan berusaha mempertahankannya sebisa mungkin selama aku masih mampu melakukannya. Karena itulah kejamnya permainan takdir. Takdir adalah sebuah misteri yang Tuhan dan kita rajut bersama. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita pun tidak dapat mengulang kejadian di masa lalu yang sudah kita pilih. Saat ini, yang harus kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik sampai Tuhan mempertemukan kita dengan titik temu dari pilihan kita sendiri. Kau gadis yang baik, Yoona-ya. Aku sudah menyadarinya bahkan saat pertama kali kita bertemu, aku hanya berharap kau mengikuti takdir dari pilihanmu sendiri—dengan mempertahankan Siwon. Apa kau pernah mendengar istilah ‘Cinta adalah sebuah bunga yang berubah menjadi buah dalam perkawinan’? Saat ini, mungkin perasaan itu belum berkembang, namun seiring berjalannya waktu perasana itu akan tubuh dan menciptakan sebuah buah pernikahan yang manis. Karena sekali lagi, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.”

Yoona mendengarkan semua perkataan Donghae. Tangisannya sudah berhenti dan kini otaknya sibuk mencerna apapun yang Donghae katakan.

Donghae beranjak dari tempatnya, membereskan segala peralatannya diiringi dengan tatapan Yoona yang terus mengamati pergerakannya. “Aku harus pergi, kantor membutuhkanku.”

Yoona mengangguk, kini gadis itu kembali ke posisi semula—memandang sendu kearah Sungai Han dengan raut wajah sedikit cerah.

“Satu hal lagi, Yoona-ya,”

Yoona menoleh, memandangi punggung tegap Donghae yang menyambutnya, “Jangan menyerah pada Siwon. Bertahanlah sedikit lagi. Kumohon, jangan.”

Yoona tidak berniat membalas permohonan Donghae, gadis itu hanya memandangi punggung tegap yang semakin menjauhinya. Gadis itu kembali memejamkan matanya, meresapi setiap sentuhan kasat mata angin pada wajahnya tanpa berniat membukanya lagi. Ia merasa aman dan nyaman hanya dengan melakukan ini, ia merasa kekuatannya seakan terkumpul kembali untuk melawan Choi Siwon.

.

.

Jarum jam masih menunjukan pukul delapan malam, namun keajaiban terjadi di sebuah penthouse mewah di pusat kota metropolitan Seoul. Choi Siwon terus melirik kearah jam dinding diatasnya, menekan deretan angka pada remote TV yang ada dalam genggamannya, atau menenggak wine dalam gelas crystalnya. Namun semua yang biasa ia lakukan tak sanggup membuat pikirannya teralihkan dari kenyataan bahwa Im Yoona—tidak seperti biasanya—belum sampai di rumah.

Sebersit perasaan khawatir dan tidak enak kembali menghantui Siwon. Semenjak kejadian tadi siang di ruangannya, ia merasa bersalah pada gadis itu tanpa alasan yang tak ingin ia ketahui. Terlebih untuk pertama kalinya ia melihat Yoona menangis saat diperlakukan buruk olehnya.

Dan disinilah dirinya, menunggu Yoona datang dan bahkan pulang nyaris lima jam dari biasanya.

KLIK~

Bunyi apartement yang terbuka membuat Siwon yang mendengarnya sontak berdiri, mata tajamnya menatap Yoona yang melenggang masuk dengan tatapan menuduh. Pria itu bangkit berdiri mendekati istrinya yang sepertinya belum menyadari kehadirannya di ruangan ini. Terbukti, Yoona sejak tadi sibuk memijat tengkuknya yang terasa pegal, membuka sepatu, lalu memasukan ponselnya ke dalam tas tangan yang sebelumnya ia pakai tanpa sekalipun menoleh kearah Siwon.

“Apa setiap harinya kau pulang semalam ini? Apa kau tidak lihat rumah berdebu?”

Yoona langsung terlonjak dari tempatnya, matanya terbelalak kaget lalu mengerjap mendapati sosok Siwon berdiri tegap di depannya dengan tangan melipat di depan dada, sorot matanya penuh intimidasi dan menuduh.

“Choi Siwon?” gumam Yoona ragu. Ia takut berhalusinasi mengingat hampir sepanjang hari hanya sosok suaminya yang bersarang dalam pikirannya.

“Hadir, songsaenim!” sindir Siwon penuh penekanan.

Yoona terbelalak, gadis itu reflek melirik kearah jam tangannya dan kembali menatap Siwon—yang masih menatapnya dengan cara yang sama, “K-kau sudah pulang? Ini masih jam delapan malam.” ujar Yoona sedikit bingung.

Siwon menyipitkan matanya kearah Yoona, “Memang ada yang salah jika aku pulang jam delapan malam? Eo, atau setiap harinya jam pulangmu memang jam delapan malam jika tak ada aku?”

Yoona memutar bola matanya jengah lalu menatap Siwon jengkel. Ada apa dengan pria ini? Sebelumnya ia memaki Yoona dan bahkan dengan jelas meminta Yoona untuk tidak memerdulikannya, dan lihatlah situasi mereka saat ini. Choi Siwon tidak ada bedanya dengan seorang suami protektif yang tidak suka melihat istrinya masih menghirup udara malam seorang diri.

Yoona mengangkat kantung – kantung belanja yang sempat ia bawa sebelumnya, menunjukan pada Siwon alasan keterlambatannya, “Aku membeli bahan makanan. Persediaan makanan di dalam sana sudah menipis.” ujar Yoona datar. Siwon masih memandangi Yoona intens sebelum mendengus jengkel lalu meninggalkan Yoona.

“Apa kau sudah makan malam? Kalau belum, aku akan memasakannya untukmu.”

Yoona mengatakannya sambil berjalan memasuki dapur. Ia dapat merasakan tatapan Siwon menusuk punggungnya yang memanas. Ia bahkan tidak mau menerka apapun yang ada dalam pikiran pria itu, ia hanya tahu bahwa memang seharusnya inilah yang ia lakukan. Melakukan tugasnya dengan baik, seperti melayani Siwon sebagai seorang istri yang baik.

“Tidak, terima kasih.” tolak Siwon kasar.

Yoona mengangkat bahunya tak peduli. Gadis itu pun masuk ke dalam ruangan penyimpanan makanan tanpa menyadari tatapan Siwon yang terus menatapnya.

Entah apa yang Siwon rasakan saat ini. Ia tidak suka dengan sikap Yoona beberapa menit yang lalu padanya, ia merasa aneh dan tidak nyaman dengan sikap Yoona yang terlihat tidak peduli padanya. Siwon merasa ini tidak benar dan mau tidak mau perasaan menyesal pun kembali menyelimutinya begitu mengingat perkataan Yoona padanya sebelum angkat kaki dari ruangannya.

Tak lama Yoona keluar dari ruangan itu. Ia mendapati punggung tegap sang suami sedang menikmati indahnya Seoul dari ketinggian dibalik jendela kaca penthouse mereka. Gadis itu mengikat asal rambutnya sebelum mengambil sapu dan menyiapkan alat pel. Seperti biasanya, Yoona selalu membereskan rumah tak lama setelah ia sampai dirumah.

Sekali lagi Siwon memandangi Yoona dari pantulan bayangan istrinya, objek pandangannya seketika berubah tepat setelah Yoona berada di sekitarnya. Hatinya mendesir melihat Yoona dengan telaten membersihkan setiap inchi rumah dengan wajah santai seakan sudah terbiasa dengan hal itu. Suatu pemandangan yang sudah lama tak Siwon lihat dan tentunya hal ini tidak akan pernah pria itu dapatkan pada wanita – wanita malamnya.

MWOYA!

Pekikan ngeri Yoona memecahkan keheningan penthouse. Siwon menoleh hanya untuk mendapat lirikan tajam dari sang istri. “Bisakah kau kecilkan suaramu?” desah Siwon jengkel.

Yoona melempar sapu itu sembarangan, berjalan tergesa – gesa kearah Siwon yang tengah menikmati wine-nya santai. Siwon tersenyum sangat tipis melihat wajah menahan marah milik Yoona, entah mengapa ia mulai menyukainya. Tunggu, sebenarnya ada apa dengan dirinya?

“Berikan padaku!” Yoona mengadahkan tangannya kearah Siwon yang masih berpura – pura bodoh.

Mwoga?” tanyanya santai.

“Gelas crystal dan botol wine itu, cepat berikan padaku!”

Siwon menyeringai sinis, “Never, yeobo.” olok Siwon.

Wajah Yoona memerah menahan amarah. Tidak, ia tidak bisa membiarkan Siwon terbiasa menenggak cairan-tidak-sehat ini, bagaimanapun ini salah satu hal yang harus diubah dalam diri Siwon.

“Cepat berikan padaku atau aku benar – benar akan melakukan hal buruk pada keduanya.”

Pria itu mengangkat dagunya seakan menantang sang istri untuk melawannya, “Then do it!

Gadis itu berdecak meremehkan melihat kebodohan Siwon yang melawannya, sang master bela diri yang bahkan sudah diakui kemampuannya oleh perlombaan tingkat International beberapa tahun yang lalu. Yoona menyesali keputusan Siwon untuk melawannya, mau tidak mau ia harus membuat pria ini jera.

Yoona mulai mengeluarkan kemampuan bela dirinya dimulai dari pergerakan matanya. Ia menggunakan teknik ‘Snake Kungfu’ yang menjadikan mata sebagai pusat pergerakan dan bahkan sarana penghilang fokus lawan. Sama seperti Choi Siwon saat ini, pria itu mengerjap heran melihat pandangan mata Yoona yang terlihat fokus dengan kepala dimiringkan ke kanan dan ke kiri secara bergantian.

Secepat angin, tangan Yoona menyelinap ke balik punggung Siwon, meraih botol dan gelas crystal yang sempat disembunyikan sang suami dari jarak pandangnya. Pergerakannya sangat halus, bahkan Siwon terbelalak melihat keduanya berada dalam genggaman Yoona hanya dalam sepersekian detik.

Yak!

Yoona tertawa pelan mendengar derap langkah Siwon yang mengejarnya menuju dapur. Yoona  membuka penutup botol wine itu, membuang cairan mahal itu dengan santainya tanpa memedulikan bola mata Siwon yang nyaris keluar melihat cairan dalam botol wine-nya terbuang dengan cara yang sangat mengenaskan.

YAK IM YOONA! SEBENARNYA APA MAUMU!”

Siwon kalap, ia membanting botol kosong yang ada dalam genggaman Yoona, menyeret dan membanting tubuh Yoona kearah lemari kaca tempatnya meletakan gelas – gelas crystal-nya. Oh, bahkan pria itu sudah tidak peduli dengan hal itu. Yoona meringis kecil mendapat hantaman menyakitkan itu.

Kini tubuh kekar Siwon menghimpit tubuh mungil Yoona, membuat gadis itu tak dapat berkutik sedikitpun. Sorot matanya menggelap, menandakan pria itu sedang berada dalam puncak emosi yang tak dapat ditahan.

“Gadis sialan, wine yang baru saja kau buang adalah Boutari Santorini, salah satu dry white wine termahal dan terlangka di daratan Yunani dan kau dengan santainya membuangnya begitu saja? ”

Yoona sejujurnya cukup takut melihat kondisi Siwon saat ini, namun ia tidak boleh menyerah, wine tidak baik untuk kesehatan Siwon. Kini, ialah yang mengangkat dagu menantang sang suami. “I don’t even care with that fucking dry white wine from Greece! Yang aku tahu saat ini, aku harus menyingkirkan minuman tak berbobot itu darimu!”

“KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGATURKU!”

“AKU PUNYA!” balas Yoona dengan nada tinggi, “AKU ISTRIMU!”

“And it doesn’t mean you can treat me like your fucking husband, our marriage is fake!”

Ani, pernikahan kita sah secara hukum maupun agama. Jadi, selama aku masih menjadi istrimu, tidak akan kubiarkan kau melakukan apapun sesukamu, Choi Siwon-ssi.” debat Yoona.

Siwon mendesis marah, “Aku tidak menyangka kau serendah ini, Im Yoona-ssi. Sebesar itukah harapanmu untuk menjadi istriku seutuhnya? Jangan pernah berharap!”

Gadis itu tertawa sinis tanpa melepaskan kontak mata keduanya, “Jangan bergurau, aku hanya melakukan kewajibanku, tidak lebih. Salah satu kewajibanku adalah merubah kebiasaan burukmu meminum minuman tak berbobot itu, aku akan memastikannya sendiri!”

Siwon menyeringai sinis, “Geurae, buktikan padaku apa caramu untuk menjauhkanku dari ini semua. Aku menantangmu melakukannya sekarang juga, istriku.” sindir Siwon penuh penekanan.

Yoona menahan ledakan emosi dalam dirinya. Siwon dan Yoona masih saling melempar tatapan sinis, saling menatap dengan tatapan permusuhan yang begitu mendominasi. Dalam aksi itu, Yoona terus memikirkan cara bagaimana ia bisa menjauhkan Siwon dari hal – hal tak pantas yang selama ini ia jalani.

Yoona mengerjap saat mendapatkan sebuah ide cemerlang yang tiba – tiba datang menghampiri jalan pikirnya. Astaga, mengapa ia tidak pernah memikirkan hal ini? Ia yakin seratus persen Siwon benar – benar akan terkurung dalam aturan Yoona.

Yoona tersenyum miring, jemarinya yang sebelumnya pasif mulai merambat naik menuju tengkuk Siwon. Pria itu mengerjap dengan tubuh menegang. Tatapan mata Yoona pun berubah penuh menggoda seakan meminta Siwon ‘melakukan sesuatu bersama’ sekarang juga. Yoona mulai merapatkan tubuh keduanya untuk bergerak menjauhi lemari. Gadis itu membawa kepala Siwon tenggelam dalam bahunya, membiarkan feromonnya tercium indera penciuman sang suami yang kini menundukan tubuhnya mencecapi aroma itu lebih mendalam. Siwon susah payah menelan salivanya, melihat Yoona yang menampakan wajah menggoda membuat tubuhnya kembali kacau.

 

Namun ekspektasi liar Siwon berubah sedetik berikutnya. Yoona tidak berniat menggoda Siwon, gadis itu berniat membekukan seluruh pergerakan Siwon.

Semua tindakan Yoona hanyalah kamuflase belaka. Tangan yang memeluk bahu Siwon ternyata digunakan Yoona untuk menopang bobot tubuhnya ketika kedua kakinya melangkahi punggung Siwon, pahanya menjepit kepala sang suami, memutar dan membanting tubuh kekar Siwon ke tanah tepat ketika bokongnya mencium lantai marmer dibawah mereka.

“AH!”

Siwon dapat merasakan tulangnya terasa patah ketika seluruh tubuhnya bertabrakan dengan lantai marmer secara mendadak tanpa persiapan, ia tidak bisa bergerak karena kepalanya tertahan oleh cekikan kaki Yoona yang menjepit batang lehernya dari atas dan bawah.

Siwon tercengang, ia benar – benar tidak tahu kalau Yoona ahli bela diri. Dan hari ini, ia menyadari itu semua, terlihat dari gerakan Yoona yang begitu mulus dan tak terduga, membuatnya merasa ini hanyalah mimpi.

“K-kau….Im Yoona…k-kau—“

“Terkejut, tuan Choi?” ujar Yoona tampak bangga karena rencananya berhasil.

Siwon masih tidak percaya dengan ini semua. Bahkan lidahnya terasa kelu untuk bicara atau melakukan perlawanan terhadap sang istri. “A-apa yang kau—sejak k-kapan kau bisa bela diri?”

Yoona tertawa meremehkan, “Sejak seribu tahun yang lalu, Choi Siwon-ssi.” ujarnya bangga.

Siwon masih terlalu shock untuk berkomentar, ia hanya melakukan perlawanan kecil. Sungguh, ia merasa malu dengan istrinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang Im Yoona bisa melakukan hal – hal yang tak pernah terbayangkan sama sekali oleh Siwon?

Y-yak! Kau mau apa? YAK!

Yoona tertawa penuh kemenangan melihat Siwon meronta dalam kuasanya saat ia mengambil borgol—yang ia siapkan jauh – jauh hari untuk berjaga – jaga—dari laci di dapur itu, lalu mulai memborgol kedua tangan Siwon dengan borgol miliknya.

NEO MICHESSEO? APA YANG KAU LAKUKAN? YAK MICHIN YEOJA! IGEONWA!”

Yoona membantu Siwon yang masih meronta dalam kuasanya untuk berdiri. Siwon yang sebelumnya bersiap untuk menyakiti Yoona, kini terpaksa harus berada dalam kurungan kekuasaan sang istri dengan keahlian yang sangat mengguncang jiwa dan raga Siwon.

YAK IM YOONA CEPAT LEPASKAN INI ATAU AKU AKAN MELAPORKANMU PADA POLI—hmpphhh—“

Yoona menekan kedua pipi Siwon lalu menyumpal kain putih ke dalam mulutnya sehingga rontaan Siwon pun tak dapat terdengar Yoona. Gadis itu mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menarik Siwon yang berusaha keras untuk melarikan diri dari Yoona. Hingga akhirnya keduanya sampai di kamar Siwon.

Yoona mendorong Siwon yang tersungkur keatas tempat tidurnya dengan sangat tidak lembut. Siwon berniat untuk kabur, namun dengan gesit Yoona mendudukan tubuhnya diantara kedua kakinya sebelum mengeluarkan borgol lainnya. Gadis itu tertawa melihat wajah ketakutan Siwon, terlebih saat ia menyambungkan borgol di tangan Siwon dengan headboard tempat tidurnya sehingga kini Siwon benar – benar tak dapat berkutik.

Yoona belum berniat melepaskan sumpalan mulut Siwon sebelum ia menghubungi tuan Choi Kiho. Yoona merogoh kantung celana Siwon, mencari nomor kontak sang mertua lalu mulai menghubunginya.

Yeoboseyo? Abeonim …..ne, aku ingin mengatakan bahwa Siwon tidak bisa hadir selama beberapa hari ke kantor karena aku akan mengajaknya ke suatu tempat ….gomapseumnida, abeonim.

Yoona mengakhiri panggilannya lalu menoleh kearah Siwon yang menatapnya menuntut jawaban. Gadis itu mendesah malas, berjalan mendekati sang suami dan langsung mengambil sumpalan kain itu dari mulutnya. Kini Siwon pun kembali bebas untuk bicara.

Ya-yak, apa kau teroris? Kau perampok yang menyamar menjadi calon istriku untuk menguras hartaku, bukan begitu? LEPASKAN AKU!”

Yoona memutar bola matanya mendengar dugaan konyol Siwon. Wajah gadis itu mendekat kearah Siwon, menatap Siwon jenaka, “Ya, aku memang perampok yang akan merampas sesuatu darimu. Tapi bukan harta, tapi hal – hal burukmu yang akan kurampas. Sampai jumpa besok, Siwon-ssi.”

YAK MICHIN YEOJA! KAU AKAN MEMBIARKANKU TIDUR SEPERTI INI? LEPASKAN BORGOLNYA! YAK! YAK!

Bahkan sampai pintu tertutup pun Yoona tidak menjawab apapun pertanyaan Siwon. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada pintu kamar Siwon, memandang pintu kamar itu melalui bahunya lalu membuang nafasnya kasar.

Sejujurnya ia tidak mau kemampuannya diketahui oleh Siwon, namun ia tidak bisa melakukan hal lain agar Siwon bisa berubah—dan dapat dengan mudah dibawa ke suatu tempat yang akan mengubah Siwon.

“Siwon-ah, aku melakukan ini semua demi kebaikanmu.”

.

.

“CHOI SIWON IREONA!”

Lengkingan suara Yoona sukses membangunkan jiwa pemalas Siwon. Pria itu sigap duduk dengan keadaan seadanya, dengan mata sayu pria itu mendongak keatas dan mendapati Yoona menatapnya kesal.

“Sekarang jam berapa? Mengapa kau baru bangun?”

Siwon mendesis jengkel, “Menurutmu aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini, huh?”

Yoona mengangkat bahunya cuek. Tanpa berniat memperkeruh suasana, Yoona membuka kedua borgol itu dan membiarkan Siwon merenggangkan otot – otot tangannya yang terasa kaku akibat ulah Yoona.

Siwon menatap Yoona dengan dongkol. Ada keinginan untuk membentaknya, namun mengingat kejadian semalamam, terpaksa Siwon harus memendam keinginan itu jika ia tidak ingin diborgol atau disumpal lagi. Astaga, semalam benar – benar hal yang membuat harga dirinya terjun bebas.

“Mandi dan bersiap. Seperti perkataanku pada abeonim kemarin malam, kita akan pergi ke suatu tempat selama beberapa hari?”

“Kita akan kemana? Tempat perkumpulan teroris?” debat Siwon jengkel.

Yoona menyeringai licik dan hal tersebut sukses membuat Siwon bergidik ngeri, “Well, kau akan tahu nanti.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Bersiaplah melihat beberapa jurus yang tak pernah aku keluarkan sebelumnya.”

Siwon berniat mendebatnya namun ia urungkan niat itu. Sambil menggerutu, Siwon berjalan lurus kearah kamar mandi tanpa menoleh lagi kearah Yoona. Gadis itu pun senang melihat perubahan sikap Siwon padanya, oh tentu saja ia yakin Siwon akan lebih menjaga sikap pada Yoona.

Sembari menunggu Siwon, Yoona mulai mengecek jadwal keberangkatan bus menuju ‘destinasi’ mereka. Yoona melirik jam dinding di kamar Siwon, ia memastikan mereka masih ada waktu satu jam untuk bersiap.

“CHOI SIWON! Mandi dengan cepat karena kita harus tiba di halte satu jam dari sekarang, jika sampai terlambat, aku benar – benar akan memarahaimu!”

MWO? BUS? KITA AKAN KEMANA?”

.

NEXT CHAPTER

.

“Katakan padaku, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Sungmin?”

Yoona mengerling kearah Siwon, ia sedikit ragu untuk menjawabnya, “Dia…mantan kekasihku.”

MWO?

To Be Continue

A/N [2016/06/27] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

Annyeong! Akhirnya author bisa post FF juga-_- maafkan kelambatan author yg satu ini ya, serius deh udah berusaha sebaik mungkin buat nyolong2 waktu buat bikin FF tapi tugas sama ulangan numpuk terus, ini pun kelar karena lagi dapet perselangan libur yang ganti-ganti hari ituloh, ada yang ngalamin juga? Kkk~

 

Huft akhirnya part 8 selesai juga^^ gimana menurut kalian part ini wkwk gak tau ya aku pas bayangin mereka di scene terakhir ketawa – ketawa sendiri. Aigoo, imajinasiku bener – bener aneh😄 dan disini mulai menuju kearah2 cinta antara mereka, dan karena aku terlalu bosen sama ide perjodohan yang flat-flat aja, jadilah seperti ini kkk~ sekarang pada ngerti dong kenapa Yoona bisa bela diri di FF ini? INILAH FUNGSINYA LOL

Sebenernya aku lagi sibuk banget di sekolah. Terlebih, sekolahku ada proyek sama salah satu stasiun TV untuk buat film dan kebetulan banget aku bagian salah satu staff atas yang kerjaannya banyak so aku bener – bener nyolong2 waktu buat bikin FF. I’m sorry readers but I’ll try my best T______T

Oh iya, pada penasaran gak kira – kira mereka kemana? Dan kenapa Yoona yakin Siwon bakal berubah? Dan siapa itu Sungmin? WKWKWK yang penasaran tahan dulu ya, semua akan terjawab di CHAPTER 9^^

See you on the next chapter<3

327 responses to “[FF] Belle in the 21st Century (Chapter 8) – Beauty’s Hidden Ability

  1. Hahahha bikin ngakak abis siwon ketakutan akibat ulah yoona hahahha
    Jadi selama ini siwon ga tau klo istrinya jago bela diri hahaha kasian sekali ini abang kuda
    Mau dibawa kemna siwon ya sama yoona ?
    Ko naik bus segala
    Aaah makin penasaran dengan klanjutan ceritanya
    Oh yoona please jngan menyerah hanya karna sikap judes siwon hwathing!!!
    Di tunggu

    Like

  2. Ciiee siwon khawatir udah malem yoona blm pulang,
    tapi kata2 siwon yg di kantor itu bener2 menyayat hati banget, lidah siwon bner2 tajem banget, syedih yaa yoona apalagi msih aja prempuan centil itu muncul…
    ahahaha lucu di part terakhirnya siwon kalah dikungkunga yoona pake segala diborgol lagi, siwon blm tau yaa istrinya itu jago bela diri… seru seru…
    kira2 yoona mau ajak siwon kemana ? naik bus ? trus di chap slanjutnya bakal muncul sungmin ? addduuhh next deh..

    Like

  3. Makin so sweet aja yoonwon… Kesini kesini jd deket …bagus deh ya dan semakin menarik aja ini ff aku ngefans bgt lah , favorit bgt lah nih ff selalu bikin aku penasaran dan puas ngebacanya

    Like

  4. Siwon lucu sebel tapi perhatian, making kesini making seru.
    Sudan terlihat kertertarikan siwon.

    Lnjut Thor.
    I am waiting

    Like

  5. aduhh siwon mulai khawatir liat yoona belum pulang
    yoona top bgt deh bisa ngeborgol siwon dengan jurus beladirinya xD
    next ^^

    Like

  6. Siwon yg malang,, hahaha makanya jgn suka ngeremehin yoona.. Kocak banget si mereka berdua.. Aku suka part ini, karna siwon udh mulai khawatir sm yoona.. Kayanya dipart 9 siwon cemburu sm yoona,,, ah ga sabar bacanya

    Like

  7. Sumpaah ngakak abis,,,
    Seneng bgt liat siwon oppa takluk sama yoona eonnie
    Kira2 yoona eonnie bakalan bawa siwon oppa kemana ya
    Penasaran sama kelanjutan ya
    Next next eonnie

    Like

  8. Jaaah siwonnya udah mulai perhatian😆😆
    Lanhut thor!! Suka bgt sm critanya❤️❤️

    Like

  9. yoona jadi baper deh, siwon juga udh suka sama yoona tuh .
    lucu baca adegan siwon dilumpuhkan yoona .
    kenapa selalu ada sunny ?

    Like

  10. Pingback: [FF] Belle in the 21st Century [Chapter 11] – My Beauty | kkezzgw·

  11. Bikin tawa sendiri liat siwon ampe terbengong2 dikalahin istrinya, ga nyangka yaa bang selain cantik ternyata pinter bela diri wkwkwk
    tapi sakit hati nih bagian kantor, seharusnya istri yg marah liat suaminya lg bercumbu..ehh malah dia yg marah2. Wlpn begitu ada senengnya juga, krna yoona berhasil nyentil siwon dengan airmatanya sampe ngkhawatirin istrinya yg belom pulang kkk~

    Like

  12. Saya suka cara penulisan yg dilakukan oleh author. Sangat mengikuti tata penulisan dgn baik. Luat biasa.
    Terkait cerita, luar biasa. Imajinasi yg di suguhkan benar2 baik. Cara penalaran author teesusun rapih dr chap 1 sampai 8.

    Like

  13. siwon emang klo ngomong g bisa disaring dulu..
    nyesel juga kan klo gitu..
    nyebelin deh knapa dmna2 yoona hrus liat adegan g pantas suaminya dg yeoja penggoda itu..
    tpi seneng juga sih siwon khawatir ke yoona
    jdinya kan dia udah takut kehilangan yoona mskipun blom sadar2 juga klo suka yoona..
    yoona keren bgt bela dirinya..
    g nyangka deh bisa buat naklukin siwon😀
    ati2 ya oppa klo bersikap ke yoong eonno hrus yg lembut jgn kasar2
    nanti klo jurusnya yoong dikeluarin smua tau rasa loh..😀

    Like

  14. Buat part ini bener” kocak banget ya ampun bacanya aja sampe ketawa” sendiri ahahahaha tapi yoona nya sadis juga ya ahahahah masa siwon tidurnya di borgol gitu ya ampun 😅😅😅 tapi tak apa di tinggu next part nya ya fighting

    Like

  15. Thor part terakhir benar2 bikin ketawa aku pikir yo0na akan menggoda siwon eh ternyata. Sungmin? Apakah ia yg akan menjadi org ke3 dlm hubungan y0onwon

    Like

  16. Haduwh oppa ngaku ajaa dech klow udh mulai jatuh cinta sm oenni. Hahhaha oenni yoona bner2 kuat smpai bsa melumpuhkan siwon oppa..

    Like

  17. bunga bunga cinta mulai bermekaran haha..
    siwon oppa kayaknya khawatir waktu yoona eonni pulang malem dan ternyata eeh ternyata siwon oppa ga tau kalau yoona eonni jago bela diri hahah

    Like

  18. Haha gak bisa bayangin ekspresinya siwon yg gak bisa berkutik sama sekali waktu yoona ngeluarin jurus beladirinya.. tapi kasihan juga siwon harus tidur dg tangan di borgol.. n kayaknya siwon ngerasa bersalah sama yoona karna berkata kasar sama yoona tapi karna gengsi aja dia gak mau ngakuinnya.. moga setelah ini siwon bisa bener” suka sama yoona..

    Like

Give me your LOVE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s