[FF] Belle in the 21st Century (Chapter 2)

belle

Belle in the 21st Century

kkezzgw art&storyline

Cast: SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast:more than 12~

belle-cast-yoonwon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: General

Length: Chapter

Facebook Twitter: ELF SONE YOONWONITED Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari YoonWon dan nanti akan dilanjutkan ke HaeSica, SeoKyu, dan seterusnya. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, maupun nama.

—————————————————————–

—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 23 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

Sinar matahari yang menusuk permukaan bumi sukses membuat Siwon terjaga dari tidur lelapnya setelah semalaman menghabiskan waktu di club malam. Pria itu menggeliat sesaat sebelum kelopak matanya terbuka sempurna, ia mengerjap sekilas lalu mendudukkan dirinya di tempatnya tidur yang menjadi alas tidurnya selama bertahun – tahun terakhir.

“Shit,” umpatnya merasakan kepalanya berdenyut nyeri dan tenggorokannya terasa kering efek meminum alkohol terlalu banyak.

Siwon bangkit berdiri dengan bertelanjang dada, meraih segelas air dan langsung meminumnya cepat. Dengan langkah malas ia masuk ke dalam kamar mandi bersiap berangkat kerja. Hari Sabtu biasanya dihabiskan oleh sebagian orang untuk bersantai di rumah bersama keluarga mereka, namun hal itu tidak pernah ada dalam kamus seorang Choi Siwon-setidaknya selama sepuluh tahun terakhir ini.

Tanpa minat sedikitpun, ia mengolesi selai kacang keatas roti tawar di depannya, menyeruput kopi arabika sambil memandangi jendela kaca yang menampakan kecantikan kota New York di pagi hari. Setelah itu Siwon menyalakan televisi mencari berita tentang perekonomian dunia, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat pagi.

“Selamat pagi permirsa, kembali bersama kami pada Morning Wide. Kabar mengenai peralihan kekuasaan Jaekyo Industries kepada putra mahkota generasi ketiga dari kerajaan bisnis ini masih menjadi tanda tanya besar, namun hal ini berdampak baik pada penjualan saham Jaekyo Industries,” Siwon hanya tersenyum miring penuh kemenangan mendengar berita – berita yang minggu ini dihebohkan dengan pergantian CEO dari perusahaan keluarganya.

Siwon mengalihkan pandangannya dari TV ketika ponselnya berbunyi. Melihat nama asisten ayahnya di layar ponselnya membuat ia menaikkan alis bingung, namun memutuskan untuk mengangkatnya.

“Choi Siwon-ssi?”

“Ada apa, Jungsik?”

“Saya hanya ingin memberitahu anda untuk menggantikan posisi Tuan Choi Kiho pada rapat hari ini.”

“Memang ada apa dengannya?”

“Hari ini beliau berhalangan hadir dikarenakan urusan yang tidak dapat ditunda.”

Siwon mengangguk acuh. “Baiklah, berikan saja semua materinya pada sekretarisku, jam berapa meeting itu mulai?”

“Sekitar jam dua siang, tuan.”

Setelah itu, Siwon segera merapikan semuanya dengan asal sebelum berjalan keluar dari penthouse-nya. Setiap langkah pria itu menunjukkan kebesaran dan keagungannya, siapapun yang melihatnya akan merasa terintimidasi dan bertekuk lutut takut. Tidak heran Siwon kembali menjadi perhatian para wanita yang berada di dalam lift seperti yang selalu terjadi jika wanita melihatnya. Namun Siwon hanya memberikan senyum miring mematikan pada mereka tanpa benar – benar tertarik.

Begitupun ketika langkah tegapnya membawanya masuk ke dalam gedung pencakar langit Jaekyo Group yang selalu dibanggakan keluarganya. Semua sibuk memberi salam kepada Siwon dengan sopan dan segan, dua orang di meja receptionist sibuk melempar senyum sensual kearah Siwon begitupun karyawati lainnya yang kerap kali mempercantik diri hanya untuk menarik perhatian General Manager atau calon CEO mereka, namun Siwon tidak pernah menanggapi mereka. Ia bagai hasil karya seni yang tak tersentuh dengan pancaran mata gersang tak ada kehidupan.

“Selamat pagi, tuan Choi.”

Selamat pagi.”

Seperti biasa, Siwon hanya menanggapi sapaan personal assitant-nya yang selalu menyapanya tanpa maksud lain seperti karyawati lainnya. Siwon pribadi cukup mengagumi dan selalu puas akan kinerja kerjanya yang selalu cepat, rapi, dan teratur. Ia juga menikmati ketidaktertarikan wanita itu padanya karena hal itu membuat wanita itu terlihat lebih serius dalam bekerja dan ia merasa nyaman berdiskusi dengan wanita cerdas ini.

Sir, saya mendapat informasi bahwa anda yang akan menggantikan Mr. Choi Kiho dalam rapat siang nanti.”

“Persiapkan semua materinya dan kirim semuanya dalam waktu satu jam ke e-mail saya,”

“Baik, sir.”

Dan hari Sabtu ini kembali dihabiskan Siwon dengan berkutat di dalam ruang kerjanya hingga dini hari, melupakan kenyataan bahwa jiwanya meraung penuh kelelahan setiap harinya.

**

Yoona berjalan tergesa menuju halte bus. Ia harus segera sampai di Sugar Momma atau ia harus kembali mendengar nyanyian merusak telinga oleh manager yang kerap kali memarahinya jika ia terlambat. Udara dingin yang menusuk sampai ke tulang membuat Yoona mengeratkan menggigil dan memasukkan kedua tangannya ke kantung hoodie ungunya. Jalanan di tempatnya menginjakkan kaki sekarang cukup sepi.

Hari ini ia terlihat bersemangat. Bulan ini biasanya banyak turis yang akan datang kesini, sehingga ia tidak sabar untuk melayani mereka di bandara. “Ah..semoga job-ku hari ini mengalir deras!”

Hey! Stop right there!”

Yoona menoleh kearah belakang kebingungan mendengar suara – suara aneh itu. Matanya membulat begitu melihat seorang pria berlari kearahnya dengan wajah ketakutan dan panik. “Menyingkir dari hadapanku! Tolong menyingkir, cepat!”

Yoona masih tergagap bingung di tempatnya ketika pria itu tak sanggup melambatkan larinya, sampai akhirnya laki – laki itu menabraknya dan membuat mereka sama – sama terjatuh di aspal dan berguling terus kearah kanan dengan kecepatan tinggi.

“AW!” Yoona memekik keras begitu merasakan punggung dan pantatnya mencium aspal dengan sempurna, bahkan kepalanya juga terbentur trotoar beton yang ada di sampingnya. Detik berikutnya ia bisa merasakan keningnya mulai mengeluarkan darah segar yang membuatnya cukup shock, kepalanya berdenyut nyeri dan sekujur tubuhnya memar begitu saja.

Yoona baru saja berniat membuka mulutnya saat menyadari pria yang menabraknya tadi sudah jatuh terkapar dan dikepung oleh empat pria lainnya dengan keadaan babak belur. Sontak Yoona langsung bangkit berdiri untuk menyelamatkan pria malang itu, tak peduli dengan kepalanya yang mulai pening maupun tubuh memarnya yang harus ia paksakan untuk berdiri.

PLANG~

Sebuah kaleng berhasil mendarat mulus tepat di belakang kepala salah satu dari mereka, pria itu langsung menjerit kesakitan membuat keempatnya menoleh kearah Yoona marah.

“Beraninya kau ikut campur! Apa masalahmu melempariku dengan kaleng bodoh ini, huh? Siapa kau?”

“Aku hanya tidak suka melihat minimnya keadilan disini. Sebagai seorang pria, bagaimana kalian bisa melawan seorang pria dengan bantuan tiga pria lainnya? Memalukan!”

“Jangan macam – macam dengan kami, nona muda! Kau tidak takut pada kami yang sekarang bisa saja mematahkan lehermu hingga mati?” tanyanya dengan wajah garang, berusaha menakuti Yoona.

Pria itu membelalakan matanya begitu melihat justru Yoona tertawa keras lalu menatapnya dengan tatapan menantang. “Takut? Aku takut pada kalian? Tak ada satupun alasan di dunia ini yang dapat membuatku takut pada laki – laki biadab seperti kalian!” sentaknya emosi.

Keempatnya langsung mengepalkan tangannya dengan tatapan menyala – nyala mendengar jawaban Yoona. Mereka jelas tersinggung. “Baik, lebih baik bunuh mereka berdua!”

Yoona dengan sigap langsung menghindari serangan dari tiga pria yang sekarang menyerangnya sekaligus. Namun dengan gesit dan cekatan, Yoona yang memang ahli dalam hal bela diri dengan mudahnya menghindar dan bahkan berhasil melayangkan tinjuan ke wajah pria – pria itu. Tubuhnya ia rendahkan dan kaki kanannya terangkat untuk menendang salah satu pria itu, sikutnya berhasil ia gunakan untuk menjinakkan pria yang ingin menyerang di belakangnya. Ketika salah satu dari mereka mulai bangun, Yoona dengan gesit segera memukul mereka dengan lututnya membuat pria itu mengerang kesakitan di bagian dagunya. Yoona benar – benar berhasil mengalahkan pria – pria itu dengan mudahnya-dan sendirian.

Pria yang menabrak Yoona tadi sibuk menganga lebar melihat aksi Yoona yang terlihat sangat keren dan menganggumkan. Ia terbiasa melihat para actor – actor di film action beradegan seperti ini, namun berbeda rasanya jika kau melihat itu secara langsung dan ‘pemeran utamanya’ adalah seorang wanita.

Wanita?

Pria itu mengerjap untuk memastikan dan memang benar di depannya seorang gadis yang sibuk berkutat dengan para lelaki yang mengerjarnya, sedangkan ia? Hanya pria lemah yang terlihat semakin lemah saat melihat wanita secantik Yoona ahli bela diri. Detik berikutnya, ia berinisiatif untuk menelpon polisi agar segera datang ke tempat kejadian, ia juga melirik papan nama jalan yang terdekat di sekitarnya, setelah itu menyembunyikan kembali ponselnya.

Ketua dari pria – pria yang sekarang sudah terkapar di aspal itu melebarkan matanya tak percaya melihat Yoona yang sanggup menaklukkan anak buahnya. Ia mengeram marah dan langsung menyerang Yoona, namun siapa sangka justru Yoona langsung memasang kuda – kuda dan berputar cepat. Anak buah dari pria itu menahan nafas melihat Yoona memutar tubuh dan menendang kepala pria itu dengan mudahnya, seketika itu juga priaitu berhasil ia taklukkan dengan mudahnya.

NENONENONENO~

Semua yang ada disana langsung menoleh saat mendengar suara sirine polisi menggema, ketika keempat pria itu berusaha kabur dari sana, Yoona langsung membungkam mereka dengan pukulan maupun injakkan keras di punggung mereka membuat keempatnya langsung meringis sakit dan kembali jatuh kesakitan.

Polisi – polisi itu segera mengamankan keempat preman tadi menuju mobil polisi. Yoona masih mengatur nafasnya yang memburu, ekor matanya tak sengaja melihat pria yang menabraknya tadi bangkit berdiri dan menghampirinya. “Agassi, te-terimakasih banyak atas bantuanmu! Mungkin tanpa kau, nyawaku berakhir hari ini juga” katanya sambil membungkuk sopan.

Yoona tersenyum lalu menepuk bahunya lembut, “Gwaenchanayo. Sudah kewajibanku menolong orang lain jika aku memang bisa. Apa lukamu tidak apa – apa?”

“Ah, aku sudah biasa menghadapai hal seperti ini, sudah tidak terasa sakit lagi.” ujar pria itu tersenyum malu sebelum ia menyadari luka baru yang ada di kening Yoona. Pria itu menarik nafas kaget. “Agassi, keningmu berdarah! Astaga, kau harus segera ke rumah sakit! Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, agassi.”

Yoona menggeleng cepat dengan ekspresi santai walaupun sebenarnya kepalanya terasa sakit. Perbincangan singkat mereka harus terhenti saat seorang polisi menghampiri keduanya untuk mengamankan mereka sebagai saksi dalam kejadian ini.

**

Yoona langsung bangkit berdiri begitu melihat pria yang ternyata bernama Minho itu keluar dari ruangan interogasi yang memerangkapnya selama dua jam terakhir. Pria itu terlihat letih, putus asa, dan sedikit ketakutan entah karena apa.

“Apa interogasinya berjalan dengan lancar?” tanya Yoona ragu.

Minho hanya mengangguk seadanya membuat Yoona semakin mengernyitkan dahinya bingung dengan tingkah pria ini. “Tapi kenapa kau terlihat gelisah dan ketakutan seperti ini? Apa kau sudah menghubungi keluargamu?”

“Itu..itu-”

“YAK CHOI MINHO!”

Yoona terlonjak kaget mendengar suara nyaring yang menggema di kantor polisi itu. Ia menoleh kebelakang dan membulatkan matanya begitu melihat wanita berambut pirang dengan postur seperti model papan atas berjalan kearah mereka sambil menghentak – hentakkan kaki dengan ekspresi siap menerkam. Yoona terkesiap bingung saat Minho berlari menyembunyikan diri di belakang Yoona dengan ekspresi ketakutan. Ada apa ini? Dan..siapa gadis ini?”

Mata gadis itu semakin memerah menahan emosi melihat Minho yang meringkuk ketakutan di balik punggung Yoona dan langsung menarik kausnya kasar. “Kau berjudi lagi ya?!” tanya gadis itu galak.

Minho meronta sambil memohon kearah gadis itu. “Noona, ini bukan sepenuhnya kesalahanku! Mereka benar – benar mencari masalah!” cicit Minho membela diri.

Sooyoung menggertakkan giginya kesal lalu memukul punggung Minho kencang hingga Yoona terlonjak kaget. Minho mengaduh saat merasakan punggungnya panas mendapat ‘ciuman’ manis dari tangan kecil Sooyoung yang minim daging itu.

“APPO!” jeritnya kesal dan malu. Minho jelas menyadari kehadiran Yoona diantara mereka, namun ia ragu kakaknya yang cantik ini sadar akan hal itu. Jika ia sadar, tidak mungkin wanita yang sellau menjaga image ini melakukan kekejaman ini di depan orang lain.

Sooyoung menatap Minho sinis dengan tangan terlipat di dadanya, posenya saat ini benar – benar menunjukkan segala kegarangan seorang kakak pada adiknya yang tidak tahu diri seperti Minho. Yoona semakin kaget melihat Sooyoung menarik telinga Minho hingga pria malang itu memekik kesakitan. “AH! LEPASKAN! APPO! APPO!

Yoona benar – benar harus menahan tawanya melihat kakak adik di depannya menunjukkan kasih sayang mereka dengan caranya sendiri. Perilaku sang kakak yang dengan mudahnya menghukum sang adik dimanapun mereka berada jelas menunjukkan mereka sering merasakan hal itu. Yoona memilih untuk menjadi penonton yang baik dan hanya memperhatikan mereka sambil mengulum senyum, tak berniat sama sekali untuk menginterupsi.

Minho memejamkan matanya sambil merutuki dirinya sendiri ketika ia melihat ekspresi Yoona. Mata Sooyoung membulat sempurna lalu telapak tangannya menutup mulutnya yang menganga karena kaget, sepertinya juga baru menyadari kehadiran Yoona diantara mereka.

Sooyoung terlihat gelagapan dan gusar di tempatnya menyadari ‘kekerasan’ yang ia lakukan pada adiknya menjadi santapan orang lain. “Uh-oh…aku baru sadar ada orang lain disini,” ucapnya sambil tertawa canggung yang hanya dicibir Minho sinis.

Yoona tertawa geli. “Gwaenchana, kalian terlihat lucu. Aku merasa terhibur melihatnya”

Oh demi Tuhan Sooyoung, kau menghibur orang lain dengan cara seperti ini-batin Sooyoung menyuarakan kata hatinya.

“Tunggu….apa kau wanita yang ditabrak bedebah ini?”

“Bedebah!?” bentak Minho tak terima.

Yoona mengangguk pelan membuat Sooyoung kembali menyerang Minho dengan cubitannya. “Mwoya! Kau ini kenapa, huh?”

Sooyoung menatap geram kearah adiknya yang tampak tak berdosa atas kejadian ini, ia semakin merasa tidak enak melihat luka – luka di tubuh Yoona. ” Lihatlah, kau sudah membuat nona ini terkena serangan musuh – musuhmu! Kau pasti belum minta maaf, kan?”

“Siapa bilang? Aku sudah meminta maaf padanya sebelum kau datang!”

Sooyoung menggeleng tak setuju, Cepat minta maaf lagi sebelum aku melaporkannya pada eomma dan appa!”

Minho menghela nafasnya pasrah, ia tidak tahu kakaknya bisa semenyebalkan ini! “Maafkan aku, nona, Maafkan aku,” kata Minho sambil membungkuk hormat pada Yoona yang menatap takjub kearahnya.

Sooyoung tersenyum tak enak pada Yoona. “Jeongmal jeosonghaeyo agassi. Adikku ini memang terkadang sulit diatur. Aku akan menanggung biaya berobatmu.”

“Tidak perlu sampai seperti itu, aku sudah terbiasa mendapat luka seperti ini,” Yoona mengumpat pelan begitu teringat dengan pekerjaannya di cafe, gawat ia bisa terkena amukan nenek sihir lagi kalau begini caranya!

“Hmm…agassi, sepertinya saya harus pergi sekarang, ada urusan mendadak yang harus saya lakukan sekarang, permisi!”

“Eo, agassi kau mau kemana? Agassi!?”

**

Bahu Yoona serasa ingin patah. Ia benar – benar kelelahan hari ini dan akhirnya terpaksa membatalkan pekerjaannya di bandara sebagai supir gelap. Kepalanya berdenyut tanpa henti akibat benturan dengan trotoar tadi siang. Dan satu – satunya hal yang ia lakukan sekarang adalah tidur.

Tapi sepertinya keinginannya itu tidak terkabulkan. Tidak setelah ia melihat pintu kamar kosnya terbuka lebar dan barang – barang pribadinya berserakan di teras. Terlihat para debt collector yang waktu itu mengejar – ngejarnya sibuk mengangkut barang – barang itu.

Dengan panik, Yoona segera berlari menuju kamar kosnya. Betapa kagetnya dia ketika mendapati kamarnya sudah acak – acakan dan nyaris kosong. Matanya menggelap marah melihat foto keluarganya pecah dan sudah tak berbentuk lagi.

“Apa yang kalian lakukan disini?! KELUAR!”

“Ah, pemilik kamar ini sepertinya sudah datang,” ucap salah satu dari mereka tampak cuek dan mereka semua tetap mengobrak – abrik kamar Yoona.

Yoona masih sibuk memikirkan berbagai cara untuk mengusir mereka sebelum matanya melihat preman itu menemukan kalung peninggalan ibunya yang ia sembunyikan dibawah seprai bantal. Kalap, Yoona segera menarik salah satu preman disana dan meninjunya hingga preman itu mengerang kesakitan.

Niat Yoona untuk merebut kalung itu terhenti ketika ketua preman itu menarik lengannya kasar dan menampar pipinya kencang hingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Kepalanya mendadak pening dan darah segar mengucur deras di sudut bibirnya. Ia ingin melawan lagi tapi tamparan kedua membuat mulutnya terkunci.

Dengan ganas, ketua preman itu mengangkat wajah Yoona kasar sambil tersenyum penuh ejek. “Sudah lama sekali aku ingin menampar wajah sialanmu ini, jalang kecil,” dan Yoona hanya bisa menahan tangis ketika preman itu menamparnya lagi, “selama ini aku sudah menyuruhmu untuk membayar tunggakan hutang – hutang itu secara baik – baik, tapi sepertinya kau lebih suka dikasari!”

“Kalian membuat hutangku meningkat 600% dari yang seharusnya kubayarkan, jelaskan padaku bagaimana aku harus membayarnya!?”

“KAMI TIDAK PEDULI! Yang kami tahu adalah hutang adalah hutang, dan kami ingin hutang itu dibayarkan segera atau—”

“Atau apa?”

“Atau kami akan membunuh ayahmu!”

Yoona tertawa meremehkan, “Lucu sekali. Lalu apa? Kau akan menghancurkan kuburan ibuku?”

Preman itu mengerang marah dan anak buahnya memberikan sebuah ponsel kepada Yoona. Mata Yoona membulat sempurna melihat salah seorang preman disini menyamar sebagai dokter dan bersiap mencabut alat – alat medis yang melekat di tubuh Tuan Roxanne.

“Kami bisa melakukan apa saja yang kami mau, termasuk membunuh ayahmu yang malang itu.”

“BAJINGAN!” teriak Yoona penuh amarah dan frustasi, “Jangan pernah kalian sentuh ayahku!”

Preman – preman itu hanya tertawa senang mendengarnya sebelum kembali menangkup wajah Yoona kasar, “Kalau begitu berikan uang itu, gadis manis. Kami memberikanmu waktu satu minggu ke depan untuk melunasi semuanya. Jika tidak…maka siapkan ucapan salam perpisahan termanis untuk ayahmu itu.”

Mereka menarik paksa kalung peninggalan ibu Yoona dari tangannya sebelum berjalan keluar. “Ah ya, persiapkan tubuh indahmu itu untuk kami nikmati minggu depan! HAHAHA!”

Hati Yoona terasa hancur dan ia langsung menangis sambil memeluk foto keluarganya yang masih tersisa dari sisa penjarahan yang dilakukan preman – preman itu.  Tidak ada satupun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Marah, kecewa, sedih, terluka, dan dendam seolah berkumpul menjadi satu.

Tangannya terkepal hingga memutih dan wajahnya mengeras ketika melirik koran yang menampilkan kesuksesan Jaekyo Group menjadi salah satu perusahaan tersukses di dunia. Dendam yang selama ini berusaha ia padamkan kini langsung membakar hatinya yang sedang terluka.

Yoona menghapus air matanya dengan kasar sebelum berjalan keluar dari kamar kosnya. Ia harus memberi pelajaran pada orang yang membuat keluarganya hancur seperti sekarang.

**

Choi Kiho berjalan dengan penuh wibawa saat ia memasuki gedung Jaekyo Group. Tampak kepuasan tersirat di balik kulit wajahnya yang keras dan dingin setiap melihat kerajaannya semakin berkembang pesat. Berpuluh – puluh tahun ia mengembangkannya dengan cara apapun untuk mencapai posisi ini dan sebentar lagi Siwon-lah yang harus menjaga perusahaan ini. Dan ia yakin dengan kejeniusan Siwon, Jaekyo Group akan menjadi perusahaan nomor satu di dunia.

Tanpa Choi Kiho dan pengawalnya ketahui, Yoona berhasil masuk ke dalam gedung Jaekyo Group. Tangannya masih mengenggam foto keluarganya erat – erat, pandangannya terpusat pada Tuan Choi yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya.

Langkah kaki Yoona semakin dekat dengan posisi Tuan Choi berdiri saat ini, dan ketika dirasa jarak mereka sudah cukup, Yoona setengah berlari menghampiri pria itu.

Sebelum Tuan Choi sempat menyadari apa yang terjadi, Yoona sudah melayangkan tinjunya pada Tuan Choi hingga pemimpin perusahaan raksaksa itu jatuh. Mata Tuan Choi melotot kaget, namun kepahitan gadis itu terhadap Tuan Choi membuatnya tidak peduli dengan apapun lagi selain melakukan ini.

Yoona mencengkram kerah kemeja Tuan Choi kencang, tangannya bergetar menahan air mata yang sejak tadi sudah menggenang dari kedua matanya, “APA KAU PUAS?! KAU PUAS KARENA EGO-MU ITU BERHASIL MENGHANCURKAN KELUARGAKU?! HAH?! JAWAB AKU!!”

“A-apa-apaan ini! Si-singkirkan gadis ini sekarang juga!”

Sebelum bodyguard – bodyguard Tuan Choi sempat menarik gadis itu Yoona langsung melawan semua bodyguard yang berniat menghajar ayahnya. Kali ini ia mengeluarkan semua kemampuannya dalam bela diri membuat Choi Kiho yang masih terdiam menatapnya takjub sekaligus takut. Bayangkan saja, gadis itu sukses menghadapi sekitar sepuluh bodyguard-nya yang sudah terlatih seorang diri, namun detik berikutnya ketakutan langsung menghantuinya begitu Yoona menoleh kearahnya dengan tatapan penuh kebencian.

Gadis itu kembali mencengkram kerah Tuan Choi dengan ganas, “Apa kau bahkan pernah memikirkan nasib karyawan – karyawanmu yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya?! Menghargai mereka layaknya manusia pada umumnya?! KAU BAHKAN MENGANGGAP RAKYAT RENDAHAN SEPERTI KAMI BAGAI ONGGOKAN SAMPAH YANG MENGEMIS UANG PADAMU!”

“A-agassi, sepertinya anda—”

“Apa kau tahu apa yang terjadi dalam hidupku selama enam tahun ini karena kau?! Kau melimpahkan semua kesalahanmu pada kami, tanpa pernah memikirkan dampak atau apa yang akan kami alami selanjutnya!” Yoona tanpa sadar mencekik leher Choi Kiho hingga nafas pria itu mulai megap – megap, “Kau…..KAU SECARA TIDAK LANGSUNG ADALAH PEMBUNUH IBUKU, BAJINGAN! AKAN KUBUNUH KAU!!”

Tuan Choi terus berusaha melepas cengkraman tangan Yoona hingga para bodyguard-nya berhasil menyeret gadis itu menjauh dari Tuan Choi yang kini terbatuk – batuk, “CEPAT BAWA GADIS INI KELUAR!”

Yoona susah payah memberotak sekuat tenaga dalam cengkraman bodyguard-nya. Sorot matanya yang gelap menatap penuh kebencian kearahnya, “Aku tidak peduli lagi jika kau akan melaporkanku ke polisi atau memasukkanku ke rumah sakit jiwa, karena…..KARENA KAU SUDAH MENGHANCURKAN SEMUA YANG MENJADIKAN ALASANKU UNTUK HIDUP! TERKUTUK KAU, CHOI KIHO!!!”

Karyawan – karyawan yang ada disana menatap kebingungan dan penuh rasa ingin tahu kearah Tuan Choi yang mengepalkan tangannya marah.

Jungsik menghampiri Tuan Choi dengan panik, “A-anda tidak apa – apa, tuan?”

Dan tanpa keduanya sadari, Siwon berdiri di ujung dengan tatapan menilai serta alis terangkat penuh spekulasi.

**

PLAK!

Jungsik hanya memasang wajah datar ketika atasannya melampiaskan kemarahannya padanya dan beberapa barang yang dilempar begitu saja dari meja kerjanya.

“BAGAIMANA MUNGKIN GADIS ITU BISA LOLOS DARI PANTAUAN SECURITY HAH?! BAGAIMANA KALAU ADA CALON INVESTOR MELIHAT ORANG BIASA SEPERTI DIA BISA MENGHAJAR CEO PERUSAHAAN INI?!”

Joesonghamnida. Kami akan lebih memperketat pengamanan kantor mulai saat ini.”

Ekspresi Choi Kiho sekarang tampak mengerikan, bagaikan predator yang bersiap mencari mangsanya. Gadis kurang ajar, ia mempermalukannya di depan seluruh karyawannya, harga dirinya terasa diinjak – injak oleh gadis tadi.

“Kurang ajar, apa gadis sialan itu tidak tahu dia berhadapan dengan siapa? Berani – beraninya ia memperlakukan seorang Choi Kiho seperti itu?!”

Jungsik hanya diam di hadapan Tuan Choi tanpa memberikan komentar, walaupun ia tahu apa tugasnya setelah ini.

“Selidik gadis itu,” Perintah Tuan Choi begitu dingin, “Selidik apapun yang berhubungan dengan gadis kurang ajar itu, selengkap dan sedalam – dalamnya. Jangan sampai ada yang terlewatkan, terutama alasan mengapa ia berani menghajarku seperti tadi! Aku ingin semuanya sudah ada di depan mejaku paling lambat besok pagi. Dan pastikan rekaman CCTV yang berhubungan dengan insiden itu dimusnahkan. Kau dengar itu Ronald?!”

Jungsik memandang atasannya dengan skeptis, “A-anda tidak menyuruh saya membunuhnya?”

Tuan Choi menggeleng seraya tersenyum dingin, “Tidak, aku punya cara yang lebih menyenangkan untuk menyiksa gadis itu…”

Jungsik menundukkan kepalanya patuh. “Baik, tuan.”

**

Sepanjang perjalanan Yoona meremas rambutnya frustasi dan memukul – mukul kepalanya sambil bergumam, “Bodoh…Yoona bodoh…kau memang bodoh….”

Bagaimana mungkin ia berani melakukan itu pada pimpinan perusahaan nomor satu di negara ini? Hingga detik ini Yoona pun masih mempertanyakan kegilaan yang ia lakukan kemarin siang, walaupun tentu saja ia tidak menyesali perbuatannya.

Ketika Yoona memasuki gang – gang kecil untuk mempersingkat waktu menuju halte, tiba – tiba ia merasakan derap langkah kaki yang tak terdengar di belakangnya. Yoona menegang dan langsung memasang mode waspada.

Yoona langsung menarik tangan pria yang memegang bahunya lalu membantingnya ke aspal, ia memelintir tangannya hingga pria itu mengerang kesakitan, “Siapa kau?!”

Saat Yoona lengah, sesuatu membekap mulut dan hidungnya dengan kain putih. Yoona yang kebingungan berusaha meronta namun bekapan itu semakin kencang dan gadis itu bisa merasakan kedua tangannya dipegangi oleh dua pria lainnya. Dan detik berikutnya, kegelapan menyapa Yoona dan ia tidak sadarkan diri.

**

Hal pertama yang Yoona lihat saat membuka matanya adalah sebuah ruangan kosong yang hanya berisi dua kursi kayu dan meja mahogany yang berada tepat beberapa meter di depannya. Ingatan sebelum ia pingsan kembali masuk ke pikirannya, membuat Yoona bergidik ketakutan. Apa para debt collector itu menculiknya?

“Kau sudah sadar rupanya,”

Sontak Yoona langsung menoleh dan matanya terbelalak melihat Choi Kiho berjalan masuk ke dalam ruangan diiringi banyak bodyguard di belakangnya. Ketakutannya mendadak hilang dan hanya perasaan benci yang dirasakan Yoona saat ini.

Choi Kiho menyeringai sinis kearah Yoona seraya meletakkan pistol keatas meja, “Don’t look at me like that, young lady. Kau tahu itu tidak menakutiku, seharusnya kaulah yang takut padaku karena kapan saja aku bisa mengakhiri hidupmu dengan pistol ini.”

“Kau tidak mungkin berpikir aku takut padamu setelah apa yang kulakukan padamu ‘kan, Tuan Choi?!”

“Sayang sekali, seharusnya kau takut padaku, Nona Im. Terlebih setelah apa yang ayahmu lakukan pada perusahaanku.”

Yoona mengernyit bingung, “Apa maksudmu?”

Choi Kiho memberi isyarat pada Jungsik untuk melakukan apapun yang sudah mereka sepakati. Jungsik pun mengangguk dan langsung memberikan sebuah map yang berisi kumpulan – kumpulan berita mengenai Jaekyo Group di tahun 2012, dimana saat itu pabrik Jaekyo Industries bermasalah dengan para buruh, terutama karena kecelakaan kerja yang menewaskan tujuh buruh mereka, termasuk ayah Yoona.

“Saat itu perusahaan kami sedang merancang proyek terbaru yang membutuhkan teknologi terbaru untuk dapat menciptakan produk sesuai ekspektasi kami. Hal ini tidak dapat terwujud karena kemampuan para buruh sudah tertinggal jauh dari yang kami harapkan untuk proyek kami. Karena itulah Jaekyo Industries memutuskan untuk mengurangi hampir sebanyak 70% dari buruh yang ada dan menggantinya dengan mesin, namun mereka tidak dapat menerima keputusan itu dan memutuskan untuk berdemo besar – besaran yang mengguncang nilai saham perusahaan kami,”

Yoona hanya menatap Jungsik datar tanpa minat, ia tahu akan berujung kemana perkataannya, “Lalu apa hubungannya dengan kecelakaan itu?”

“Ayah anda, atau Im Sangwoo….adalah pemimpin dari demo tersebut.”

“A-apa?! Ti-tidak mungkin! Kalian pasti hanya mengkambing hitamkan ayahku!”

Kini Jungsik menunjukkan potongan – potongan rekaman CCTV kepada Yoona. Disana terlihat ayahnya sedang berdiri di tengah – tengah buruh lainnya, “Anda bisa melihatnya sendiri, nona. Disana terlihat jelas bahwa Im Sangwoo tengah memprovokasi buruh lainnya agar melakukan demo itu. Rekaman CCTV ini diambil dua hari sebelum demo besar – besaran itu terjadi.”

Yoona tercengang begitu mendengar fakta mengejutkan yang baru saja ia dengar. Wajahnya seperti baru disiram air es, ia sama sekali tidak tahu akan hal ini.

“Karena ulah ayahmu kami harus mempertimbangkan kembali proyek terbaru Jaekyo Industries ini. Jatuhnya nilai saham perusahaan membuat kami semua harus bekerja ekstra keras untuk meyakinkan kembali para investor, menarik kembali minat mereka menanam saham di perusahaan kami. Akhirnya proyek kami terpaksa dibatalkan karena perusahaan lain telah mencuri ide kami dengan meraup keuntungan besar, sesuai prediksi kami ketika pertama kali mencetuskan ide ini.”

Dengan susah payah Yoona menelan salivanya sambil sesekali membasahi bibirnya yang terasa kering, ia mendadak gugup dan sedikit takut dengan sosok pria di depannya. Ia takut karena kebenciannya pada Jaekyo Group selama ini ternyata sama sekali tidak beralasan, apa seharusnya ia bersyukur karena mereka tidak menuntut ayahnya?

Choi Kiho tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Yoona yang mendadak berubah pucat, “Jadi Nona Yoona, setelah mendengar semuanya seharusnya anda bersyukur saat itu saya tidak menuntutnya karena membuat saham perusahaan Jaekyo Group jatuh hingga 27% serta mengalami kerugian sebesar 8 triliun,” ujar Choi Kiho dingin, “Tapi sepertinya aku harus menuntutnya karena putri semata wayangnya berani menghajarku tanpa tahu kebenaran yang ada.”

“Ti-tidak!” Yoona menggeleng keras dan langsung berlutut ketakutan di depan Choi Kiho, “Maaf atas tindakan dan perkataan saya yang menyinggung hati anda. Tapi, kumohon…ja-jangan libatkan ayah saya dalam hal ini, kumohon…”

“Memang sejak awal aku tidak berminat menuntutnya, tapi karena kau nona, sepertinya aku harus mempertimbangkan keputusanku enam tahun silam. Karena dia, perusahaanku sempat merugi dan bahkan enam tahun kemudian putrinya menghajarku di kantor yang ia rusak. Bagaimana ini? Sepertinya akan sulit sekali memaafkan ayah anda, saya bukan orang pemaaf.”

Yoona menggeleng ketakutan dan kalut, tanpa ia sadari ia sudah menangis dan mengemis maaf pada Choi Kiho, “Kumohon tuan, jangan! Jangan tuntut ayahku……atau—atau biar aku saja yang menanggungnya, kau boleh lakukan apapun padaku tapi jangan pada ayahku….”

“Kau bersedia menangung tuntutannya?” tanya Choi Kiho pura – pura terkejut, dalam hati ia tersenyum penuh kemenangan. Seperti yang kuduga, batinnya bersuara. Ia tidak menyangka Yoona sepolos itu karena tidak menyadari kelicikannya memutar balikan fakta yang ada.

Yoona mengangguk yakin, “Ya, tuntut saja aku.”

“Apapun yang harus kau lakukan agar ayahmu bebas dari tuntutan?”

Gadis itu terdiam sebentar tampak ragu, namun seraya mendesah pasrah ia perlahan mengangguk, “Apapun.”

Senyum penuh arti di wajah Tuan Choi semakin melebar mendengarnya, “Baiklah jika kau bersedia melakukannya, besok datang ke kantorku tepat pukul dua belas siang. Jika kau tidak datang…kupastikan ayahmu mendekam di penjara seumur hidup!”

Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Yoona pun menetes. Saat pintu ruangan sudah tertutup dengan sempurna, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa selain menangisi kehidupan yang sepertinya tidak pernah berada di pihaknya.

**

Yoona menatap gedung pencakar langit di depannya dengan ragu. Ia menatap sekelilingnya, melihat aktifitas yang berada di sekitar kantor. Tentu saja pakaian yang dikenakan mereka terlihat rapi dan berkelas, tidak seperti dirinya yang hanya memakai kaus biasa, rambut panjangnya juga hanya ia ikat asal. Namun ia tak peduli, tujuannya datang kesini bukan untuk melamar kerja atau sejenisnya, ia ingin memenuhi tuntutan Choi Kiho.

Yoona menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk, ia hanya berharap tidak ada yang mengenali wajahnya setelah aksi barbar yang ia lakukan dua hari yang lalu.

“Permisi, dimana ruang kantor Tuan Choi?”

Receptionist itu terdiam sebentar lalu memandangi penampilan Yoona dari atas sampai bawah, seakan menilai kepantasan seorang tamu yang datang untuk menemui raja dari Jaekyo Group ini.

“Apa anda sudah membuat janji dengan beliau, agassi?”

Yoona memutar bola matanya malas, “Atas nama Im Yoona. Silahkan anda tanyakan sendiri,”

Dengan sedikit kesal, wanita itu memberitahu bahwa kantor CEO berada di lantai tiga puluh. Tanpa berlama-lama, Yoona segera masuk ke lift dan menekan angka 30. Beberapa karyawan disana memandangi Yoona dengan tatapan bingung—yang tidak digubris sedikitpun oleh Yoona. Semakin tinggi lift itu membawa para karyawan, semakin sepi orang yang berada di dalam lift dan kini hanya menyisakan Yoona yang masih harus bersabar untuk mencapai lantai 30.

TING~

Yoona memperhatikan lantai 30 yang baru saja ia pijaki setelah keluar dari lift. Terlihat jelas lantai ini sengaja di desain sebaik dan semewah mungkin dibanding lantai yang lainnya. Karyawati – karyawati yang berlalu lalang di hadapannya terlihat formal namun kesan sexy dan elegan tak pernah surut dari mereka, ia seolah sedang menjadi penonton sebuah fashion show bertemakan ‘pakaian kerja wanita’. Hanya suara stiletto yang mengetuk – ngetuk lantai yang memecahkan keheningan lantai ini, seolah kantor ini diciptakan untuk keheningan dan keagungan.

Detik itu juga Yoona kembali memperhatikan penampilanku dan berakhir dengan sebuah umpatan, ia tiba – tiba merasa ciut diantara pernak – pernik pakaian formal para wanita di sekelilingku. Sebelum ini ia merasa cukup menarik, sekarang ia merasa seperti gadis desa yang sedang mencari alamat.

“Ada yang bisa saya bantu, agassi?”

“Saya Im Yoona, Tuan Choi—”

“Nona Im,” ucap sekretaris itu yang langsung tersenyum ramah, “anda sudah ditunggu di kantor beliau..”

Yoona tersenyum canggung lalu mengangguk. “Anda sudah ditunggu beliau di dalam ruangannya, mari saya antar.”

**

“Aku kira kau tidak akan datang, Nona Im”

Yoona langsung menoleh kearah Tuan Choi yang duduk di kursi kebesarannya dengan segelas kopi di tangannya. Pria itu tersenyum miring melihat wajah tidak bersahabat Yoona, “Duduklah, aku tidak sedang menghukummu.”

Yoona menghempaskan tubuh rampingnya ke sofa sambil melirik sinis kearah Choi Kiho yang sedang mengambil berkas – berkas—tunggu…apa ia harus menandatangani sesuatu?

Ia memandangi ruangan Tuan Choi yang begitu luas dan landscape kota terlihat begitu jelas di tengah gedung pencakar langit di pusat kota. Sofa putih yang ia duduki terletak di tengah ruangan, beberapa lukisan maupun patung berbentuk binatang buas menghiasi sudut – sudut ruangan. Yoona termangu melihat sederet foto prestasi maupun piala penghargaan yang diberikan negara maupun dunia international untuk Jaekyo Group. Tiba-tiba ia gugup menghadapi Tuan Choi, entah berapa yang harus ia bayar untuk menutupi kerugian perusahaan adidaya ini.

Dentingan cangkir di depannya mengalihkan perhatian Yoona, kini Choi Kiho sudah duduk di depannya dengan aura bossy yang begitu terasa di setiap sendi – sendi tubuhnya, “Minum tehnya sebelum dingin”

Yoona tersenyum dingin lalu menyembunyikan tangannya yang gemetar gugup, “Aku tidak ingin membuang waktuku, Bapak Tuan Choi yang terhormat. Masih banyak part-time job yang harus kulakukan setelah ini. Lebih baik anda katakan berapa yang harus aku bayarkan.”

Sejujurnya Tuan Choi kagum akan keberanian gadis di depannya ini. Melihat bagaimana gadis ini berani melawannya tanpa peduli siapa dan seperti apa dirinya, ia semakin yakin keputusannya adalah keputusan terbaik.

“Baiklah, sepertinya Nona Im memiliki jadwal yang penuh sehingga sulit sekali bertemu dengan CEO Jaekyo Group yang menganggur ini,”

Tanpa berbasa – basi lagi, Tuan Choi meletakan map ke atas meja yang langsung membuat Yoona membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar begitu Tuan Choi membuka map itu dengan pelan seakan mengejeknya. Ia tidak sanggup membayangkan nilai nominal yang tertera pada surat itu.

“Nona Im, mungkin ini menjadi kabar baik untukmu karena saya tidak akan menuntutmu dengan uang ataupun membawa kasus ini ke meja hijau. Bukan, bukan itu tuntutan yang harus kau bayar,”

Tanpa sadar Yoona menghembuskan nafasnya yang tertahan sejak tadi. Setidaknya ia bisa bernafas sedikit lega karena Choi Kiho sedikit bermurah hati padanya. “Kau memang akan dikurung dalam penjara namun bukan penjara itu yang kumaksud,”

Yoona mengernyit, “Apa maksudmu?”

Choi Kiho menghembuskan nafasnya berat lalu menatap Yoona tegas. “Menikahlah dengan putra sulungku”

DEG!

Tubuh Yoona seperti disambar petir di siang hari karena ia hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, “A-apa?”

Tuan Choi mengangguk santai seolah kalimatnya barusan hanyalah gossip tentang pernikahan Barbie dan Ken, “Kau mendengarnya ‘kan? Itu tuntutanku padamu dan kau tidak bisa membantah.”

Yoona terbelalak mendengarnya, bagaimana bisa…ia menikah dengan putra sulung dari Jaekyo Group?

“Anda pasti keliru, tuan,” ujar Yoona sambil tertawa canggung, “aku bukan mempelai wanita yang baik untuk pu-putramu—”

“Memang benar,” jawab Tuan Choi mengiyakan, “tapi saat ini kaulah satu – satunya wanita yang bisa mengendalikannya,”

“Mengendalikannya?”

Tuan Choi mengendikkan bahunya santai sambil menatap Yoona dengan sorot mata tak terbantahkan, “Aku butuh seseorang yang dapat mengimbangi dan mengendalikannya dan aku rasa putraku bisa kembali seperti dulu jika memiliki seorang disampingnya dengan karakter sepertimu, karena aku yakin kau bisa memperbaiki karakternya sesuai standard calon CEO Jaekyo Group di masa mendatang.”

Guratan kebingungan di wajah Yoona semakin terlihat, “Aku tidak mengerti..”

“Sejak awal berdirinya Jaekyo Group, ayahku selalu menetapkan syarat bahwa jika generasi penerusnya harus menikah dulu sebelum ia diangkat menjadi pemimpin Jaekyo Group, syarat itu pun berlaku padaku. Karena saat ini aku akan menyerahkan tahta ini padanya, ia harus menikah secepat mungkin.”

“Bagaimana kalau putra anda tidak menyukaiku?”

Tuan Choi tertawa lantang mendengarnya, “Kau tenang saja, nona. Aku memilihmu karena kau jelas bukan wanita idaman putraku, lagipula aku sudah memiliki wanita akan kunikahkan dengannya setelah semua ini berakhir..”

Yoona sepertinya menangkap apa maksud dari pernikahan ini, “Jadi maksudmu—”

Tuan Choi mengangguk, “Ya, pernikahan ini hanya bersifat sementara, karena aku harus segera menyerahkan posisi ini ke tangannya tapi calon mempelai wanita putraku tidak bisa datang dalam waktu dekat. Itulah alasan mengapa ide ini muncul,”

Pikiran Yoona seakan lumpuh, bagaimana mungkin Tuan Choi dengan santainya menjadikannya tumbal untuk menggantikan calon menantu idealnya yang tidak bisa memenuhi permintaannya? Kenapa ia bisa terlibat dalam masalah pelik seperti ini?

Memang seharusnya aku tidak datang dan menghajarnya waktu itu, umpat Yoona dalam hati.

“Jika kau menerimanya, aku akan memberikan beberapa aset berharga Jaekyo Group untukmu, kehidupanmu dan pengobatan ayahmu pun terjamin.” Tuan Choi mendorong map tadi kepada Yoona, menatap gadis itu dengan tatapan mengancam, “Tapi jika kau menolaknya, jangan harap ayahmu akan terbebas dari tuntutanku. Aku memberimu waktu satu menit.”

Satu menit?! Kau pikir ini tidak menyangkut peristiwa paling penting dalam hidup seorang wanita?!

Yoona rasanya ingin meneriakkan kalimat itu tepat di wajah Tuan Choi. Ia benar – benar tidak siap dengan semua ini, hal terakhir yang ia pikirkan saat bertatap muka dengan CEO dari Halstein adalah dituntut untuk menjadi istri dari calon penerus perusahaan raksaksa ini. Yoona masih tak percaya dengan situasi ini, bagaimana mungkin ini bahkan terjadi?

Yoona menatap nanar surat itu, pulpen yang berada dalam genggamannya ia cengkram erat penuh kebimbangan. Pernikahan untuk seorang wanita bukanlah hal sepele yang bisa dipermainkan hanya karena sebuah tuntutan bodoh. Siapapun dan apapun itu, jika menyangkut pernikahan harus memikirkan dengan baik tentang keputusan yang akan ia ambil. Namun, keadaan yang mendesak membuat Yoona harus mengesampingkan logikanya.

Dengan tangan gemetar serta keputusan bulat, Yoona menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum membubuhi surat itu dengan tanda tangannya.

Tuan Choi tersenyum penuh kemenangan melihat tanda tangan Yoona sudah menghiasi surat itu dengan baik. “Selamat datang di keluarga Choi, Im Yoona. Aku akan menghubungimu lagi dalam waktu dekat,”

Yoona hanya diam tak bergeming, ini masih terasa seperti mimpi dalam bayangannya. Demi apapun, seumur hidupnya ia tak pernah bermimpi akan menikah dengan cara seperti ini, dan yang terpenting—ia tidak menyangka akan menikahi putra sulung Jaekyo Group, putra mahkota Jaekyo Group, perusahaan engineering dan pemilik pabrik transportasi terbesar di dunia.

Entah apa yang akan ia hadapi dalam hidupnya setelah perjanjian ini. Namun yang Yoona tahu, hidupnya sudah berubah 360 derajat, dan ia tidak tahu apakah ini merupakan yang baik atau justru menjatuhkannya ke dalam lubang lainnya.

To Be Continue

A/N [2016/06/23] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

See you on the next chapter!<3

 

 

223 responses to “[FF] Belle in the 21st Century (Chapter 2)

  1. haha lucu liat sooyoung marah2in minho😄
    hmm jadi yoona harus nikah sama siwon buat ganti kerugian Jaekyo group gara2 ayahnya
    daebak thor!!
    next ^^

    Like

  2. Wah yoona tingkah lakunya kaya cowo ya, jago bela diri.. Tp dia udh bikin kesan baik sama minho dan sooyoung.. Sebenernya tuan choi itu baik apa jahat si??

    Like

  3. Ahhh kasian bgt yoona eonnie
    Harus berkorban demi appa ya
    Wow kira2 apa reaksi siwon oppa ya kalo tau dia bakalan di jodohin
    Next next eonie

    Like

  4. Chap ini yg paling berkesan liat keakuran minho sama sooyoung wkwkwkk
    Kasian minho dapet buah manis dari noona tercinta, tapi jujur feelnya dapet banget hihihiii

    Bagian akhir bikin takut, takut semua ke bongkar dan siwon murka. Siwon kan tabiatnya keras, apa jadinya yoona.. Jadi ga tega sama yoona nantinya😦

    Like

  5. Ffnya keren🙂
    Yoona hebat bisa ngelawan 4org sekaligus n dia rela berkorban demi ayahnya gak masuk penjara..
    penasaran ma gimana reaksi siwon kalo dia tau dijodohin ma yoona..

    Like

  6. klo siwonnya sifatnya baik pasti yoona bruntung bgt bsa dinikahin sma siwon..
    tpi yoong blom bruntung gitu😀
    sooyoung minho sumpah deh jdi iri mskipun momentnya gitu tpi kan sling menyayangi gitu..
    andai aja..

    Like

  7. Hahahahahaj part asadnya lucu kirain siapa yg nabrak yoona ternyata minho terus sooyong nya juga ganas bangeet heeeehe dan satu lagi yoona nya keren bisa bela diri😄😄😄 hm penasaran sama lanjutannya nih fighting ya buat bikin ffnya

    Like

  8. Akan seperti apa jadinya y0ona ketika ia menikah dgn siwon? Apa yo0na mampu membuat suasana dingin yg terjadi di keluarga choi menjadi hangat

    Like

  9. Hidup yoona gitu amat..
    masalah satu belom kelar eh muncul masalah laen -_-
    Dan untuk Wonppa judes banget bang,jangankan yoona Eonni yg ktemu langsung aq aja yg baca ngeri sndiri bang liat tabiatmu itu kkkk

    Like

  10. Oh gimana jadinya nanti kala Yoona nikah sama Siwon? Ya ampun sifat wonwon disini mengerikan sekali *tutupmuka

    Disini cerita Yoona menyedihkan banget😦

    Izin baca next chapter🙂

    Like

  11. Dituntut nikah sama putra sulung yang ganteng abis. Klo aku gak nunggu 5 menit langsung jawab iya..haha

    Like

  12. seneng banget liat sooyoung sama minho berantem hahah..
    gimana kehidupan yoona setelah nikah sama siwon? sikap siwon kan gitu.
    terus gimana reaksi appa yoona eonni, kalau yoona eonni nikah sama anak orang yang paling dia benci *menurutku loh yah*?!

    Like

  13. wow,,ceritanya smakin mnarik.. jdi yoona mw dinikahin sama siwon..?? gmna reaksi yoona klw tau trnyata putra sulung tn.choi itu trnyata org yg dia tampar di club mlm..?? truss,, gmna jga reaksinya siwon??

    Like

Give me your LOVE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s